Empat cara turunkan emisi karbon saat belanja bahan makanan

Alena A/Shutterstock

Bagaimana makanan kita berdampak buruk terhadap lingkungan?

Faktanya, mengkonsumsi sebutir telur bisa melepaskan sekitar 260-330 gram CO2 ke atmosfer.

Sebelum telur sampai ke piring Anda, ada proses produksi lainnya seperti pangan ternak hingga transportasi untuk mengantarkan ke peternakan.

Dalam peternakan juga membutuhkan panas tertentu, berikutnya telur-telur tersebut harus diangkut, kebanyakan dengan truk, ke toko yang akan menyimpan mereka di lemari pendingin. Belum lagi proses pengemasan dan memasak yang juga berpengaruh terhadap emisi karbon.

Semua kegiatan tersebut membutuhkan energi, yang kebanyakan berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.

Kita bisa menganalisis jejak karbon dari sebuah produk makanan tertentu, dengan mengestimasi nilai gas rumah kaca yang dihasilkan selama proses berikut: produksi bahan mentah, proses industri, transportasi, penyimpanan, memasak, konsumsi, dan sampah yang dihasilkan.

Pendekatan ini kami sebut sebagai “cradle-to-grave” (dari awal ke proses akhir)

Penilaian ini dapat membantu kita dalam memahami bagaimana makanan kita sehari-hari mempengaruhi lingkungan. Berikut empat aturan yang bisa kita lakukan untuk menurunkan jejak karbon dari aktivitas belanja bahan makanan.

1. Variasikan sumber protein Anda

Dari seluruh jenis hewan ternak, sapi membutuhkan banyak lahan dan makanan.

Gas buangan mereka juga memiliki kandungan gas metan tinggi, salah satu penyumbang pemanasan global. Hal ini membuat produksi daging sapi menghasilkan emisi karbon empat kali lebih besar dibanding produksi daging babi atau unggas.

Produksi daging domba pun memiliki nilai jejak karbon tinggi, sehingga konsumsi kedua produk pangan ini perlu kita kurangi.

Protein tidak melulu berasal dari daging. Faktanya, kacang-kacangan menjadi pilihan yang lebih sehat buat manusia dan planet. Good luck images/Shutterstock

Serat, kacang-kacangan, kedelai dan tahu, biji-bijian, jamur, dan rumput laut, memiliki kandungan protein tinggi dan rendah emisi untuk proses pertumbuhan ketimbang protein hewani.

Penelitian terbaru menyatakan bahwa penurunan emisi gas rumah kaca hingga 80% bisa terjadi jika kita mengurangi 70% konsumsi daging dan 65% produk olahan susu.

2. Organik belum tentu rendah emisi

Konsumen sering menggunakan informasi lain untuk melihat dampak lingkungan apabila tidak ada dicantumkan jejak karbon pada label makanan. Sayangnya, ini lebih sering menyesatkan.

Banyak pembeli mengasosiasikan produk ‘organik’ atau ‘alami’ dengan kualitas tinggi dari segi lingkungan (rendah pestisida dan alami), dan diterjemahkan sebagai produk dengan nilai emisi rendah.

Beberapa produk organik, seperti susu dan minyak zaitun, memang memiliki nilai emisi rendah dibandingkan dengan produk turunan yang lain. Kebalikannya berlaku bagi susu kedelai dan telur ayam kampung versus telur ayam ternakan.

Sementara itu, tidak ada perbedaan nilai keluaran emisi antara produk pasta organik dan non-organik.


Read more: Going entirely organic could mean food emissions up 70% in England and Wales


Peduli terhadap kesejahteraan hewan dan membatasi penggunaan pupuk kimia perlu menjadi pertimbangan sebelum produk makanan. Namun, hindari menggunakan kata-kata kunci ini untuk memperkirakan jejak karbon dari makanan.

Makanan organik baik bagi kesejahteraan satwa liar, tapi tidak berarti langsung baik bagi iklim. Ana Lacob Photography/Shutterstock

3. Produk lokal belum tentu rendah karbon

Membeli produk lokal tidak menjamin rendah jejak karbon.

Transportasi memang menjadi kontributor penting dalam biaya karbon dari makanan. Tapi, bukan hanya ini satu-satunya ongkos emisi karbon.

Faktanya, emisi karbon dari transportasi lebih tinggi pada makanan rendah karbon dibandingkan yang tinggi.

Konsep “jarak makanan” tidak bisa digunakan sebagai indikator jejak karbon, karena hanya memperhitungkan elemen transportasi.

Contohnya, transportasi tidak meningkatkan jejak karbon dari produk emisi tinggi, seperti daging.

Daging domba produksi Selandia baru di musim potong memiliki emisi karbon lebih rendah ketimbang yang berasal dari Inggris pada saat bukan musim potong. Hal ini disebabkan oleh rendahnya jejak karbon dalam proses pemeliharaan, karena adanya faktor cuaca yang membuat ternak memakan lebih banyak rumput dan sedikit pakan buatan.

Pada kasus lain, kacang hijau dari Kenya atau asparagus dari Peru lebih rendah mengeluarkan emisi saat produksi, namun jejak karbon mereka lebih banyak berasal dari transportasi udara yang mengantarkan produk tersebut ke negara lain.

Pemilihan produk lokal lebih berguna untuk buah-buahan dan sayuran dalam musim panen. Tapi, emisi yang dikeluarkan saat merawat mereka di rumah kaca saat musim dingin berarti mengimpor dari negara yang memproduksi saat musim panen lebih berkelanjutan. Mengkonsumsi makanan sesuai dengan musim merupakan pilihan yang terbaik.


Read more: What does a healthy diet look like for me and the planet? It depends where you live


Kita juga bisa menurunkan jejak karbon dari transportasi dari makanan olahan. Mengirimkan bubuk kopi ketimbang biji kopi atau jus jeruk ketimbang jeruk berarti tanpa sampah atau air tambahan karena ini adalah produk final. Selain itu, tidak menggunakan lemari pendingin dan tidak perlu pengemasan.

Akhirnya, jus jeruk menghasilkan lebih sedikit emisi CO2 jika dibandingkan dengan jus jeruk segar, dan membeli kopi bubuk produk lokal lebih baik dibandingkan dengan mengimpor biji kopi.

Percaya atau tidak, domba di Selandia Baru menjadi pilihan yang baik bagi konsumer Inggris ketimbang produk lokal. Martin Bisof/Unsplash, CC BY-SA

4. Pengemasan penting

Plastik tidak selalu pilihan yang jahat. Beberapa pilihan kemasan lainnya, terutama timah dan gelas, sangat berat dan hanya bisa pengangkutan jumlah sedikit.

Ini berarti transportasi membutuhkan banyak energi per satuan makanan. Hasilnya, beralih ke plastik, yang lebih ringan, bisa menurunkan emisi karbon. Tentu saja, plastik ini bisa kita daur ulang.

Pengemasan plastik, dalam beberapa kasus, bisa lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kemasan plastik bisa mempertahankan kesegaran produk dan menurunkan jumlah limbah makanan, – yang akhirnya memproduksi gas metan apabila dibuang ke tempat pembuangan akhir.


Read more: Why some plastic packaging is necessary to prevent food waste and protect the environment


Saat pengemasan makanan tak terhindarkan, atau butuh untuk mengawetkan makanan, memilih bentuk kemasan yang paling sederhana adalah pilihan terbaik, dan pastikan kemasan itu bisa kita daur ulang.

Stefanus Agustino Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 100,900 academics and researchers from 3,223 institutions.

Register now