Dapatkah pariwisata mengurangi kemiskinan global?

Berapa banyak yang ia bisa nikmati? Rachele Caretti/flickr, CC BY-SA

Bukankah hebat jika sesuatu yang sederhana dan menyenangkan seperti berwisata ke luar negeri dapat membantu mengakhiri suatu hal yang menindas dan sudah ada sejak lama seperti kemiskinan global? Apalagi mengingat industri pariwisata terus berkembang, dengan tingkat pertumbuhan setidaknya 4% setiap tahunnya sejak dasawarsa 1960-an (tapi sempat ada perlambatan sejenak pada 2009, menurut Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO).

Pada 2016, lebih dari 1,3 miliar wisatawan internasional menghabiskan sekitar US$1,4 triliun. Itu setara dengan produk domestik bruto Australia disebarkan di penjuru dunia.

PBB sendiri telah mendeklarasikan tahun 2017 sebagai Tahun Pariwisata Berkesinambungan untuk Pembangunan Internasional, mempromosikan peran berwisata ke luar negeri dalam mengurangi kemiskinan. Tapi seberapa besar perputaran uang lewat pariwisata global menjangkau negara-negara miskin?

Banyaknya uang di sektor pariwisata

Peneliti dari Griffith University dan University of Surrey menciptakan sebuah alat untuk mencari tahu hal tersebut bernama – Global Sustainable Tourism Dashboard. Sedikit bocoran, hasilnya tidak terlalu bagus.

Dasbor tersebut diluncurkan pada Januari 2017 untuk mengukur dampak dan kontribusi pariwisata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2015-2030 PBB. Beberapa di antara indikator terkait kesinambungan dalam dasbor ini turut menunjukkan apakah pariwisata benar-benar membagikan kekayaan dengan melacak berapa banyak devisa yang didapat oleh negara tertinggal dan negara-negara kepulauan berkembang.

Sekitar 14% penduduk dunia tinggal di negara-negara terbelakang (yang di antaranya terdiri atas Kamboja dan Senegal), dan negara-negara berkembang pulau kecil, seperti Vanuatu dan Republik Dominika.

Pada 2016 negara-negara tersebut hanya mendapat 5,6% dari perputaran uang pariwisata internasional. Jika kita mengeluarkan Singapura dari daftar, jatah yang didapat negara-negara tersebut menyusut menjadi 4,4% - hanya US$62 miliar dari US$1,4 triliun yang dibelanjakan di seluruh dunia lewat pariwisata pada 2016.

Secara umum, dasbor tersebut menunjukkan bahwa pariwisata global adalah pertukaran ekonomi di antara negara-negara kaya. Warga negara dari sepuluh negara, yang mayoritas berada di Eropa dan Amerika Utara, melakukan sekitar separuh perjalanan internasional. Negara Cina, yang pada tahun 1995 bukan anggota dari klub ini, baru bergabung ke dalamnya pada 2000.

Uang tidak bisa membeli segalanya

Meski proporsinya tidak besar, jumlah uang yang dikeluarkan para wisatawan di negara-negara berkembang tersebut masih cukup fantastis - US$79 miliar pada 2016. Itu setara dengan gabungan anggaran bantuan asing Amerika Serikat, Jerman, Inggris Raya, dan Prancis, menurut data World Economic Forum.

Namun uang bukanlah satu-satunya alat dalam mengentas kan kemiskinan. Jika demikian, Thailand, tujuan wisata terpopuler keempat di dunia, seharusnya jadi kaya (Thailand meraup US$54 miliar dari pariwisata internasional pada 2016).

Apakah suntikan dana bisa menjadi pembangunan bergantung pada faktor-faktor yang sudah diteliti secara seksama. Contohnya negara-negara terbelakang kekurangan barang dan jasa penting yang dibutuhkan wisatawan, seperti bandara, akomodasi, tempat wisata, pemandu wisata, dan jaringan telekomunikasi.

Para ekonom menyebutnya sebagai “kebocoran”. Ketika suatu negara harus mengimpor segalanya, mulai dari generator dan panel surya hingga jenis makanan tertentu, ia gagal menggerakkan perekonomian lokal karena cukup banyak uang yang diterimanya dari pariwisata harus dikeluarkan untuk membeli barang-barang tadi.

Di negara-negara berkembang, tingkat kebocoran bervariasi dari 40% di India hingga 80% di Mauritius, menurut Lea Lange yang menulis sebuah makalah pada 2011 untuk lembaga bantuan pembangunan Jerman GIZ, bergantung pada faktor-faktor yang digunakan dalam analisis.

Salah satu penyebab kebocoran ialah investor di bidang pariwisata di negara-negara tersebut biasanya adalah orang asing, sehingga keuntungan yang didapat dibawa keluar dari negara yang bersangkutan. Kapal pesiar adalah satu pelaku terberatnya. Kapal-kapal tersebut bisa saja berlabuh di belasan negara-negara berkembang pulau kecil, tapi laba yang didapatnya diberikan kepada kantor pusat, yang biasanya berada di negara-negara Barat.

Jangan sampai uangnya dibawa keluar

Pemerintah negara-negara tersebut dapat mengurangi kebocoran dengan berpikir secara strategis terkait proses pembelian, menekankan pada pengembangan bisnis lokal, memadukan rantai pasok, dan meningkatkan anggaran pendidikan dan pelatihan untuk mempersiapkan pekerja di sektor pariwisata.

Penyesuaian-penyesuaian tersebut berhasil membantu Samoa, yang salah satu pilar utama ekonominya adalah pariwisata, membangun portofolio yang lebih beragam dan menjanjikan. Pendapatan dari pariwisata naik dari US$73 juta pada 2005 menjadi US$141 juta pada 2015 (pada harga saat ini), dan menyumbang 20% dari produk domestik bruto negara tersebut. Samoa dikunjungi sekitar 134.000 wisatawan mancanegara setiap tahunnya.

Salah satu inovasi yang dibuat secara bersama-sama oleh donatur, pemerintah, dan kelompok masyarakat adalah memperbarui konsep fales - gubuk pantai sederhana, seringkali berudara terbuka yang biasanya digunakan wisatawan backpacker - untuk memikat wisatawan kelas atas. Inovasi ini berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dari pariwisata.

Dari 2.000 kamar hotel di Samoa, kini sekitar 340 di antaranya berupa fales, yang biasanya dimiliki dan dijalankan oleh keluarga-keluarga setempat. Otoritas Pariwisata Samoa membantu mereka pada aspek perencanaan bisnis, pemasaran, dan pengiriman layanan.

Pariwisata Samoa juga mendapat insentif melalui kontrak dengan Body Shop pada 2009 untuk membuat dan menjual produk kecantikan berbahan kelapa. Dengan terjaminnya kesinambungan dan skala usaha oleh Inisiatif Perempuan Samoa dalam Pengembangan Bisnis, kontrak ini sangat mungkin menciptakan sempalan pariwisata dalam negeri yang positif seperti ketangguhan perempuan Samoa dalam berwirausaha, kepercayaan bisnis, dan peningkatan citra Samoa dengan konotasi mewah.

Pada 2014, Samoa tidak lagi termasuk dalam daftar negara terbelakang.

Bagaimana devisa dari pariwisata berdampak bagi masyarakat setempat juga memerlukan komitmen perusahaan penanaman modal asing, terutama grup-grup hotel, untuk bermitra dengan dan berinvestasi pada warga di sekitarnya.

Global Sustainable Tourism Dashboard memberikan wawasan tentang bagaimana sektor ini berkontribusi terhadap tujuan keberlanjutan utama. The Tourism Dashboard, Author provided

Hotel The Marriott di Port au Prince adalah contoh bagus karena tidak hanya ia mendirikan toko pada 2015 di Haiti (salah satu negara paling terbelakang di dunia) yang masih hancur pasca-gempa tapi juga atas inisiatif mereka untuk mempekerjakan warga setempat, memberi mereka upah yang baik, dan berfokus pada pengembangan profesional karyawannya. Hal ini terbukti strategi bisnis yang baik. Karyawan yang bahagia membuat hotel tersebut memiliki tingkat pergantian karyawan yang sangat rendah.

Agar pariwisata berhasil

Ekuador, Fiji, dan Afrika Selatan adalah beberapa negara yang berhasil membuktikan bahwa pariwisata bisa berdampak pada pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Agen perjalanan asal Inggris Responsible Travel, yang mengadakan Penghargaan Pariwisata Bertanggung Jawab Dunia setiap tahunnya, menampilkan lebih banyak contoh bagus lagi.

Organisasi internasional seperti PBB dapat membantu negara-negara dalam mencapai keseimbangan ini, misalnya dengan mendanai konektivitas pengangkutan dan memfasilitasi investasi infrastruktur yang paham akan potensi pemanfaatannya untuk pariwisata.

Pengembangan kapasitas di kalangan pemangku kepentingan dalam negeri juga penting. Keuntungan dari pariwisata baru dapat dibagi secara adil, biayanya dikelola secara efektif, dan pertumbuhannya berkesinambungan jika kantor-kantor pariwisata, hotel-hotel mewah, dan taman-taman wisata ekologis mempekerjakan dan dijalankan oleh warga setempat yang sudah terlatih dengan baik.

Individu juga memiliki peran dengan mengedepankan pilihan perjalanan yang etis. Wisatawan yang mengunjungi negara berkembang dapat memaksimalkan manfaat yang diberikannya kepada masyarakat yang dikunjunginya dengan “going local” dalam berbagai aspek mulai dari makanan, jasa wisata hingga pembelian kerajinan untuk cendera mata.

Memilih perusahaan yang tersertifikasi “bertanggung jawab” dan cukup dengan menanyakan hal-hal yang tepat juga dapat mengirim pesan bahwa wisatawan peduli terhadap dampak dari perjalanan mereka.

Pariwisata tidak akan mengakhiri kemiskinan. Namun jika pemerintah, industri, dan konsumen mulai peduli, mereka bisa membuat perubahan.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 109,200 academics and researchers from 3,580 institutions.

Register now