Coronavirus mingguan: selama dunia tetap di rumah, ke manakah pandemi ini mengarah?

Paris, dikosongkan. Ian Langsdon/EPA

Dari New York hingga Moskow, Johannesburg hingga Buenos Aires, coronavirus terus melanjutkan perjalanannya keliling dunia. Pada 5 April, hampir tiga bulan setelah Cina mengumumkan penemuan COVID-19, penyakit yang berhubungan dengan coronavirus, lebih dari 1,2 juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 66.000 orang telah meninggal.

Sementara epidemi tampaknya terkendali di Cina, Amerika Serikat kini menjadi negara dengan angka pasien tertinggi karena pandemi ini. Di Eropa, akan muncul hasil dari langkah-langkah pengendalian dan karantina wilayah: di Italia, angka-angka kasus jumlah infeksi COVID-19 menunjukkan perlambatan.

Di seluruh dunia, berbagai negara sedang mengisolasi diri mereka satu demi satu, mereka menutup perbatasan dan membatasi masyarakatnya semakin lebih ketat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik upaya ini. Dunia kemudian melambat dan dapat menahan napas. Tapi untuk berapa lama?

Ketika para peneliti di seluruh dunia melanjutkan untuk mengurai konsekuensi dari situasi yang belum pernah terjadi ini dan mencari solusi dari krisis, jaringan global The Conversation terus bekerja dengan mereka untuk menginformasikan kepada Anda sebaik mungkn.


Ini adalah pengumpulan informasi mingguan kami dari ahli tentang coronavirus.
The Conversation, sebuah kelompok nirlaba, bekerja dengan berbagai akademisi di seluruh jaringan globalnya. Bersama-sama kami menghasilkan analisis dan pandangan berbasis bukti. Artikel-artikel ini gratis untuk dibaca - tidak ada pembayaran apa pun - dan diterbitkan ulang. Tetap perbarui informasi dengan riset terbaru dengan membaca nawala gratis kami.


Nasib epidemi

Berapa lama kita harus hidup dengan COVID-19? Mungkinkah virus ini kembali? Sejarah dan pemodelan epidemi dapat membantu menemukan jawabannya.

  • Pemodelan epidemi besar pada masa lalu dapat menunjukkan bagaimana hal ini terungkap. Inilah yang dilakukan Adam Kleczkowski di Universitas Strathclyde Skotlandia dan Rowland Raymond Kao di Universitas Edinburgh.
Contoh kurva kemajuan penyakit untuk skenario jangka panjang setelah wabah awal: pemberantasan cepat. Jumlah kasus dan durasi epidemi hanya untuk tujuan ilustrasi.

Nasib pandemi jelas akan bergantung pada senjata yang kita miliki untuk melawan virus corona.

Pandemi virus corona tidak boleh dibiarkan dan memperparah penyakit mematikan lainnya.

  • Tuberkulosis (TBC) dan AIDS. Emily Wong di Universitas KwaZulu-Natal Afrika Selatan memfokuskan perhatian pada fakta bahwa di Afrika Selatan, COVID-19 menambah epidemi yang telah ada. Para ahli khawatir pasien-pasien ini lebih berisiko terserang penyakit parah.

Penyakit keanekaragaman hayati

Seperti banyak penyakit menular yang menyerang manusia, pandemi COVID-19 adalah zoonosis: virus yang berasal dari hewan.

  • Kelelawar? - Sekali lagi, virus baru ini mungkin berasal dari kelelawar. Eric Leroy di Institut de Recherche pour le Développement Prancis menjelaskan mengapa mamalia ini menjadi “tersangka umum” untuk penularan virus ke manusia (dalam bahasa Prancis).

  • Tapi itu tidak adil untuk menyalahkan mereka, karena mereka memberikan kita kontribusi penting dan harus dilindungi, kata Peter Algona di Universitas California, Santa Barbara.

Ada lebih dari 1.200 spesies yang berbeda dari kelelawar. mmariomm/Flickr, CC BY-NC-SA

Daripada menyalahkan mamalia bersayap ini, kita lebih baik mempertanyakan bagaimana hubungan kita dengan alam dan keanekaragaman hayati.

  • Gejala krisis lingkungan global? Bisa jadi, tulis Philppe Grandcolas dan Jen-Lou Justine di Muséum national d’histoire naturelle (MNHN) (dalam bahasa Prancis).

  • “Ini bukan tragedi bagi semua orang. Beberapa tetangga kami membaik karena kami telah pensiun dan tinggal di apartemen kami”, tulis Jérôme Sueur di MNHN. Lebih sedikit aktivitas manusia berarti lebih sedikit kebisingan, yang sebenarnya merupakan hal yang baik untuk burung di kota-kota kita, khususnya (dalam bahasa Prancis).

Karantina meninggalkan kelompok rentan

Semakin banyak dari kita yang sedang tertahan di rumah dengan harapan membatasi penyebaran virus dan menghilangkan ketegangan yang tak tertahankan pada sistem kesehatan. Tapi tidak semua orang sama dalam hal karantina. Beberapa kelompok memiliki risiko tertentu.

Di New York City, sekolah, bisnis, dan tempat kerja ditutup atau membatasi jam operasi karena pejabat kesehatan berusaha membatasi peningkatan jumlah infeksi COVID-19. Spencer Platt/AFP

Selain risiko dari isolasi dan karantina, kepala negara juga menghadapi risiko politik: setiap langkah mereka dipelototi dan dikomentari.

  • Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa tidak terkecuali, Richard Calland di Universitas Cape Town menjelaskannya, meski sejauh ini tindakan isolasi pemerintahnya tampak memadai, tulis Philip Machanick di Universitas Rhodes.

  • Sebaliknya, ketika epidemi baru saja memasuki fase eksponensial di Indonesia, Iqbal Elyazar di Eijkman-Oxford Clinical Research Unit dan koleganya mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah lebih keras untuk menghindari bencana.

  • Di Prancis, Catherine Le Bris di Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne bertanya-tanya bagaimana cara menyesuaikan situasi darurat, batasan kebebasan dan aturan hukum. Dia berpendapat bahwa keseimbangannya terletak pada saling menghormati hak asasi manusia (dalam bahasa Prancis).

  • Terakhir, Michael Baker di Universitas Otago Selandia Baru kembali kepada poin penting dari semua upaya ini: untuk mengendalikan pandemi. Dia adalah profesor kesehatan masyarakat dan sangat senang bahwa penutupan di berbagai tempat sedang terjadi.

Mengungkap ketidaksetaraan

Pandemi saat ini juga memperburuk ketidaksetaraan.

Tapi krisis saat ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mencari cara mengurangi ketidaksetaraan dan untuk menguji pendekatan baru, terutama dari segi ekonomi.

  • “Uang helikopter (helicopter money)”, sebuah teori yang diciptakan oleh ekonom Milton Friedman pada 1970-an dapat digunakan untuk mengurangi ketimpangan dengan mendistribusikan uang secara langsung kepada penduduk, tulisan Baptiste Massenot di TBS Business School (dalam bahasa Prancis).

Dan pada akhirnya, sebagai sebuah penghormatan kepada “para pahlawan berbaju putih”, The Conversation telah menerbitkan serangkaian kesaksian dari para dokter dan peneliti yang bekerja di garis depan pandemi - dan memberikan saran tentang komunikasi yang seharusnya kita lakukan dengan orang-orang yang kita cintai.


Get the latest news and advice on COVID-19, direct from the experts in your inbox. Join hundreds of thousands who trust experts by subscribing to our newsletter.

This article was originally published in French

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 106,400 academics and researchers from 3,431 institutions.

Register now