Pil anti-HIV dapat mengurangi angka kejadian terkena virus ini pada kelompok berisiko. Markus Gann/Shutterstock

Harapan baru, pil pencegah HIV untuk kelompok berisiko lebih efektif cegah penularan AIDS

Penggunaan pil pencegah HIV untuk kelompok berisiko tertular kini mulai populer di Asia Tenggara.

Pil baru yang disebut Pre-exposure Prophylaxis (PrEP) itu, walau menuai pro-kontra, telah membuktikan keampuhannya mengurangi risiko tertular dan angka kejadian baru HIV/AIDS di kalangan kelompok rentan terinfeksi seperti lelaki seks dengan lelaki dan pasangan seks yang salah satunya positif HIV.

Pil ini diminum oleh seseorang yang belum tertular HIV, tapi pasangannya positif HIV.

Penggunaan kondom secara benar di kalangan kelompok berisiko–cara pencegahan terpopuler dan kini menjadi program andalan pemerintah Indonesia–menurut Badan Kesehatan Dunia dapat menurunkan risiko tertular HIV hingga 80%. Risiko tertular HIV dari hubungan seksual di kalangan kelompok rentan dapat dikurangi lebih banyak lagi, hingga 99%, jika kondom digunakan bersamaan dengan pil PrEP yang dikonsumsi tiap hari.

Di kalangan pengguna napza suntik, pil anti HIV ini bisa mengurangi risiko tertular virus hingga 74%.

Sayangnya di Indonesia obat ini baru tahap uji coba terbatas dan sejumlah masalah seperti anggaran dan stigma menghadang.

Baru pertengahan tahun lalu pemerintah Indonesia, bekerja sama dengan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Penanganan AIDS (UNAIDS), memulai proyek percontohan penggunaan obat anti-HIV ini untuk kelompok berisiko di empat kota yang belum diketahui nama pasti lokasinya..

Padahal, sejak 2012 Badan Kesehatan Dunia merekomendasi penggunaan obat ini untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Yang mengkhawatirkan, di negeri ini ada kenaikan angka kematian sebesar 60% terkait AIDS dari 24.000 kematian pada 2010 menjadi 38.000 kematian pada 2018. UNAIDS menyatakan pada 2010-2018 di Indonesia terdapat 640 ribu orang yang hidup dengan HIV dan 46 ribu kasus baru HIV.

Angka ini masih merupakan fenomena gunung es dari kasus-kasus HIV/AIDS yang belum terdeteksi. Namun, kemajuan pengobatan HIV/AIDS kembali memberikan harapan baru.

Hasil PrEP di beberapa negara

Saat ini, PrEP telah digunakan di berbagai negara di dunia, termasuk beberapa negara Asia Tenggara. Thailand telah memasukkan PrEP dalam program penanganan HIV nasional sejak 2018, sedangkan Malaysia dan Filipina saat ini tengah mengembangkan program tersebut.

Walaupun awalnya penggunaan PrEP lebih ditujukan bagi pasangan lelaki seks dengan lelaki (LSL), WHO kemudian merekomendasikan PrEP bagi populasi lain yang rentan terkena HIV, termasuk heteroseksual dengan pasangan positif HIV dan pengguna narkoba jarum suntik.

Penelitian di Thailand pada 2005-2010 menunjukkan adanya penurunan sebesar 48,9% terhadap kejadian baru HIV pada kelompok pengguna narkoba jarum suntik setelah penggunaan obat ini.

Sedangkan di Uganda, yang mengintegrasikan PrEP dalam program nasional pencegahan HIV sejak 2016, menunjukkan ada penurunan 75% terhadap kejadian baru HIV pada pasangan heteroseksual dengan status HIV berbeda.

Beberapa penelitian tersebut menunjukkan potensi PrEP dalam mencegah transmisi HIV tak hanya terbatas pada LSL. Efektivitas PrEP dalam menurunkan angka kejadian baru HIV memberikan titik terang pada perbaikan kualitas hidup bagi pasangan serodiskordan, yaitu pasangan seksual yang salah satunya HIV negatif dan yang lainnya HIV positif.

Cara kerja obat

Obat ini merupakan kombinasi dosis tetap antiretroviral (ARV) tenofovir dan emtricitabine yang dijual dengan merk dagang Truvada.

Cara bekerjanya seperti ini. Ketika seseorang dengan status HIV negatif mengkonsumsi PrEP, dosis obat tersebut akan bekerja pada darah, daerah genital, serta daerah anus. Saat orang tersebut terekspos HIV melalui hubungan seksual atau jarum suntik, PrEP akan menghentikan replikasi virus HIV dan mencegah perkembangannya.

Mekanisme itulah yang memungkinkan status HIV orang dengan risiko tinggi tetap negatif.

Sebelum ikut program PrEP ini, seseorang akan melalui serangkaian tes seperti tes HIV, hepatitis, infeksi menular seksual (IMS), serta fungsi ginjal. Selanjutnya, status HIV akan dipantau setiap tiga bulan secara berkala selama mereka minum pil anti-HIV.

Kendati demikian, PrEP tidak bisa mencegah infeksi menular seksual lainnya, sehingga penggunaan kondom masih tetap dibutuhkan.

Sebuah studi di Amerika menunjukkan 38,5% LSL lebih menyenangi kondom sebagai metode pencegahan penularan HIV. Kondom juga satu-satunya alat yang dapat sekaligus mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS).

Namun, karena cara kerjanya yang sistemik, PrEP memiliki efektivitas yang lebih tinggi daripada kondom sehingga dapat menjadi komplemen kondom. Jika dikombinasikan, PrEP dan kondom dapat sekaligus mencegah penularan HIV dan IMS hingga 92-99%.

Masalah dana

Hingga saat ini, pil anti-HIV jenis ini belum tersedia di Indonesia.

Dalam upaya pencegahan penularan HIV, program nasional masih berfokus pada penggunaan kondom. Beberapa pasangan pengidap HIV positif dan negatif yang telah mengetahui keberadaan PrEP dan menginginkan proteksi lebih, akhirnya memutuskan untuk mencari obat ini dari luar negeri.

Isu pertama yang berpotensi menjadi hambatan dalam implementasi program PrEP adalah harga obat yang tergolong mahal, mulai dari Rp300.000 ribu per 30 tablet.

Di Indonesia, biaya dari rangkaian pelayanan HIV yang dilakukan sebelum dan selama pengobatan selama ini, secara nasional, juga masih sangat tinggi (Rp 4,2 triliun pada 2018).

Saat ini, program pengobatan HIV tidak mendapatkan subsidi dari BPJS Kesehatan karena pemerintah telah memiliki program nasional pencegahan HIV.

Namun, program tersebut masih menggunakan sumber dana yang keberlangsungannya masih tidak dapat dijamin.

Pemerintah sendiri, secara umum, tidak melarang penggunaan PrEP. Tapi pengobatan tersebut belum dapat ditanggung negara karena keterbatasan dana.

Bayang-bayang stigma dan kepatuhan minum obat

Stigma yang masih terus membayangi populasi kunci (pekerja seks komersial, pengguna napza suntik, waria, LSL) di masyarakat juga menambah tantangan penerapan obat anti-HIV.

Ada asumsi bahwa dengan adanya akses terhadap pengobatan yang dapat mencegah penularan HIV, kejadian perilaku seksual berisiko akan meningkat.

Padahal, perilaku seksual berisiko sangat erat kaitannya dengan pengetahuan dan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi, bukan semata-mata karena akses terhadap upaya pencegahan HIV.

Memang harus diakui bahwa cakupan edukasi kesehatan reproduksi di Indonesia masih belum memadai. Bahkan penerimaan masyarakat terhadap pemakaian kondom sebagai alat untuk mencegah HIV pun masih bervariasi.

Karena itu, jika program PrEP hendak diterapkan, masalah ini patut dipertimbangkan.

Selain itu, efektivitas PrEP juga sangat erat kaitannya dengan kepatuhan meminum obat. Demi memberikan efek yang maksimal, obat ini harus diminum setiap hari. Meskipun dapat dihentikan jika risiko transmisi sudah berkurang, tapi selama 3 bulan obat tersebut harus dikonsumsi secara rutin.

Hal ini berpotensi menjadi problematik karena kepatuhan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam mengkonsumsi ARV masih tergolong rendah. Sehingga tidak menutup kemungkinan, jika program PrEP dijalankan, kepatuhan pasien terhadap pengobatan tersebut tetap tidak terjamin.

Jalan keluar

Tantangan-tantangan di atas menimbulkan keraguan terhadap kesiapan Indonesia dalam mempraktikkan program obat anti-HIV. Meskipun begitu, penyediaan akses pil anti-HIV ini dapat memberikan harapan terhadap penurunan kasus baru HIV/AIDS.

Pengadaan PrEP juga dapat menjadi opsi bagi pasangan-pasangan serodiskordan yang menginginkan proteksi lebih dari penularan HIV.

Oleh karena itu, pengenalan obat ini harus mulai disuarakan baik oleh aktivis maupun tenaga kesehatan, sembari tetap membenahi sistem pelayanan HIV/AIDS supaya lebih baik.

Dengan penemuan PrEP dan ARV, HIV/AIDS tidak perlu lagi menjadi momok bagi pasangan serodiskordan. Pengobatan ini juga dapat melunturkan stigma bahwa ODHA adalah kelompok infeksius yang tidak dapat memiliki pasangan.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 97,000 academics and researchers from 3,134 institutions.

Register now