Menu Close

Gunung Semeru meletus: sejarah erupsinya dan jaminan kesuburan tanah untuk masa depan

Awan panas meluncur dari kawah Gunung Semeru, terlihat dari Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Senin 6 Desember 2021. Awan panas meluncur sejauh 2,5 kilometer ke Besuk Kobokan. . ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj

Setelah satu tahun tiga hari beristirahat, pada 4 Desember 2021 Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur meletus lagi. Letusan ini menghamburkan abu vulkanis, lava pijar yang cair dan awan panas guguran. Hujan lebat turun mengiringi erupsi Semeru, memicu datangnya lahar yang membawa material vulkanis dari lereng atas-tengah ke lereng bawah.

Aliran kencang lahar telah menghancurkan jembatan Glagah Perak, memutuskan jalur vital transportasi kedua kecamatan yang terdampak erupsi. Ketika malam tiba, masyarakat harus mengungsi, menyelamatkan diri ke tempat aman agar terhindar dari bencana susulan yang belum dapat diprediksi.

Erupsi gunung api memang merupakan petaka untuk manusia, menghancurkan lingkungan dan merusak infrastruktur di sekitarnya. Namun, setelah letusan nanti, tanah-tanah di sekitar gunung akan subur.

Petaka akibat letusan Semeru

Erupsi gunung di Indonesia berasal dari 69 gunung api aktif yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, kepulauan Maluku, dan Maluku Utara serta Sulawesi Utara.

Sejak awal abad ke-19 tercatat lebih dari 70 kali Semeru meletus, biasanya berlangsung beberapa hari sampai bulanan. Letusannya diawali dengan tipe strombolian yang relatif ringan dengan indeks erupsi vulkanis antara 1 dan 2. Letusan strombolian melontarkan batu pijar berukuran halus seperti abu dan lapilli (partikel abu berbentuk bola bulat), berukuran sedang sampai besar berupa bom lava hingga ketinggian ratusan meter.

Awan panas yang menyertai letusan gunung Semeru bisa mencapai 11 kilometer yang membentuk lidah lava dan pernah menewaskan 3 orang penduduk desa pada 1994. Aliran awan panas dan lava ini biasanya mengarah ke selatan dan tenggara. Pada letusan kali ini tercatat ada 15 orang yang meninggal sampai Senin 6 Desember.

Tim SAR mengevakuasi jenazah korban yang tertimbun material guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Senin 6 Desember 2021. Hingga Senin, 15 korban meninggal telah ditemukan dan 27 masih dicari. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/wsj

Aliran deras lahar Semeru yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya ternyata telah disimulasikan dan dilaporkan oleh para peneliti asing dari Selandia Baru dan Prancis pada 2013.

Para peneliti itu menganalisis rekaman video saat lahar menerjang dari lereng atas hingga masuk ke sungai. Seringnya bencana lahar terjadi dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar Semeru (2.200-3.700 milimeter per tahun) serta banyaknya tumpukan material vulkanis lepas yang ada di lereng atas dan tengah yang terjal.

Mereka menyimpulkan bahwa keberadaan dam Sabo yang dibangun di hilir sungai sangat signifikan mengurangi laju dari aliran lahar.

Emisi gas sulfur dioksida (SO2) saat Semeru erupsi harus diwaspadai karena akan berakibat fatal jika terhirup manusia atau ternak. Saat terjadi erupsi pada 2013, diestimasi ada 20 sampai 1.460 kilogram SO2 yang terlempar ke udara. Bahaya akibat gas sulfur dioksida sangat mudah dikenali dari baunya yang menyengat dan menyebabkan sesak nafas, sakit dada, iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.

Sejarah riset gunung api

Aktivitas gunung berapi di Indonesia telah lama dipelajari sejak zaman kolonial Belanda. Maur Neumann van Padang (1894-1986), ahli vulkanologi Belanda yang lahir di Padang Panjang, telah banyak mencatat aktivitas gunung api di Indonesia.

Menurut catatan Neumann, letusan Semeru sudah sering terjadi sejak awal abad ke-19. Setelah dorman selama 11 tahun, Semeru aktif kembali tahun 1829 selama 20 tahun, kemudian tidur kembali selama 8 tahun. Siklus aktif selama 7-28 tahun dan dorman 6 sampai 28 tahun berulang sampai sekarang.

Pada malam 29 Agustus 1909, letusan Semeru memakan korban 208 jiwa, dan abu dan lahar memusnahkan 600-800 hektare lahan pertanian dan sebagian dari 38 desa di sekeliling gunung Semeru. Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk Komisi Loemadjang untuk mengumpulkan dana dalam membantu korban gunung api.

Sebelumnya pemerintah Hindia Belanda menganggap korban bencana alam ini tidak dapat dihindarkan. Namun pada 1919, setelah letusan dahsyat Gunung Kelud memakan korban 5.110 jiwa, pemerintah Hindia Belanda kemudian membentuk Vulkaanbewakingsdienst atau Dinas Penjagaan Gunung Api pada 14 September 1920, untuk memonitor keadaan gunung api sehingga melindungi penduduk dari risiko bencana.

Badan tersebut mempelajari gunung berapi secara saintifik, menentukan jenis gunung berapi untuk memprediksi kemungkinan letusan, dan merancang sistem peringatan dan evakuasi. Dinas inilah cikal bakal Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau yang juga dikenal sebagai Vulcanological Survey of Indonesia.

Akibat erupsi gunung untuk tanah dan tanaman

Sebuah riset mengkalkulasi ada sekitar 47 juta ton per tahun material vulkanis menutupi permukaan tanah yang berasal dari gunung meletus di Indonesia sejak 1970. Tapi jumlah ini meningkat menjadi 500-600 juta ton pada 2013-2019 saat Merapi, Kelud dan Sinabung silih berganti meletus.

Ada hikmah yang menunggu setelah bencana geologi ini usai: material padatan vulkanis ini akan menjamin kesuburan tanah pada masa depan.

Kami telah menganalisis pasir vulkanis dari Semeru dengan menggunakan alat X-Ray Fluorescence (XRF).

Alat ini mendeteksi unsur-unsur kimia berupa total elemental oksida penyusun pasir vulkanis itu. Jumlah tertinggi adalah kalsium oksida (CaO) mencapai 18% (180.000 mg/kg), magnesium oksida (MgO) 3,6% (36.000 mg/kg), potasium oksida (K2O) 2,16% (21.600 mg/kg) dan 2,52% (25.200 mg/kg) fosfor pentaoksida (P2O5). Keempat elemental oksida ini merupakan unsur hara penting yang sangat dibutuhkan tanaman dan kehadirannya di tanah akan meningkatkan kesuburan tanah.

Kadar kalsium di tanah tropis seperti di Indonesia tidak terlalu tinggi kecuali pada tanah yang berbahan induk batu kapur. Kekurangan kalsium pada tanah dapat diatasi dengan penambahan kapur pertanian agar konsentrasinya di dalam tanah minimal 5 cmol/kg tanah (100 mg/kg). Dengan penambahan 1 kg pasir vulkanis ke dalam tanah maka akan terjadi peningkatan kadar kalsium sampai 1800 kali lipat.

Idealnya di dalam tanah harus tersedia unsur fosfor (P) sebanyak 20-100 mg/kg agar tanaman tumbuh dan berproduksi dengan baik. Pasir vulkanis dapat menyumbang fosfor per kilogramnya sebanyak 25 g, berarti terjadi peningkatan konsentrasi fosfor antara 200 sampai 1000 kali.

Tanah pertanian Indonesia umumnya kekurangan unsur fosfor dan petani harus memupuk tanahnya dengan pupuk fosfor (TSP, SP-36) dalam jumlah yang banyak.

Maka, material vulkanis mengandung nutrisi penting untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Walau awalnya abu ini banyak menimbulkan masalah, tapi pemanfaatan yang tepat akan membuat abu ini sebagai sumber tanah yang terbarukan. Sehingga abu tersebut harus kita manfaatkan dan jangan terhanyutkan di sungai.

Jadi jika saat ini letusan gunung itu membawa bencana, beberapa tahun lagi material letusan itu akan membawa berkah di sektor pertanian di sekitar gunung.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,300 academics and researchers from 4,519 institutions.

Register now