Seorang perempuan hamil berjalan melewati mural jalanan di Hong Kong pada 23 Maret 2020. Dengan pandemi coronavirus yang bergerak cepat, perempuan hamil menghadapi perubahan sistem perawatan kesehatan. Anthony Wallace/AFP via Getty Images

Hamil pada masa coronavirus - risiko yang berubah dan apa yang perlu Anda ketahui

“Kalau kita hamil dan melahirkan pada saat pandemi, akibatnya apa?”

Pertanyaan di atas dikirimkan oleh seorang kolega yang merupakan perawat sekaligus ibu hamil; membaca itu saya sempat tertegun.

Sebagai dokter kandungan-ginekologi, fokus utama saya pada ilmu perawatan kesehatan. Email ini mengingatkan saya mengenai ketidakpastian seorang ibu hamil yang kini menghadapi perubahan risiko dan sistem perawatan kesehatan karena di tengah pandemi ini.

Pengetahuan mengenai wabah COVID-19 berkembang cepat namun masih menyisakan beberapa hal yang belum diketahui. Kelompok medis dan penelitian mulai memberikan saran dan jawaban untuk pertanyaan yang banyak diajukan oleh keluarga yang sedang mengharapkan bayinya lahir dalam waktu dekat.

Apakah seorang ibu hamil menghadapi tantangan yang lebih besar terkena COVID-19?

Sejauh ini, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, data COVID-19 tidak menunjukkan seorang ibu yang hamil memiliki risiko yang lebih tinggi terkena virus.

Meski begitu, seperti yang telah kita ketahui dari penyakit flu, mereka berisiko dalam bahaya yang lebih besar ketika terjangkit infeksi saluran pernapasan. Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan dalam tubuh dan menghasilkan sedikit gangguan kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan infeksi hingga menimbulkan lebih banyak rasa sakit, cedera, dan kerusakan.

Apakah dengan memiliki virus corona dapat menimbulkan risiko keguguran atau persalinan prematur yang lebih besar?

Penelitian belum dilakukan untuk menunjukkan apakah memiliki COVID-19 selama masa kehamilan meningkatkan risiko keguguran, namun terdapat beberapa bukti dari penyakit lain. Selama pandemi virus corona SARS pada 2002 hingga 2003, seorang perempuan dengan virus tersebut ditemukan memiliki risiko sedikit lebih tinggi mengalami keguguran, tapi ini terjadi hanya mereka yang sangat parah mengidapnya.

Memiliki infeksi virus pernapasan selama kehamilan, seperti flu, telah dikaitkan dengan masalah seperti berat badan bayi yang lahir rendah dan kelahiran prematur. Selain itu, memiliki demam tinggi pada awal kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir tertentu, meski jumlah keseluruhan kejadian cacat tersebut masih rendah.

Bisakah seorang ibu dengan COVID-19 menularkan virus kepada bayinya di dalam rahim?

Data terkait ini berkembang dengan cepat. Dua makalah yang dipulikasikan pada 26 Maret menemukan terdapat antibodi virus corona pada 3 bayi baru lahir dari ibu dengan COVID-19. Ini bisa menunjukkan bahwa mereka terpapar virus di dalam rahim, meski virus itu sendiri tidak terdeteksi dalam darah tali pusar dan peneliti telah menyelidiki mengenai jenis tes apa yang digunakan.

Para peneliti dalam studi sebelumnya tidak menemukan bukti COVID-19 dalam cairan ketuban atau darah tali pusar pada enam bayi lain yang lahir dari perempuan yang terinfeksi. Sementara makalah penelitian ini hanya mencakup sejumlah kecil kasus, kurangnya penularan vertikal –dari ibu ke anak di dalam rahim– sesuai dengan apa yang sudah terlihat dengan penyakit virus pernapasan lainnya pada kehamilan, termasuk influenza.

Ada beberapa laporan tentang bayi baru lahir yang hanya berumur beberapa hari namun sudah terkena infeksi. Kendati demikian, dalam kasus tersebut, ini diyakini bahwa ibu atau anggota keluarga menularkan infeksi kepada bayi melalui kontak dekat setelah melahirkan. Virus ini dapat ditularkan melalui batuk atau bersin yang dapat menyebarkan tetesan (droplet) kepada bayi yang baru lahir.

Bagaimana pemeriksaan kehamilan berubah?

Perawatan sebelum kelahiran mungkin terlihat berbeda untuk sementara waktu karena pengendalian penyebaran COVID-19 di antara pasien, perawat, dan staf medis.

Biasanya, seorang perempuan hamil memiliki sekitar 14 kunjungan periksa sebelum melahirkan. Jumlah tersebut mungkin akan berkurang setengahnya dan membuat perawatan jarak jauh atau telemedicine akan berperan penting.

Telemedicine sudah disetujui oleh American College of Obstricians and Gynecologist (ACOG) untuk pasien di daerah pedesaan. Sekarang, pandemi membuat solusi perawatan virtual menjadi alat yang sangat diperlukan. Perempuan hamil dapat melakukan beberapa pengecekan di rumah, seperti untuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan konstraksi, bahkan pengobatan jarak jauh dapat digunakan oleh konsultan kehamilan, seperti ahli endokrinologi dan konselor genetik.

Frekuensi pertemuan untuk sonogram (gambar yang dihasilkan dari pemeriksaan ultrasonik) juga dapat berubah. Perhimpunan Kedokteran Janin atau The Society of Maternal Fetal Medicine mengatakan bahwa mengurangi pemeriksaan ultrasound (USG) rutin aman dilakukan pada waktu seperi ini tanpa membahayakan kesehatan dan keselamatan kehamilan. Tentu saja, beberapa pasien dengan kondisi khusus seperti kembar atau bayi yang diduga memiliki kecacatan mungkin memerlukan tindak lanjut yang lebih tradisional.

Ketika pandemi coronavirus menyebar melalui Wuhan, Cina pada awal 2020, perempuan hamil menghadapi risiko baru karena rumah sakit mulai kekurangan pasokan. Di AS, beberapa rumah sakit mulai membatasi pengunjung selama persalinan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran penyakit. Getty Images

Apa yang seharusnya saya harapkan ketika kelahiran?

Rumah sakit melakukan apa yang mereka bisa untuk meminimalkan penularan antar manusia dan mungkin proses lahiran akan terlihat berbeda juga. Beberapa rumah sakit menyaring semua staf medis mereka, termasuk dengan cara pemeriksaan suhu tubuh pada awal shift kerja.

Pengunjung juga dibatasi. Baru-baru ini, sebuah rumah sakit di New York memberlakukan kebijakan tidak ada pengunjung, termasuk bagi mereka yang merupakan sanak keluarga dari pasangan suami-istri yang akan melahirkan dengan alasan risiko penyebaran virus corona. Ini jelas bukan suasana yang diharapkan oleh perempuan untuk persalinan mereka, tapi dengan keadaan penyakit menular yang terus meluas, ini merupakan kenyataan yang harus diterima.

Jika saya terkena COVID-19, apakah saya perlu operasi sesar?

Tidak. Memiliki COVID-19 bukan alasan untuk melakukan operasi sesar. Tidak ada bukti bahwa metode apa pun, baik kelahiran normal atau sesar, lebih aman dalam hal terkena COVID-19. Meskipun data masih terbatas, infeksi virus corona lainnya belum diketahui ada yang menular ke seorang anak yang lahir secara normal.

Baik American College of Obstetricians dan Gynecologist dan Society of Maternal Fetal Medicine yakin, dalam banyak kasus, waktu kelahiran seharusnya tidak ditentukan oleh diagnosis COVID-19 seorang ibu. Perempuan yang terinfeksi pada awal kehamilan dan mampu pulih seharusnya tidak mengubah jadwal melahirkan mereka.

Untuk perempuan yang terinfeksi pada akhir kehamilan, masuk akal untuk mencoba menunda kelahiran, selama tidak ada alasan medis lain yang muncul, sampai seorang ibu tersebut menerima hasil tes negatif virus corona.

Berapa lama saya akan berada di rumah sakit setelah melahirkan dan bagaimana jika saya memiliki COVID-19?

Anda dapat mengharapkan keluar lebih cepat dari rumah sakit. Untuk membatasi risiko terpapar dan infeksi yang tidak disengaja, ACOG mengatakan pemulangan mungkin dapat dipertimbangkan setelah 12-24 jam untuk perempuan yang melahirkan dengan normal, lebih singkat dibandingkan dalam keadaan biasa yakni 24 hingga 48 jam, dan setelah dua hari untuk perempuan dengan kelahiran sesar, yang ini pula juga tergantung pada status kesehatan mereka.

Untuk seorang ibu yang positif mengidap COVID-19, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyarankan agar bayi diisolasi dari ibu mereka, meski hal ini dimengerti bukan hal yang ideal. Itu bisa berarti dengan menyediakan tirai antara ibu dan bayi dan menjaga jarak mereka setidaknya 2 meter. CDC menyarankan untuk melanjutkan pemisahan hingga 72 jam setelah demam seorang ibu hilang. Jika tidak ada orang dewasa sehat lain di ruangan tersebut untuk merawat bayi yang baru lahir, seorang ibu yang positif COVID-19 harus memakai masker wajah dan mempraktikkan kebersihan tangan sebelum setiap menyusui atau kontak dekat dengan bayinya.

Apakah melahirkan di rumah sekarang lebih aman dibandingkan di rumah sakit?

Jika seorang perempuan memilih untuk melahirkan bayinya di rumah sakit atau pusat persalinan, dia akan memiliki tim khusus penyedia layanan kesehatan yang terlatih untuk melindungi dia dan bayinya dari COVID-19 dan menangani komplikasi yang mungkin tidak terduga terjadi.

Ada beberapa kekhawatiran tentang paparan COVID-19 antarorang jika persalinan dilakukan di rumah karena dengan mudah membatasi pengunjung. Meskipun ACOG belum membuat pernyataan khusus tentang risiko ini,Royal College of Obstetricians and Gynecologists Inggris memiliki sebuah pernyataan yang menasihati untuk melakukan persalinan di rumah untuk perempuan yang telah positif terpapar COVID-19.

Dapatkah saya menyusui bayi saya jika saya terkena COVID-19?

Pada kasus terbatas yang dilaporkan hingga saat ini, tidak ada bukti virus corona ditemukan pada air susu ibu (ASI) dari perempuan yang terinfeksi COVID-19. Namun, tindakan pencegahan masih disarankan untuk dipatuhi. Menyusui dianjurkan dan merupakan sumber perlindungan antibodi yang penting bagi bayi.

CDC merekomendasikan bahwa selama pemisahan sementara dengan bayinya, perempuan yang ingin menyusui harus diminta untuk bisa mempertahankan persediaan ASI. Seorang ibu juga harus mencuci tangannya sebelum menyentuh alat pompa ASI atau bagian botol yang nanti digunakan oleh bayi. Jika memungkinkan, disarankan juga untuk meminta seseorang yang sehat untuk memberi makan kepada bayi tersebut.

Memiliki anak merupakan peristiwa penting yang harus dirayakan, termasuk selama pandemi seperti ini. Lakukan bagian Anda untuk menjaga diri Anda tetap sehat. Cuci tanga, jaga jarak sosial, dan tetap dekat dengan penyedia layanan kesehatan Anda selama kehamilan. Mungkin itu bukan yang Anda bayangkan, tapi Anda akan punya cukup cerita untuk disampaikan kepada anak-anak Anda pada masa depan.

Rizki Nur Fitriansyah menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 106,400 academics and researchers from 3,431 institutions.

Register now