Menu

Coronavirus dan seks: Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pembatasan sosial

Perhatikan rekomendasi dari para ilmuwan. Tidak ada bukti bahwa mencium dengan masker – seperti di gambar- adalah sesuatu yang aman. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggunakan imaginasi Anda dan melakukan seks aman yang berbeda. (Street art in Bryne, Norway, by Pøbel. Photo by Daniel Tafjord/Unsplash)

Belakangan ini, topik yang dibahas di penjuru dunia adalah coronavirus.

Sehubungan dengan itu, sebagai peneliti yang mengkaji ilmu saraf terkait seks sekaligus pendukung gerakan seks positif, saya menulis artikel ini dengan dua tujuan: memberitahu pembaca bagaimana seks berkaitan dengan pandemi saat ini, dan mencegah penyebaran mitos dan informasi menyesatkan di tengah keadaan sosial saat ini.

Mengingat moda umum penularan virus-virus pernapasan, melakukan kegiatan seksual tertentu dapat berisiko menularkan virus tersebut. Namun, mengharapkan orang-orang agar tidak melakukan hubungan seksual selama masa isolasi adalah hal yang tidak realistis.

Saat ini, mengingat seks bukanlah topik diskusi prioritas, informasi menyesatkan dapat tersebar dengan mudah. Orang-orang dapat secara tidak sengaja memperparah penyebaran virus ini jika mereka tidak mengambil langkah-langkah pencegahan.

Jadi, setelah mencuci tangan kita dengan sabun dan air selama setidaknya 20 detik, mari kita lanjut pembahasan!


Read more: The sounds of orgasms: A study on the sex life of rats informs human sexual behaviour


Seks dan COVID-19

Dapatkah coronavirus tersebar melalui kegiatan seksual? Jawaban sederhananya: kita tidak tahu. Saat ini, masih belum ada penelitian, komunikasi resmi atau laporan ilmiah dari lembaga tepercaya yang dapat dijadikan rujukan.

Transmisi seksual tidak berarti terjangkit coronavirus dari pasangan Anda. Melalui kegiatan seperti berciuman, Anda bisa saja tertular virus dari pasangan Anda yang sudah terjangkit virus terlebih dulu – tapi itu bukan transmisi seksual. Istilah transmisi seksual bermakna transmisi melalui kontak seksual dan cairan yang dihasilkan selama hubungan tersebut termasuk seks vaginal, oral, dan anal.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, menuturkan kepada New York Times bahwa coronavirus biasanya tidak menyebar melalui hubungan seksual. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), ada tujuh jenis coronavirus, semuanya cenderung menyerang saluran pernapasan manusia.

Pakar penyakit menular lainnya mendukung pengamatan tersebut. Tapi coronavirus bisa saja tidak terbatas pada saluran pernapasan. Ada beberapa bukti bahwa virus tersebut telah ditemukan pada kotoran pasien yang terjangkit, walaupun CDC menduga risiko transmisi virusnya rendah.

Coronavirus jenis terbaru ini menyebar melalui tetesan-tetesan kecil yang dikeluarkan saat orang yang terjangkit menghembuskan napas, batuk atau bersin. Orang lain terjangkit karena menghirup tetesan tersebut, atau menyentuhnya pada suatu permukaan dan kemudian menyentuh wajah mereka. Dengan demikian, kemungkinan penyebaran virus melalui kegiatan seksual dengan orang yang terjangkit sangatlah tinggi.

Pandemi ini dapat bermakna menunda atau mengubah gagasan akan hubungan seksual. (Demorris Byrd/Unsplash)

Mengingat virusnya berada dalam produk yang kita keluarkan saat bernapas, dapat diasumsikan bahwa hampir semua kegiatan seksual akan menularkan virus tersebut karena jarak di antara pasangan yang berdekatan. Jadi ini bukanlah waktunya untuk melakukan hubungan seksual.

Direktur eksekutif koalisi pekerja industri porno Amerika, Michelle L. LeBlanc, mengimbau penghentian sukarela semua produksi hiburan dewasa selama pandemi ini untuk mencegah penyebaran virus.

Apakah isolasi berarti tidak ada seks sama sekali?

Perilaku seksual adalah sebuah aspek saat keragaman sangat dihargai. Meski secara riil tidak mungkin meminta orang-orang untuk tidak melakukan seks, mungkin kita dapat membantu dengan menyarankan eksperimen kecil dan sederhana?

Mengingat Anda dapat tertular dan tidak menunjukkan gejala sama sekali, cara yang paling ampuh untuk mengetahui apakah Anda atau pasangan Anda sudah tertular atau tidak adalah dengan tes. Jika Anda dan pasangan Anda tidak menunjukkan gejala dan sudah tinggal di rumah selama ini, melakukan seks kemungkinan tidak akan berisiko.

Kita dapat berperan dalam mengawal pandemi COVID-19 ini dengan melakukan beberapa langkah pencegahan. Kita juga dapat belajar untuk mencari kebahagiaan lain saat memerlukan seks. Berikut adalah beberapa saran umum yang harus diperhatikan agar penyebaran COVID-19 dapat diminimalkan.

Seks yang lebih aman

Pertama-tama, cucilah tangan Anda dengan benar selama minimal 20 detik dengan sabun dan air hangat sebelum dan sesudah Anda melakukan apa pun.

Bayangkan hal itu sebagai pemanasan baru Anda pada masa isolasi ini!

Bayangkan mencuci tangan sebagai pemanasan baru. (Claudio Schwarz/Unsplash)

Jika Anda mengira Anda memerlukan masker, kemungkinan besar Anda tidak memerlukannya. WHO hanya merekomendasikan pengunaan masker pada hal-hal tertentu. Ada bukti bahwa beberapa perempuan di Jepang menggunakan masker untuk meningkatkan daya tarik mereka dengan menyembunyikan wajah mereka yang tidak dirias. Namun, sebuah kajian terhadap praktik ini menunjukkan bahwa bagi beberapa orang, masker malah mengurangi daya tarik wajah.

Anda juga dapat semakin meminimalkan risiko penyebaran dengan menggunakan kondom, dam gigi (lateks penutup gigi), dan sarung tangan karet. Ini mungkin hal yang kurang Anda sukai, tapi hal tersebut perlu dilakukan untuk mendapatkan kepuasan di masa-masa seperti ini.

Keintiman yang tidak biasa

Hal-hal yang dilakukan untuk mendapatkan keintiman seksual sangat beragam macamnya. Untuk menggantikan berciuman dan hubungan seksual, cobalah pijat erotis, ngobrol romantis via online, bercumbu-cumbuan, masturbasi secara bersamaan, menonton atau membaca karya-karya erotisisme, melihat pasangan Anda memuaskan dirinya sendiri, dan sebagainya.

Anilingus atau seks anal-oral sama sekali tidak boleh dilakukan.

Anda dapat meminimalkan risiko dengan tidak melakukannya sama sekali tapi jika Anda sudah terlanjur, ingatlah dengan siapa, di mana, dan kapan Anda melakukannya. (Harris Ananiadis/Unsplash)

Melakukan hubungan seksual dalam bentuk apa pun mengandung risiko yang dapat dihindari, apalagi jika masih belum ada vaksin atau obat untuk menyembuhkan atau mencegah COVID-19.

Semua orang tahu kita menginginkan apa yang tidak bisa kita dapatkan. Menahan diri untuk meminimalkan risiko hanya akan membuat pengalaman tersebut menjadi semakin menyenangkan ketika pandemi ini berakhir.

Komunikasi

Anda perlu memahami pasangan Anda, terutama jika Anda merasa kurang sehat atau hanya sedang tidak ingin melakukan seks. Bagi Anda yang masih melajang, seperti usaha-usaha yang terhambat akibat adanya pembatasan, kesempatan untuk mencari pasangan pun juga sama.

Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berkencan dengan pasangan Tinder Anda atau menempatkan Anda pada risiko penularan dengan menemui pasangan baru Anda. Jika dia benar-benar menyukai Anda, dia akan menunggu. Jika Anda sudah terlanjur bertemu, ingat-ingatlah siapa saja yang sudah Anda temui, di mana, dan kapan. Tidak ada bukti bahwa berciuman dengan menggunakan masker adalah hal yang aman dilakukan.

Tetaplah mengikuti perkembangan terkini

COVID-19 bukanlah guyonan. Ribuan orang telah kehilangan nyawanya di berbagai belahan bumi, termasuk di Kanada. Kita semua dapat bertindak untuk mencegah penyebaran dan membuat mereka yang rentan tetap aman dari ancaman penularan.

Bacalah informasi yang terpercaya. Jangan panik. Tetaplah di dalam rumah untuk saat ini. Ketakutan, rumor, dan informasi menyesatkan menyebar dengan cepat. Yang terpenting, kita harus mempercayai saran-saran para ilmuwan.

Dengan langkah-langkah berbagai negara, ilmuwan, dan kita sendiri sebagai manusia yang tepat, serta kesabaran, kita akan mengalahkan pandemi ini dan berharap dapat kembali ke kehidupan biasa kita. Mungkin pada waktu itu nantinya, kita dapat kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan “kotor” kita.

Bram Adimas Wasito menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 113,500 academics and researchers from 3,700 institutions.

Register now