katherinekycheng via Shutterstock

COVID-19: cara media meliput epidemi justru memancing rasa takut dan panik

Penyakit menular baru memang menakutkan karena tidak dikenal dan tidak dapat diprediksi. Wabah penyakit COVID-19 yang sedang berlangsung telah menyita perhatian media. Laporan media yang memberita tahu kita tentang ketidakpastian dalam menghadapi epidemi semacam itu dapat pula dengan mudah menumbuhkan rasa takut.

Selama sekitar satu dekade, saya telah mempelajari peran emosi dalam jurnalisme, termasuk dalam liputan bencana dan krisis. Liputan media sangat penting untuk kita bahas bersama; liputan media memainkan peran kunci dalam mengatur emosi kita, termasuk rasa takut.

Di satu sisi, rasa takut adalah emosi yang sering kita alami sebagai individu. Di sisi lain, rasa takut juga bisa berupa emosi bersama dan sosial, yang bersirkulasi melalui kelompok dan komunitas serta membentuk reaksi kita terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Seperti emosi lain, rasa takut itu menular dan dapat menyebar dengan cepat.

Liputan media menetapkan agenda debat di publik. Meski berita tidak selalu memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, tapi berita memberi tahu kita untuk berpikir mengenai apa.

Oleh karena itu, berita-berita menjadi acuan masalah apa saja yang patut kita perhatikan.

Penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa ketika isu-isu diliput media secara ekstensif dan menonjol dalam agenda berita, mereka juga akan dilihat lebih penting oleh masyarakat.

Wabah saat ini jauh lebih menonjol dalam liputan media daripada epidemi baru-baru ini, termasuk Ebola. Misalnya, penelitian majalah Time menunjukkan bahwa ada 23 kali lebih banyak artikel dalam berita cetak berbahasa Inggris yang meliput wabah COVID-19 pada bulan pertama dibandingkan dengan periode waktu yang sama untuk epidemi Ebola pada 2018.

‘Virus pembunuh’

Penelitian saya sendiri menunjukkan bahwa rasa takut telah memainkan peran yang sangat vital dalam liputan wabah virus ini.

Sejak laporan pertama mulai beredar tentang penyakit misteri baru pada 12 Januari, dan hingga 13 Februari 2020, saya telah melacak pelaporan di surat kabar berbahasa Inggris utama di seluruh dunia, menggunakan basis data LexisNexis di Inggris Raya.

Upaya ini termasuk hampir 100 surat kabar bersirkulasi tinggi dari seluruh dunia, yang secara kolektif menerbitkan 9.837 cerita tentang wabah tersebut. Dari jumlah tersebut, 1.066 artikel menyebutkan “ketakutan” atau kata-kata yang terkait, termasuk “takut”.

Artikel-artikel seperti itu sering menggunakan bahasa menakutkan lainnya – misalnya, 50 artikel menggunakan frase “virus pembunuh”. Satu artikel di harian The Telegraph termasuk contoh paling umum penggunaan bahasa yang membangkitkan rasa takut ini, dalam menggambarkan adegan di lapangan di Wuhan yang dibagikan di media sosial:

Pasien yang memakai masker pingsan di jalan. Ratusan warga yang ketakutan berjejer di pingsan di jalan. Ratusan warga yang ketakutan berbaris berdempetan, berisiko menulari satu sama lain, di koridor rumah sakit yang sempit ketika mereka menunggu untuk dirawat oleh dokter dengan pakaian pelindung. Seorang tenaga medis yang berteriak penuh kekalutan.

Surat kabar tabloid, seperti The Sun dan The Daily Mail, lebih cenderung menggunakan bahasa yang memicu rasa takut. Sebagai contoh, blog siaran langsung milik The Sun secara rutin menyebut virus tersebut sebagai “penyakit mematikan”.

Banyak tulisan menawarkan sudut pandang lokal dengan melaporkan ketakutan di area lokal yang terkena dampak wabah. Di Inggris, ini menyebabkan fokus khusus pada Brighton, tempat beberapa kasus telah dilaporkan. Misalnya, sebuah cerita di The Times menyebut:

Percakapan tentang cairan pembersih tangan antibakteri biasanya tidak ada dalam obrolan di pub saat makan siang. Namun, kecemasan terhadap virus ini membuat warga setempat di The Grenadier di Hove kemarin mengubah rutinitas mencuci tangan mereka.

Laporan lain melokalisasi cerita dengan membahas dampaknya pada bisnis milik orang Cina. Manchester Evening News, misalnya, melaporkan bahwa: “Ketakutan akan virus corona menghantam keras bisnis, dengan beberapa melaporkan penurunan kebiasaan sebesar 50 persen sejak wabah. Dan orang-orang Cina keturunan Mancun melaporkan lebih banyak mengalami pelecehan ras.

Sejumlah cerita, sebaliknya, berusaha untuk mengatasi ketakutan dan memberikan kepastian. Misalnya, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsein Loong, dikutip secara luas dalam peringatan terhadap kepanikan:

Ketakutan dapat membuat kita panik, atau melakukan hal-hal yang memperburuk keadaan, seperti menyebarkan desas-desus secara daring, menimbun masker wajah atau makanan, atau menyalahkan kelompok tertentu untuk wabah itu.

Ketakutan bisa jadi "penyakit”

Penelitian tentang liputan wabah penyakit sebelumnya menunjukkan penekanan yang sama pada rasa takut. Dalam kasus epidemi SARS pada 2003, sebuah studi oleh sejarawan, Patrick Wallis, dan ahli bahasa, Brigitte Nerlich, menemukan bahwa “metafora konseptual utama yang digunakan adalah SARS sebagai pembunuh”.

Cina menuntut permintaan maaf setelah sebuah surat kabar Denmark menggunakan bendera Cina dalam sebuah kartun tentang penyebaran virus corona baru. EPA-EFE/Ida Marie Odgaard

Sejalan dengan itu, ahli media, Peter Vasterman dan Bel Ruigrok, meneliti liputan epidemi H1N1 di Belanda, dan menemukan bahwa terdapat nada “yang mengkhawatirkan”. Seperti halnya COVID-19, wabah historis ini ditandai oleh ketidakpastian, menumbuhkan rasa takut, dan panik.

Untuk memahami pengamatan ini, penting untuk melihat perbandingan dengan liputan influenza musiman, yang diperkirakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia telah membunuh 290.000 hingga 650.000 orang di seluruh dunia setiap tahun.

Sejak 12 Januari 2020, surat kabar dunia telah menerbitkan hanya 488 artikel tentang influenza musiman tanpa menyebutkan COVID-19.

Berbeda sekali dengan liputan soal COVID-19, tidak sampai 10% artikel tentang flu (37 dari 488) yang menyebutkan ketakutan atau frasa serupa.

Ketakutan yang menonjol sebagai tema dalam laporan COVID-19 menunjukkan bahwa banyak liputan wabah lebih merupakan cerminan dari ketakutan publik ketimbang informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam hal penyebaran virus.

Hal ini telah disampaikan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Franklin D Roosevelet, walau mungkin agak berlebihan jika dikaitkan dengan COVID-19, lewat kutipan dia yang terkenal: “Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.”

Namun, pada era yang penuh dengan informasi yang keliru, berita palsu dan teori konspirasi, ada baiknya tetap waspada terhadap bahaya emosi menular ini dalam menghadapi ketidakpastian.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 100,300 academics and researchers from 3,206 institutions.

Register now