Menu Close
Niatan baik tiap individu untuk mengurangi jejak karbon terkadang berujung kepada pilihan yang buruk. (Shutterstock)

Jejak karbon itu rumit — ini beberapa hal yang perlu Anda ketahui

Bayangkan terus menerus minum sari jus jeruk karena kita yakin ini cara terbaik menurunkan berat badan.

Mengonsumsi jus jeruk secukupnya tidak masalah, tapi itu bukan saran pertama yang akan diberikan seorang dokter kepada pasien yang ingin menurunkan berat badan.

Sama seperti kita tidak ingin publik meyakini bahwa solusi dari obesitas adalah dengan mengonsumsi jus jeruk, kita juga tidak ingin masyarakat percaya bahwa cara terbaik melawan perubahan iklim adalah dengan mendaur ulang terus-menerus.

Meski mendaur ulang dan mematikan lampu adalah langkah yang baik untuk masyarakat berkelanjutan, tapi tidak terlalu penting ketimbang aksi individual untuk mengurangi konsumsi daging, perjalanan udara, dan berkendara bagi perubahan iklim.

Orang-orang dengan niat baik cenderung membuat keputusan buruk ketika harus mengurangi jejak karbon.

Perjalanan udara versus daur ulang

Saya dan kolega melakukan survei terhadap mahasiswa Universitas British Columbia dan mengambil sampel dari penduduk Amerika Utara lewat platform daring Mturk.

Ini untuk melihat apakah para peserta dapat mengenali aksi-aksi individual mereka yang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca.

Para peserta ini lebih terpelajar dan liberal dibanding populasi umum.

Ini merupakan kelompok yang tepat untuk melakukan survei karena kami ingin memahami persepsi orang yang setidaknya memiliki sedikit motivasi untuk terlibat dalam aksi-aksi pro-iklim.

Dalam studi tersebut, kami meminta para partisipan untuk menjelaskan aksi paling efektif yang dapat mereka lakukan untuk mengurangi emisi penyebab perubahan iklim.

Banyak yang menjawab mengurangi berkendara, yang memang merupakan tindakan berdampak tinggi, dan daur ulang, yang bukan tindakan berdampak tinggi.

Beberapa juga menyebutkan perjalanan udara, yang juga dapat berkontribusi besar bagi jejak karbon individu.

Sebagai contoh, penerbangan pergi-pulang dari Los Angeles ke Hong Kong, menghasilkan lebih dari 4.000 kilogram karbon dioksida ekuivalen.

Aksi politik (seperti lewat pemilihan umum) yang dibutuhkan untuk membuat perubahan struktural besar juga mendapat sedikit perhatian.

Salah paham yang umum terjadi

Selanjutnya, kami memberikan 15 aksi kepada para peserta survei dan meminta mereka untuk mengelompokkan ke dalam kategori aksi dengan dampak rendah, sedang, atau tinggi (kategori rendah kurang dari 1% dan tinggi lebih dari 5% jejak karbon per orang).

Aksi seperti menggunakan kendaraan pribadi secara tepat dianggap sebagai hal yang penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun, hanya 32% dari responden dapat mengenali dengan benar bahwa beralih dari plastik ke tas kanvas (sama seperti analogi jus jeruk untuk diet) merupakan aksi dengan kategori dampak rendah.

Mengurangi perjalanan udara dan konsumsi daging mendapatkan peringkat yang salah dan berada di bagian bawah dari tindakan yang disarankan.

Sejalan dengan riset sebelumnya tentang “availibity heuristic”, yaitu sebuah jalan pintas mental saat seseorang memberikan perhatian ekstra pada hal yang muncul dalam pikiran, maka seseorang akan fokus pada pilihan yang terlihat berbahaya secara kasat mata.

Atau, pada aksi-aksi yang menjadi simbol dari ramah lingkungan tapi tidak berhubungan dengan iklim.

Sebagai contoh, membuang sampah tidak menghasilkan emisi, namun kita melihat itu sebagai sama dengan penerbangan melintasi Samudera Pasifik yang tinggi polusi.

Fokus hal penting

Akhirnya, kami meminta peserta untuk membandingkan beberapa aksi tersebut, misalnya membandingkan waktu yang dibutuhkan untuk membeli makanan tanpa kemasan untuk menghemat jumlah emisi yang sama dengan 1 tahun tidak makan daging.

Sekitar setengah dari mereka menjawab 1 hingga 2 tahun. Jawaban yang benar adalah setidaknya 1 dekade.

Kami menemukan bahwa orang yang sangat peduli terhadap perubahan iklim tidak dapat membuat perbandingan yang akurat.

Ini relevan bagi mereka yang berjibaku dalam lisensi moral, “Saya mendaur ulang agar bisa terbang untuk liburan”, atau mereka yang sangat mencoba untuk mengoptimalkan batas karbon, “Saya berusaha keras agar membeli barang bekas karena memiliki punya jejak karbon yang lebih sedikit.”


Read more: 5 ways families can help tackle climate change


Kesalahpahaman ini penting.

Mereka yang mengerti bahwa daging punya dampak iklim besar lebih bersedia untuk makan daging lebih sedikit.

Dalam sebuah studi tentang orang Swedia yang telah berhenti atau mengurangi perjalanan udara mereka, banyak yang menyatakan bahwa mereka sadar bahwa penerbangan berkontribusi pada sebagian besar “anggaran karbon” mereka.

Kami ingin agar masyarakat fokus pada aksi yang bermakna agar tidak menghabiskan tenaga dan uang untuk hal-hal yang tidak perlu.

Tapi, kami juga ingin agar mereka mengadopsi gaya hidup rendah karbon karena mereka cenderung mendukung kebijakan yang mewajibkan semua orang untuk mengurangi polusi.

Ezra Klein menjelaskan nilai dalam mengubah budaya yang lebih banyak daging dan mengendarai mobil SUV yang lebih besar di saat yang sama ketika kita mencoba mengubah kebijakan: “Kami, sebagai masyarakat, tidak akan memilih hal yang membuat kami merasa sebagai orang jahat.”

Perubahan gaya hidup dan hal lain

Istilah “jejak karbon” mendapatkan kritikan akibat industri minyak menggunakan ini untuk mengalihkan tanggung jawab mereka kepada konsumen di masa lalu.

Namun, mengikuti jejak perjuangan dari gerakan climate hawks yang harus menentang segala taktik dari pencemar utama tidak berarti kita perlu meninggalkan segala upaya untuk mengubah gaya hidup.

Beberapa perusahaan besar khawatir bahwa perubahan gaya hidup ini akan mempengaruhi mereka.

Sebelum pandemi mempengaruhi seluruh industri, maskapai penerbangan telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi kehilangan bisnis akibat tumbuhnya rasa bersalah karena menambah emisi dari penerbangan, atau flight shame.

Meskipun Anda yakin bahwa perubahan gaya hidup merupakan pengalihan dari aksi politik, dan terdapat beberapa bukti kuat terhadap hal ini, hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat masih setengah-setengah dalam perubahan gaya hidup yang sepele, dan tidak banyak memberikan suara untuk kebijakan iklim.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Kita dapat menguji cara dengan memberikan insentif atas perubahan gaya hidup sambil meningkatkan dukungan kebijakan, idealnya dengan sumber daya yang tidak lepas dari aksi politik.

Seperti proyek-proyek di kampus, kantor-kantor perusahaan, dan sekolah (anak 12 tahun tidak bisa memilih, tapi mereka dapat mempelajari apa itu makanan berkelanjutan dan bagaimana memasaknya).


Read more: Flight shaming: how to spread the campaign that made Swedes give up flying for good


Dalam satu studi, contohnya, peserta diberi masukan soal pembelian makanan, dalam konteks “lightbulb minutes”: berapa banyak gas rumah kaca yang dihasilkan oleh penggunaan lampu bohlam selama 1 menit.

Ini dapat menyebabkan perubahan positif pada pilihan konsumsi mereka.

Demikian pula orang yang memesan tiket penerbangan dapat diberi tahu tentang sebagian besar anggaran karbon tahunan mereka akan terpakai dalam satu perjalanan.

Pendekatan-pendekatan ini berguna karena membuat mereka memperhatikan soal perubahan iklim tanpa mewajibkan pemahaman individu terkait soal rumit jejak karbon.

Aktivis iklim, terutama kaum muda, cenderung peduli tentang aksi individual.

Kita dapat menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mendorong perubahan gaya hidup yang bermakna, serta meningkatkan dorongan untuk untuk kebijakan iklim yang sebenarnya sudah lewat batas waktu.


Nadila Taufana Sahara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 131,200 academics and researchers from 4,112 institutions.

Register now