Menu Close
Sejumlah relawan berjoget saat syukuran relawan Prabowo-Gibran di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Asprilla Dwi Adha/Antara Foto

Fanatisme politik: mengapa orang rela mengorbankan waktu dan tenaga demi membela paslon pilihannya?

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai presiden dan wakil presiden terpilih untuk periode 2024-2029.

Menilik kembali masa-masa kampanye yang dimulai sejak November 2023 hingga awal Februari 2024, jutaan rakyat Indonesia turut serta meramaikan pesta demokrasi ini dengan mengekspresikan dukungan terhadap calon presiden andalannya masing-masing.

Dukungan tersebut ditunjukkan baik melalui partisipasi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya dengan menghadiri acara kampanye luring yang dilaksanakan oleh pasangan calon (paslon) meskipun lokasinya berada di luar kota bahkan luar provinsi. Sementara, partisipasi tidak langsung bisa dilihat dari perdebatan antar pendukung paslon, khususnya di media sosial.

Masing-masing pendukung membagikan konten yang memuji paslon pilihannya, bahkan tidak sedikit yang menyerang paslon lainnya. Ini biasanya berujung pada perang siber yang kemudian menimbulkan polarisasi politik di media sosial.

Di media sosial, terdapat istilah echo chamber effect (efek ruang gema). Singkatnya, dalam konteks dukungan politik dalam kampanye ini, echo chamber effect adalah ketika para pendukung satu paslon berinteraksi dengan sesama pendukungnya. Mereka akan semakin sering berinteraksi, sehingga memperkuat dukungan mereka terhadap paslon tersebut dan memperkuat kebencian terhadap paslon lainnya.

Sebagai makhluk sosial, perilaku kita sangat dipengaruhi oleh kelompok tempat kita berada. Ketika seseorang dikelilingi oleh rekan-rekan yang berpikiran sama yang membenarkan keyakinan yang sama, ia cenderung akan makin yakin bahwa dirinya benar. Kesetiaan pada ideologi atau kandidat politik pilihannya makin menguat. Ini lambat laun bisa membuat ia kurang menerima sudut pandang yang berlawanan.

Inilah cikal bakal apa yang sering disebut sebagai fanatisme politik. Jika seseorang sudah fanatik mendukung kandidat politik, ia akan terlihat sangat bersemangat dalam memperjuangkan tujuan mereka, bahkan terkadang dengan mengorbankan logika dan kesopanan.

Dari sudut pandang psikologis, apa yang sebenarnya mendorong kesetiaan berlebih atau fanatisme politik ini dan bagaimana kita bisa menghindari diri dari hal tersebut?

Penjelasan psikologis dari fanatisme politik

Ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya fanatisme politik.

1. Identitas

Inti dari fanatisme politik terletak pada konsep identitas. Manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk memiliki sense of belonging dan identitas kita dibentuk oleh berbagai faktor termasuk latar belakang budaya, nilai-nilai, dan afiliasi. Salah satu turunan dari identitas ini adalah ideologi politik.

Ideologi politik sering kali berfungsi sebagai penanda identitas yang kuat, memberikan individu rasa memiliki dan tujuan. Ketika seseorang sangat mengidentifikasi diri dengan kelompok politik atau ideologi tertentu, serangan terhadap kelompok tersebut dapat dianggap sebagai serangan pribadi, sehingga memicu respons defensif (mempertahankan diri).

2. Bias kognitif

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa manusia rentan terhadap bias kognitif, yang dapat memengaruhi persepsi dan proses pengambilan keputusan.

Salah satu bias tersebut adalah bias konfirmasi, yakni ketika individu mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka dan mengabaikan bukti-bukti yang kontradiktif. Kecenderungan ini dapat mengarah pada pembentukan ruang gema.

3. Tribalisme

Ada pula fenomena psikologi yang disebut tribalisme, yakni ketika masyarakat menganggap lawan politik mereka sebagai anggota “suku” saingan. Mereka cenderung memandang lawan politik mereka dengan penuh kecurigaan dan permusuhan, sehingga semakin memperkuat posisi mereka. Tribalisme ini dapat memperburuk polarisasi ini karena memunculkan pola pikir “kita versus mereka”.

4. Emosi

Emosi juga memainkan peran penting dalam fanatisme politik. Penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi, bukan pertimbangan rasional.

Kampanye politik mahir dalam memanfaatkan emosi untuk menggalang dukungan, memanfaatkan perasaan takut, marah, dan harapan publik guna memobilisasi gerakan.

Selain itu, individu mungkin mengembangkan keterikatan emosional dengan pemimpin politik, memandang mereka sebagai simbol harapan atau perwujudan aspirasi mereka. Investasi emosional ini dapat menciptakan rasa kesetiaan dan pengabdian yang melampaui evaluasi rasional.

Faktor-faktor tersebut dapat memperkuat fanatisme politik pada diri individu. Ketika seseorang sudah menjadi fanatik, ia cenderung akan lebih tertutup dan menolak sudut pandang yang berlawanan dengannya. Keyakinannya kepada tokoh politik sangat kuat, bahkan terlalu kuat sehingga ia enggan melakukan evaluasi kritis pada tokoh tersebut.

Relawan pendukung Prabowo-Gibran berjoget usai penetapan hasil Pemilu 2024. Galih Pradipta/Antara Foto

Para fanatik percaya bahwa pandangan politik mereka lebih unggul dibandingkan pandangan politik orang lain, sehingga kerap kali mengarah pada penghinaan atau diskriminasi terhadap pihak lawan.

Mereka menjadi lebih rentan untuk bersikap intoleran dengan menyerang atau menjelek-jelekkan pihak yang berbeda pendapat dibandingkan terlibat dalam dialog konstruktif. Mereka juga lebih terobsesi secara berlebihan pada tokoh politiknya dan tidak jarang merugikan hubungan pribadi, kesehatan mental, atau aspek kehidupan lainnya.

Membangun fanatisme politik yang ‘sehat’

Di dunia yang penuh dengan muatan politik saat ini, kita mudah terhanyut dalam semangat keyakinan kita, entah itu terhadap kandidat favorit, kebijakan tertentu, atau perdebatan suatu isu di dunia maya.

Antusiasme politik dapat sangat menyedot perhatian kita. Namun, kapankah antusiasme melewati batas menjadi fanatisme? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana kita bisa mengelola semangat politik kita agar tetap sehat dan konstruktif?

Pertama, ambil jeda atau istirahat dari media sosial. Sangat penting untuk selalu mengetahui perkembangan terkini dan memahami berbagai perspektif.

Mengonsumsi berita politik secara berlebihan bisa membuat kewalahan dan mengarah pada fanatisme, sehingga menetapkan batasan bisa menjadi penting. Ini bisa dilakukan dengan menjadwalkan jeda rutin dari konsumsi berita untuk fokus pada minat dan aktivitas lain.

Kedua, latih empati dan belajar lebih menghargai orang lain. Berusahalah untuk terlibat dalam percakapan dengan orang lain dengan penuh hormat, meskipun terdapat perbedaan pendapat.

Ingatlah bahwa orang-orang berasal dari latar belakang dan pengalaman berbeda yang membentuk keyakinan mereka. Kembangkan empati dengan mendengarkan secara aktif untuk memahami sudut pandang orang lain, meskipun berbeda.

Ketiga, kumpulkan informasi dari berbagai sumber. Hindari echo chamber effect dengan mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya dengan kecenderungan ideologi berbeda. Mengekspos diri pada beragam perspektif dapat membantu memperluas pemahaman dan mencegah pemikiran dogmatis.

Keempat, cobalah fokus pada solusi, bukan hanya kritik. Meskipun penting untuk mengkritik kebijakan dan meminta pertanggungjawaban pemimpin politik, jangan terjebak dalam siklus negatif. Salurkan energimu untuk mengadvokasi solusi konstruktif dan terlibat dalam tindakan yang mendorong perubahan positif.

Kelima, terlibat dalam tindakan nyata. Salurkan semangat politik dengan menjadi sukarelawan, berpartisipasi dalam acara komunitas, atau terlibat dalam gerakan politik lokal. Keterlibatan langsung dapat memberikan rasa kepuasan yang lebih dari sekadar debat daring.

Terakhir, tetap prioritaskan kesejahteraan mental dan emosional diri. Terlibat dalam aktivitas yang membuat gembira, habiskan waktu bersama orang-orang terkasih, dan praktikkan teknik mindfulness untuk mengelola stres dan mencegah kelelahan. Keterlibatan politik yang sehat adalah tentang menemukan keseimbangan.

Merasa bersemangat terhadap isu-isu yang penting adalah hal yang wajar, namun penting untuk memastikan bahwa gairah tersebut tidak berubah menjadi fanatisme yang tidak sehat.

Dengan tetap mendapatkan informasi, menghormati sudut pandang yang berbeda, dan mengambil langkah proaktif untuk terlibat secara konstruktif, kita dapat memanfaatkan antusiasme politik kita untuk perubahan positif sambil menjaga kesejahteraan dan mendorong masyarakat yang lebih inklusif.

Maka dari itu, mari kita berusaha untuk tetap semangat namun tidak obsesif, berkomitmen namun tidak berpikiran tertutup, dan yang terpenting, mari kita mengingat rasa kemanusiaan yang mempersatukan kita, meski dalam perbedaan politik.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 183,800 academics and researchers from 4,959 institutions.

Register now