Demi anak-anak, kita perlu belajar matematika

Orang tua juga bertanggung jawab dalam kemampuan anak-anak dalam matematika. www.shutterstock.com

Demi anak-anak, kita perlu belajar matematika

Matematika adalah penyebab sakit kepala bagi guru-guru di seluruh Kanada, Australia, dan banyak negara lain. Guru-guru di Kanada dan Australia tidak merasa kompeten atau cukup percaya diri dalam keterampilan matematika, dan sejujurnya, mereka adalah orang-orang pertama yang mengakuinya.

Sebagai peneliti, pendidik dan penulis yang telah memberikan konsultasi mengenai praktik terbaik untuk meningkatkan pembelajaran dan prestasi, kami telah mendapatkan berbagai kesempatan untuk mempelajari tren, hambatan serta kemajuan dalam pendidikan matematika.

Kami telah mendengarkan kisah para guru di Ontario, Kanada dan Australia, dan kami telah mempertimbangkan berbagai cara kolaborasi terbaik untuk mengembangkan rasa cinta siswa terhadap proses belajar.

Kami melihat bagaimana usaha untuk meningkatkan keterampilan bermatematika dihalangi oleh rasa takut yang tidak jelas. Beberapa orang lain bersemangat di awal tapi tidak lama kemudian tampak kehilangan semangatnya.

Mari kita mulai dengan kabar buruk terlebih dahulu.

‘Jauh lebih efektif?’

Untuk menyikapi penurunan nilai matematika siswa dari tahun ke tahun, kota Ontario telah mengutamakan prestasi matematika anak-anak didiknya.

Suatu prinsip mendasar dari kurikulum matematika yang diterapkan di kota Ontario adalah “menyelidiki berbagai ide dan konsep melalui pemecahan masalah.” Laporan bulan September dari sebuah lembaga riset Kanada, The Institute for Competitiveness and Prosperity, menemukan bahwa mengajar matematika menggunakan metode inquiry-based learning –suatu pendekatan yang bergantung pada inisiatif siswa untuk menyelidiki dan mencari jawaban atas masalah secara mandiri–justru dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada cara pengajaran yang lain

Namun banyak orang tua dan pendidik yang masih bersikap skeptis bahkan memusuhi strategi pengajaran matematika yang tidak konvensional.

Di Australia, para kritikus metode tersebut mendorong terjadinya perubahan dalam kurikulum. Dalam artikel Sydney Morning Herald, seorang peneliti dari Centre for Independent Studies di Australia, mengungkapkan bahwa “metode pengajaran yang lebih eksplisit dapat memperbaiki kemampuan matematika siswa.” Bisa dibayangkan berapa banyak orang tua yang menyetujui temuan tersebut.

Namun, tidak bisa semudah itu kita menyelesaikan permasalahan dengan mencoba “kembali ke akarnya,” kita bisa berupaya menghidupkan kembali beberapa ide cemerlang yang telah ada mengenai pendidikan matematika.

Butuh perhatian lebih

Sejak awal tahun 2000-an, pemerintah Ontario berjanji akan memperbaiki kemampuan dan minat baca serta matematika para anak didiknya. Pemerintah menanamkan sumber daya yang tidak sedikit dan mendirikan Sekretariat Kemampuan Membaca dan Berhitung (Literacy and Numeracy Secretariat) sebagai ujung tombak upaya tersebut.

Para kepala sekolah membuat program peningkatan minat baca sebagai prioritas utama. Para ahli bekerja sama dengan guru dalam mendemonstrasikan berbagai strategi pengajaran efektif dan memberikan saran dalam penerapannya kepada murid di ruang kelas.

Kita dapat membangkitkan kembali ide-ide bagus mengenai pendidikan matematika, salah satunya adalah memberi kepercayaan diri kepada para guru matematika tentang betapa kompetennya mereka dalam mengajar. /> Hasilnya, kemajuan dalam kemampuan dan minat baca siswa di Ontario sangat mengagumkan dan sekarang menjadi <a href= www.shutterstock.com
dambaan seluruh dunia.

Namun, seperti halnya di beberapa negara lain, upaya peningkatan angka melek huruf dan minat baca di Ontario telah menyerap semua tenaga yang ada sehingga animo terhadap peningkatan kemampuan matematika menjadi sangat kurang. Upaya memajukan kemampuan membaca dan berhitung pada saat yang bersamaan memang hampir tidak mungkin. Karena tujuan yang sangat ambisius ini, salah satu aspek tersebut bisa tertinggal atau justru menjadi beban bagi para pendidik.

Sudah saatnya reformasi pendidikan matematika mendapatkan perlakuan yang sama dengan upaya peningkatan kemampuan membaca. Namun, reformasi pendidikan matematika harus menghadapi suatu tantangan yang berbeda sebab hampir semua guru sekolah dasar dan siswa di berbagai negara, termasuk Kanada dan Australia, sangat menyukai membaca, menulis, dan buku-buku.

Upaya perbaikan kemampuan dan minat baca memiliki banyak aspek yang bisa dibangun. Sayangnya, reformasi pendidikan matematika tidak memiliki hal yang sama.

Dalam beberapa wawancara yang kami lakukan dengan lebih dari 200 pendidik Ontario, para guru mengakui bahwa:

“Saya bukan orang yang menyukai matematika.”

Seorang kepala sekolah bahkan mengungkapkan bahwa semua guru yang ada “adalah pembaca dan penulis yang menakjubkan.” Namun dia meragukan,

“Apakah kita memiliki hasrat yang sama untuk matematika?”

Takut akan matematika atau gaji lebih tinggi

Jumlah guru yang merasa kompeten dan percaya diri untuk mengajar matematika lebih sedikit dibanding dengan jumlah guru yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan minat baca. Banyak sekolah juga tidak memiliki akses untuk mendapatkan guru-guru tersebut.

Beberapa solusi paling mutakhir–seperti menambah alokasi waktu untuk pelatihan pendidikan matematika dasar, atau mengadakan hari pengembangan karier untuk memperbaiki kemampuan mengajar matematika–sebenarnya tidak akan memperburuk kondisi yang ada. Namun, kita harus mengatasi masalah ketidakpercayaan diri para guru-guru tersebut terkait kompetensi mereka dalam mengajar matematika.

Contohnya, di Ontario, 80% guru sekolah dasar tidak mendapatkan kualifikasi mengajar matematika dari universitas. Hal ini berbeda dari Finlandia, salah satu negara dengan kemampuan matematika terbaik di dunia, sekitar setengah dari pengajar sekolah dasar telah mempelajari matematika atau sains (dilengkapi dengan metode pengajaran yang efektif) saat menempuh pendidikan tinggi di universitas.

Selain itu, di Singapura, negara yang kemampuan matematika para siswanya berada pada peringkat pertama di dunia, pengajar sekolah dasar menerima gaji yang sama dengan insinyur saat mereka memulai karier mereka. Ini berarti bahwa para siswa yang pandai dalam matematika dapat memulai karier sebagai guru berdasarkan misi dan tujuan hidup pribadi mereka tanpa harus dipengaruhi perbedaan gaji antar profesi. Kanada dan Australia harus berpikir keras untuk menarik lebih banyak orang dengan latar belakang pendidikan matematika dan sains untuk mengajar sekolah dasar.

Bantuan untuk guru dan orang tua

Perbaikan kualitas pengajaran matematika harus dibangun melalui kerja sama antara para guru yang berpengalaman dengan guru yang memiliki rasa percaya diri yang rendah. Selain fokus terhadap metode pengajaran, pelatihan yang diberikan kepada guru juga harus memberikan perhatian pada perasaan sang guru terhadap bahan ajarnya, yaitu matematika.

Pelatihan intensif berpengaruh dalam kemajuan peningkatan kemampuan dan minat baca siswa. Karena modal keahlian matematika lebih sedikit, para guru membutuhkan lebih banyak tenaga dan harus banyak akal saat berada di dalam kelas.

Namun, para orang tua juga bertanggung jawab atas perkembangan kemampuan matematika anaknya. Sayangnya, dua pertiga dari orang tua di Ontario yang berpartisipasi dalam survei mengakui bahwa mereka sama sekali tidak tahu bagaimana mereka bisa membantu anak-anaknya yang berada di sekolah dasar mengerjakan soal matematika.

Kondisi ini dapat diperbaiki dengan mendukung gerakan sekolah yang melibatkan keluarga yang dikenal dengan sebutan ‘keluarga matematika’. Gerakan tersebut membantu orang tua untuk berinteraksi dengan anak mengenai angka dan bentuk.

Selain peningkatan kemampuan dan minat baca anak, kita juga harus memberikan prioritas yang sama pada keterampilan matematika. Kita harus membuat para guru sekolah dasar merasa percaya diri dan kompeten untuk mengajar matematika.

Dengan menghindari solusi yang kurang komprehensif, pada akhirnya, alasan seperti “Saya bukan orang yang menyukai matematika” bisa jadi tinggal menjadi ungkapan usang.


Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Rizkina Aliya.

This article was originally published in English