Ilmuwan menciptakan bahan bangunan baru dari campuran jamur, beras, dan kaca

Bata dari jamur dapat membuat bangunan lebih tahan dan aman. V Anisimov / Shutterstock

Ilmuwan menciptakan bahan bangunan baru dari campuran jamur, beras, dan kaca

Maukah Anda hidup di dalam rumah yang terbuat dari jamur? Ini pertanyaan sungguhan, bukan retoris: jamur punya peranan amat penting dalam terciptanya bahan bangunan baru yang tahan api, rendah karbon, serta anti-rayap.

Jenis bahan ini, dikenal dengan nama komposit mycelium, memanfaatkan jamur Trametes versicolor untuk menggabungkan limbah industri dan pertanian untuk menciptakan bata yang kuat namun ringan.

Harganya lebih murah dari plastik sintetis atau kayu rekayasa, serta mengurangi jumlah limbah yang bakal ditimbun.


Read more: Ribuan orang Swedia memasang 'microchip' ke dalam tubuh mereka, ini alasannya


Dari jamur

Prototipe bata jamur yang terbuat dari sekam dan limbah serbuk kaca. Tien Huynh, Author provided

Bersama kolega kami, kami memanfaatkan jamur untuk mengikat sekam (lapisan tipis yang melindungi gabah) dan serbuk kaca (yang sudah tidak terpakai). Kami lalu memanggang campuran itu untuk menciptakan bahan bangunan baru yang alami.

Proses pembuatan bata jamur ini rendah energi dan rendah karbon. Bata ini bisa dicetak dalam beragam bentuk sehingga cocok digunakan untuk berbagai keperluan, khususnya industri konstruksi dan pengemasan.

Padi merupakan makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, dan dikonsumsi lebih dari 480 juta metrik ton dan 20 persen dari jumlah ini merupakan sekam.

Di Australia sendiri, sebanyak 600 ribu ton limbah kaca diproduksi setahun. Biasanya, sekam padi dan serbuk kaca ini akan dibakar di insinerator atau dikirim ke penimbunan sampah. Tapi jika mereka dijadikan bahan bata, maka kita dapat mengurangi limbah dengan cara murah.

Pemadam api

Bata jamur adalah bahan ideal yang dapat menangkal api. Material ini lebih stabil secara termal ketimbang bahan konstruksi sintetis seperti polystyrene dan particleboard, yang merupakan produk turunan minyak bumi atau gas alam.

Sekam padi, serbuk kaca dan campuran padi, kaca, dan jamur, sebelum dipanggang. Wikipedia/Tien Huynh, Author provided

Ini artinya, bata jamur akan terbakar lebih lambat dan lebih adem, serta mengeluarkan lebih sedikit asap dan karbon dioksida ketimbang bahan sintetis tadi. Penggunaan bata jamur akan otomatis meningkatkan keselamatan dari bahaya kebakaran.

Ribuan kebakaran terjadi setiap tahun dan penyebab utama kematian korban adalah mengisap asap dan keracunan karbon monoksida. Dengan mengurangi jumlah asap yang dilepaskan, bata jamur dapat memberi waktu lebih panjang bagi korban untuk menyelamatkan diri (atau diselamatkan), sehingga berpotensi menyelamatkan nyawa.


Read more: Mengapa stereotip perempuan seksi penggemar bola bertahan di Piala Dunia


Penyerbu rayap

Rayap merupakan masalah besar: lebih dari setengah jumlah rumah di Australia amat rawan diserang rayap. Makhluk kecil ini membuat pemilik rumah keluar uang lebih dari A$1.5 miliar setahun alias hampir Rp16 triliun.

Material konstruksi kami dapat memberi solusi untuk masalah ini, karena kandungan silika dari beras dan gelas akan membuat bangunan tidak terlalu menarik bagi rayap.


Read more: Mengapa gunung api meletus?


Penggunaan bahan yang tahan api dan tahan rayap ini sekaligus dapat merevolusi industri bangunan dan meningkatkan daur ulang limbah.

Zona serangan rayap di Australia. termitesonline.com.au, Author provided

Ini saat yang menarik bagi Australia untuk lebih kreatif mengolah limbah. Setelah Cina tidak lagi membeli bahan daur ulang dari Australia—dan adanya peraturan untuk menekan penggunaan kantong plastik di supermarket Australia—sekarang ada kesempatan untuk bergerak bersama-sama masyarakat Jepang, Swedia dan Skotlandia yang hampir tidak memiliki limbah (near-zero waste).

Memanfaatkan jamur untuk membuat bata hanyalah salah satu contoh berpikir kreatif yang dapat menolong kita mengurangi limbah.


Read more: Cara sampai ke Australia ... lebih dari 50.000 tahun lalu


This article was originally published in English