Dokter Terawan, cuci otak, dan kontroversi uji coba medis langsung pada manusia

Dokter memeriksa scan MRI pada pasien. Sfam_photo/Shutterstock

Dokter Terawan, cuci otak, dan kontroversi uji coba medis langsung pada manusia

Keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia memecat sementara Mayor Jenderal TNI dokter Terawan Agus Putranto menuai kontroversi. Pemecatan dokter Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta itu terdengar seperti cerita sinetron. Terapinya untuk stroke disukai oleh elit politik, tapi diragukan oleh komunitas medis.

Opini publik mendukung keputusan pemecatan tersebut, sebaliknya para pejabat tinggi negara “keberatan” terhadap sanksi tersebut. Majelis Etik Kedokteran tidak mempersoalkan metode cuci otak dengan Digital Substraction Angogram (DSA) yang dilakukan oleh Terawan, tapi memutuskan dokter tentara ini melanggar Kode Etik Kedokteran.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa prosedur brainwash yang dilakukan tanpa adanya penelitian ilmiah adalah salah. Tapi kenyataannya, sudah ada dua penelitian yang diselesaikan oleh Terawan sendiri dengan kesimpulan brainwash dapat menyembuhkan pasien stroke.

Apakah ini berarti brainwash terbukti efektif menyembuhkan pasien stroke? Belum tentu. Saya membahas kedua penelitian tersebut dan untuk menguji apakah teknik ini teruji secara ilmiah.

Stroke dan terapinya

Stroke adalah kumpulan gejala yang terjadi karena terganggunya suplai darah ke otak. Biasanya terjadi secara mendadak dan lebih dari 24 jam. Kurangnya suplai darah ke otak bisa diakibatkan karena adanya sumbatan atau pendarahan di pembuluh darah otak.

Mengingat darah memiliki tugas penting, yaitu mengangkut oksigen dan nutrisi, sel-sel otak yang tidak kebagian suplai darah ini lama-lama mati dan tidak berfungsi lagi untuk mengontrol bagian-bagian tubuh terkait.

Oleh sebab itu, tata laksana stroke pada umumnya bertujuan untuk meminimalkan kerusakan sel otak dan mempercepat perbaikan fungsi tubuh yang sudah terkena dampak. Ilmuwan di seluruh dunia tidak henti-hentinya meneliti metode terbaik untuk menyembuhkan stroke.

Hingga artikel ini ditulis, dua terapi yang mendapat rekomendasi kuat dari panduan kedokteran internasional adalah terapi reperfusi dan rehabilitasi medik (fisioterapi). Terapi reperfusi adalah tindakan medis untuk memperbaiki aliran darah baik dengan obat golongan trombolitik (penghancur sumbatan) atau bedah. Sedangkan pada rehabilitasi medik, anggota tubuh pasien yang lumpuh dilatih hingga fungsinya dapat dikembalikan seoptimal mungkin.

Terapi brainwash?

Dokter Terawan mengklaim telah menggunakan prosedur “cuci otak” untuk penyembuhan penyakit stroke 40.000 pasien sejak 2005. Dalam praktik ini, heparin dosis tinggi dialirkan ke pembuluh darah arteri otak dan itulah yang membuat pasien merasa lebih baik dibanding sebelum berobat.

Perlu dicatat, heparin adalah obat golongan antikoagulan, bukan trombolitik. Fungsi obat-obatan antikoagulan hanya untuk mencegah terjadinya bekuan-bekuan darah baru, berbeda dengan trombolitik yang dapat menghancurkan darah beku.

Tidak terdengarnya komplain atau efek samping dari pasien mungkin menunjukkan bahwa metode ini aman. Atau mungkin saja ada yang pasien komplain tapi tidak disampaikan ke publik. Banyak testimoni positif dari pasien yang mengatakan sembuh setelah brainwash.

Mari bicara penelitian

Pada 2016, dua penelitian dokter Terawan dipublikasikan di jurnal kedokteran di Indonesia. Dalam penelitian pertama, heparin dengan dosis 5000 IU disuntikkan ke pembuluh darah arteri otak 75 pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Aliran Darah Otak (ADO) dinilai tepat sebelum dan setelah prosedur brainwash.

Hipotesanya, ADO akan membaik setelah brainwash tapi tidak dibuktikan di sini apa hubungannya perbaikan ADO dengan kesembuhan pasien stroke. Karena itu, walau menurut penelitian ini cuci otak berhasil memperbaiki ADO, tetap tidak dapat diambil kesimpulan bahwa brainwash = pemulihan stroke.

Dalam penelitian kedua, disebutkan telah dilakukan randomized controlled clinical trial pada 75 pasien, tapi sebenarnya tidak ada randomisasi sama sekali karena semua pasien mendapatkan intervensi dan pemeriksaan yang sama. Randomisasi yang dimaksud di sini adalah proses pengacakan pasien yang diteliti untuk meminimalkan adanya bias. Semakin baik randomisasinya, semakin kuat penelitian tersebut.

Patokan keberhasilan brainwash di penelitian ini adalah dengan uji Manual Muscle Testing (MMT). MMT adalah suatu uji klinis untuk menilai fungsi otot pasien stroke. Sayangnya dalam penelitian ini tidak dijelaskan bagaimana MMT diuji. Apakah pada semua bagian tubuh atau bagian tubuh yang terkena dampak saja? Sulit menarik kesimpulan apa pun dari penelitian ini karena kurangnya penjelasan dari parameter terpenting dalam penelitian ini.

Dalam penelitian juga penting dilakukan power analysis, yaitu uji statistik untuk menentukan berapa jumlah pasien yang seharusnya diteliti. Jadi, tidak adanya laporan efek samping serius pada 75 pasien belum tentu berarti prosedur ini sudah aman diterapkan untuk 40.000 pasien sebelumnya.

Dokter Terawan sebelumnya menyampaikan bahwa dalam praktik, diperlukan heparin dosis tinggi. Sedangkang dosis 5000 IU adalah dosis yang umum diberikan kepada pasien yang menderita trombosis vena dalam (DVT), emboli paru, dan beberapa penyakit lain.

Obat ini juga bekerja cepat, half-life (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai penurunan kadar obat hingga separuhnya di dalam tubuh) hanya 1,5 jam. Mengingat stroke bersifat kronis, seharusnya parameter penelitian stroke dilakukan dalam jangka waktu lama. Misalnya, apakah perbaikan otot bersifat permanen, hingga 3-6 bulan setelah diobati?

Penelitian kedokteran

Komite Etik Penelitian (Institutional Review Board/IRB) dalam bidang kedokteran sangat ketat. Semua penelitian seharusnya mempunyai dasar ilmiah yang kuat yang mendukung ide peneliti tersebut. Jika seseorang menemukan suatu obat atau prosedur yang benar-benar baru dan belum ada penelitian sebelumnya sama sekali, maka sebaiknya temuan itu dipublikasikan sebagai case report (laporan) yang ditelaah oleh sejawat (peer-reviewed).

Tergantung dari seberapa tinggi nilai perkiraan untuk risiko yang mungkin timbul dan seberapa ketat IRB di institusi tersebut. Peneliti dapat menguji cobanya pada hewan (biasanya dimulai dengan mencit atau tikus), baru pada manusia. Inilah mengapa penemuan obat-obat baru dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk masuk ke pasar komersial.

Cukup menarik bagaimana kedua penelitian dokter Terawan ini disetujui langsung untuk dipraktikkan pada manusia, mengingat prosedur ini invasif sehingga ada banyak risiko yang mungkin muncul. Dikatakan invasif karena dalam prosedur ini, banyak alat-alat dan obat yang langsung dimasukkan ke dalam tubuh dengan membuat luka. Walau banyak klaim pasien “sembuh” dari stroke setelah dicuci cuci otak, tidak ada case report atau uji coba pada hewan yang menjadi landasan kedua penelitian dokter ini.

Yang paling utama: jangan membahayakan

Dunia kedokteran memang sulit diajak kompromi. Penting adanya peer-review atas suatu temuan karena dengan begitu akan jelas apa yang dimaksud dengan “sembuh”. Apakah sembuh dengan makna terapeutik yang konkrit atau sembuh karena merasa “segar” yang kerap disebut efek plasebo saja?

Efek plasebo tidak selalu berkonotasi negatif. Suatu terapi dengan efek plasebo bisa saja lebih dapat dirasakan manfaatnya ketimbang tidak ada terapi sama sekali. Ini hal yang sering ditemukan pada pengobatan alternatif. Tapi menjadi pertanyaan etik bila pasien ditarik biaya besar untuk suatu tindakan yang hanya memberikan efek plasebo.

Keamanan suatu prosedur harus menjadi prioritas utama pasien. “First, do no harm”, asas yang harus diingat oleh dokter. Di negara-negara maju, pasien kritis bertanya ke dokter seperti “Seberapa amankah prosedur ini, dokter? Risikonya apa? Kalau saya kena risikonya, lalu bagaimana?”. Ini hal terpenting yang harus Anda pertimbangkan sebelum mendapatkan obat dan terapi apa pun.

Apakah prosedur dokter Terawan dapat memberi kesembuhan yang terbukti secara ilmiah untuk pasien stroke? Belum tahu dan belum tentu. Cuci otak tersebut mungkin memberikan manfaat yang lebih dari sekadar efek plasebo, tapi penelitian yang dilakukan tersebut belum cukup kuat.

Di negara maju, dalam pendidikan kedokteran sejak awal ditekankan tingkat pentingnya penelitian. Karena itu, penelitian-penelitian yang dihasilkan dihasilkan di negara maju biasanya berkualitas baik dan diakui secara internasional.

Adanya kabar rumah sakit di Jerman ingin bekerja sama dengan Terawan merupakan berita baik, tapi juga tamparan keras untuk akademisi bidang kedokteran di Indonesia. Kapan negeri ini bisa memiliki standardisasi yang afdal untuk riset dan pendidikan? Pendeknya, temuan obat dan prosedur baru pengobatan harus melalui uji coba langkah demi langkah lebih dulu (laporan kasus, uji pada hewan) sebelum diuji coba pada manusia dan dengan metode riset yang kredibel.

We need your help to elevate the voices of experts, not the shouters.