Dampak coronavirus pada pariwisata Indonesia dan mitigasinya

Terminal 3 bandara Soekarno Hatta. raymondloupatty/flickr, CC BY-NC-ND

Coronavirus yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, Cina telah menewaskan lebih dari 600 orang dan membuat ketakutan global.

Untuk mencegah penyebaran virus lebih luas, pemerintah-pemerintah di dunia melakukan pembatasan segala bentuk kontak berhubungan langsung dengan Cina. Termasuk Pemerintah Indonesia.

Langkah pembatasan tersebut berdampak paling besar terhadap industri pariwisata Indonesia.

Menteri Pariwisata Wishnutama memperkirakan kerugian industri pariwasata Indonesia akan mencapai US$ 4 miliar atau Rp 54,8 triliun (dalam kurs Rp 13.722 per dolar AS).

Kursi kosong di sebuah pantai di Bali. artembali/flickr, CC BY

akibat coronavirus.

Hal ini dikarenakan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal Cina adalah salah satu penyumbang terbesar ke pariwisata Indonesia.

Tren wisman Cina

Jumlah wisman dari Cina menempati peringkat kedua terbesar dari total jumlah wisman yang datang ke Indonesia pada tahun 2019 kemarin. Jumlahnya mencapai 2,07 juta kunjungan atau sekitar 12.86% dari total kunjungan wisman. Jika dirata-rata, jumlah wisman Cina mencapai 175.000 orang per bulannya.

Data global menunjukkan setiap turis dari Cina mengeluarkan setidaknya US$1,139 atau setara Rp15,9 juta per kunjungan mereka. Ini tentu merupakan angka yang bagus untuk menambah jumlah pundi-pundi devisa bagi Indonesia.. Jumlahnya sedikit lebih kurang dari pengeluaran turis dari Vietnam, Filipina, dan Malaysia yang biasanya menghabis $1,220 per kunjungan ke Indonesia.

Kontribusi penambahan devisa dari turis Cina akan menurun karena pemerintah Indonesia telah menghentikan sementara izin seluruh maskapai yang menuju atau pun dari Cina. setelah wabah coronavirus merebak. Tidak itu saja, pemerintah Indonesia mencabut sementara kebijakan bebas visa kunjungan dan visa on arrival bagi seluruh warga negara Cina. Larangan tersebut juga berlaku untuk warga negara asing yang melakukan perjalanan ke Cina dalam 14 hari terakhir.

Sementara sebaliknya, pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan pelarangan perjalanan ke luar negeri untuk warga negaranya termasuk ke Indonesia untuk mencegah penyebaran virus lebih luas.

Pengusaha mengeluh

Beberapa keluhan pun sudah banyak disampaikan oleh para pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata.

Salah satunya disampaikan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Mereka menyebut terjadinya penurunan kunjungan turis Cina sudah terasa di Manado dan Bali. Di Manado, di hari biasa total kunjungan wisatawan asal ‘Negeri Panda’ itu bisa mencapai 70%, saat ini menurun hanya di kisaran 30%.

Sementara di Bali, pada saat musim bukan liburan seperti saat ini, pengusaha hotel bintang tiga biasanya masih mendapatkan kunjungan wisawatan hingga 40%, tetapi kunjungan wisatawan saat ini tidak melebihi 30%.

Sejumlah hotel terkena dampak tersebut pun kini telah mengurangi pekerja harian lantaran sepi kunjungan

Langkah-langkah mitigasi

Tahun lalu, jumlah wisman naik 1,88% menjadi 16,11 juta pengunjung.

Wabah coronavirus dipastikan akan mengguncang industri pariwisata Indonesia karena jumlah wisman Cina yang cukup signifikan.

Oleh karena itu, untuk mengatasi lemahnya permintaan wisman dari luar, pemerintah bisa menggenjot pariwisata dalam negeri yang potensinya lumayan.

Jumlah kunjungan wisatawan domestik pada 2018 tumbuh 12,37% atau sebanyak 303,4 juta kali dibandingkan pada tahun 2017 yang mencapai 270,82 juta. Total pengeluaran wisatawan domestik pada tahun 2018 juga naik 17,89% menjadi Rp 291,02 triliun.

Kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik, khususnya pendapatan per kapita masyarakat, menjadi alasan mengapa kenaikan jumlah kunjungan dan pengeluaran turis domestik bisa terjadi.

Selain itu, semakin mudahnya akses ke daerah-daerah tujuan wisata dengan kehadiran jalan tol dan proyek infrastruktur lainnya semakin mendorong minat para wisatawan lokal untuk berwisata.

Belum lagi faktor kemajuan teknologi yang menambah daya tarik tempat wisata untuk dikunjungi.

Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam industri pariwisata harus jeli melihat potensi pariwisata dalam negeri yang begitu besar. Para pemangku kepentingan industri pariwisata baik pemerintah maupun pihak swasta perlu membuat berbagai insentif untuk mendorong permintaan pariwisata dalam negeri di tengah melemahnya permintaan pariwisata internasional.

Salah satu insentif yang bisa dibuat swasta adalah membuat penawaran diskon pesawat atau hotel dan akomodasi di tempat wisata. Dengan adanya insentif harga yang lebih murah maka para wisatawan lokal akan semakin tertarik untuk berwisata di dalam negeri.

Persoalan coronavirus ini memang menjadi salah satu pembuka tahun yang kurang baik. Kendati demikian, kita harus segara mencegahnya dengan sigap dan cermat untuk menangkis segala kerugian yang akan timbul.

Pemerintah dan masyarakat perlu membangun kerja sama yang terintegrasi untuk memberikan perlindungan yang masif terhadap sektor pariwisata yang rentan sekali terhadap gejolak eksternal.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 99,900 academics and researchers from 3,202 institutions.

Register now