Menu Close

Genetika pengaruhi tendensi konsumsi gula, garam, lemak berlebih dan risiko penyakit jantung

Artikel ini untuk memperingati Hari Jantung Sedunia 28 September.

Tinggi atau rendahnya risiko seseorang terserang penyakit jantung tergantung pada pola hidup dan genetika.

Sejumlah riset telah menunjukkan bahwa orang dengan genetika yang membuat lidah mereka kurang peka dalam mencecap asupan gula, garam dan lemak punya risiko tinggi terhadap penyakit jantung. Makin rendah kepekaan lidah, makin besar pula potensi seseorang mengkonsumsi gula, garam dan lemak lebih banyak.

Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih bisa meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah, serta memicu hipertensi. Jika kondisi ini dibiarkan bisa berujung pada penyumbatan pembuluh arteri jantung (arteri koroner).

Karena kita mewarisi genetika orang tua, kita harus fokus pada mengubah pola hidup untuk mencegah risiko penyakit jantung.

Penyakit paling mematikan

Perubahan pola hidup itu sangat mendesak karena hingga kini penyakit serangan jantung merupakan penyakit yang paling mematikan dan pembunuh nomor satu di dunia jika dibandingkan dengan penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes, Alzheimer, dan penyakit saluran pernafasan.

Pada 2019, Organisasi Kesehatan Dunia mencatat 32% dari total kematian di dunia (17,9 juta kematian per tahun) disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, penyakit terkait jantung dan pembuluh darah. Dari jumlah itu, sekitar 85% meninggal akibat serangan jantung dan stroke.

Untuk orang berusia di bawah 70 tahun, menurut data WHO di atas, 38% kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Dengan demikian, penyakit ini tidak hanya menyerang populasi tua. Serangan jantung juga kerap menyerang kelompok usia yang lebih muda, termasuk kalangan usia.

Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung menurut diagnosis dokter sekitar 1,5% dari total penduduk. Biaya kesehatan untuk penyakit ini juga meningkat dari Rp 4,4 triliun pada 2014 ke Rp 9,3 triliun pada 2018.

Bahaya di balik manis, asin, dan berlemak

Cara mencegah risiko serangan penyakit jantung adalah menerapkan pola makan gizi seimbang, aktivitas fisik yang rutin, manajemen stres yang baik, menghindari rokok dan minuman beralkohol, serta beristirahat yang cukup.

Kementerian Kesehatan menganjurkan pola makan sehat dengan menu gizi seimbang dan membatasi gula, garam, dan lemak. Menu gizi seimbang yang dimaksud adalah dalam satu porsi makan besar terdiri dari ½ porsi sayur dan buah (sumber serat, vitamin, mineral), ¾ porsi makanan pokok (sumber karbohidrat), dan ¼ porsi lauk-pauk (sumber protein).

WHO juga menganjurkan menu seperti ini sebagai upaya untuk mencegah penyakit jantung.

Setiap hari kita perlu membatasi asupan gula, garam, dan lemak. Untuk orang dewasa (setara kebutuhan 2000 Kcal per hari), gula dibatasi maksimal 50 gram (setara empat sendok makan), garam maksimal lima gram (setara 1 sendok teh), dan lemak maksimal 67 gram (setara lima sendok makan).

Pembatasan ini kerap sulit diterapkan karena banyak makanan yang mengandung gula, garam, dan lemak yang “tersembunyi” di sekitar kita.

Misalnya, cemilan berupa keripik, minuman manis, makanan instan, makanan siap saji, dan pangan olahan lainnya, yang tidak kita duga ternyata mengandung gula, garam, dan lemak yang sangat tinggi. Hal ini membuat masyarakat harus lebih teliti dalam memilih makanan dan minuman untuk kebutuhan sehari-hari.

Mengatasi pengaruh genetika

Riset dari tim Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya dan Nutrifood Research Center, yang laporannya sedang ditulis, menunjukkan bahwa faktor genetik ternyata turut berperan dalam sulitnya pembatasan asupan gula, garam, dan lemak.

Faktor genetik responden riset diketahui melalui tes DNA teknik PCR-RFLP dengan memakai sampel air liur.

Riset tersebut menunjukkan lebih dari 50% responden (dari 41 subjek) yang dites DNA ternyata memiliki risiko terkena penyakit diabetes dan jantung, akibat rendahnya kepekaan lidah terhadap rasa manis, asin, dan berlemak.

Dari survei konsumsi pangan 24 jam, yang diambil setelah dilakukan tes DNA, para responden tersebut cenderung mengkonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi batas maksimal sehingga berisiko terkena penyakit serangan jantung.

Hubungan genetik kepekaan lidah dan penyakit juga dibuktikan oleh beberapa riset lain. Di Meksiko sebuah riset menyatakan 25 responden yang memiliki genetik tidak peka terhadap rasa manis, ternyata mayoritas terjangkit penyakit trigliserida tinggi.

Dari survei konsumsi pangan dalam tiga hari, mereka cenderung mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan minuman manis akibat genetik yang mereka miliki tersebut.

Riset di Amerika juga menyatakan dari 125 penderita hipertensi, mereka memiliki tingkat kepekaan rasa asin yang rendah sehingga cenderung mengkonsumsi garam berlebih.

Selain itu, risiko penyakit jantung juga dapat diketahui berdasarkan gen-gen yang berperan dalam penyumbatan pembuluh arteri tubuh, termasuk jantung. Salah satunya adalah gen penyandi methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR), yang mempengaruhi kadar homosistein dalam darah. Homosistein merupakan senyawa yang terbentuk dalam proses metabolisme protein.

Kadar homosistein berlebih dalam darah (hyperhomosisteinemia) menjadi salah satu faktor risiko dalam penyakit jantung, yang ditentukan berdasarkan faktor genetik setiap orang. Ada orang yang cenderung lebih banyak menghasilkan homosistein, ada yang tidak. Homosistein yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan dinding arteri yang memicu munculnya sumbatan lemak pada arteri (artherosklerosis).

Vitamin B12 dan asam folat umumnya dikonsumsi untuk mencegah penyakit jantung karena dapat menurunkan kadar homosistein. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat terbukti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, namun dosis kedua senyawa tersebut ternyata dipengaruhi oleh faktor genetik.

Riset Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya dan Nutrifood Research Center menunjukkan dari 16 responden perempuan yang dites DNA, sebagian responden yang berisiko terkena penyakit jantung mengalami efek penurunan homosistein yang lebih rendah, dibandingkan dengan responden yang tidak berisiko, setelah mengonsumsi Vitamin B12 dan asam folat selama 4 minggu.

Jika responden sudah mengalami peningkatan kadar homosistein secara genetik, tapi tidak diikuti minum vitamin B12 dan asam folat, maka responden sangat berisiko terkena penyakit jantung.

Ubahlah gaya hidupmu

Kita perlu menyadari bahwa genetik berperan dalam kebiasaan hidup yang akhirnya bisa mempengaruhi kesehatan, tapi bukan merupakan takdir.

Melalui informasi genetik, kebutuhan nutrisi dan olahraga setiap orang dapat diatur secara spesifik dan dapat mengarahkan seseorang untuk tercegah dari penyakit sindrom metabolik, termasuk penyakit jantung.

Jika kita dapat menggunakan informasi genetik secara tepat, maka kita dapat lebih konsisten membiasakan pola makan rendah gula, garam, dan lemak, disertai olahraga dan istirahat yang cukup dan teratur, demi tubuh yang lebih sehat.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 148,500 academics and researchers from 4,412 institutions.

Register now