Kabin pesawat adalah surga bagi kuman. Begini cara menjaganya tetap bersih

QANTAS/EPA

Maskapai penerbangan Qantas telah menerapkan berbagai tindakan pencegahan untuk menjaga penumpang dari COVID-19. Langkah-langkah keamanan yang diluncurkan pada 1 Juni termasuk check-in tanpa kontak, hand sanitizer pada gerbang keberangkatan, masker opsional, dan tisu pembersih di dalam pesawat.

Namun, yang menjadi kontroversi, tidak akan ada pembatasan jarak di pesawat. Qantas mengklaim akan terlalu mahal untuk menjalankan penerbangan setengah kosong.

Pandemi COVID-19 memaksa perusahaan penerbangan untuk memperhatikan praktik kebersihan mereka. Namun kabin pesawat adalah sarang bagi kuman jauh sebelum coronavirus datang. Kabar baiknya adalah ada beberapa cara sederhana supaya kebersihan di pesawat dapat ditingkatkan.


Read more: Sanitising the city: does spraying the streets work against coronavirus?


Tindakan pencegahan logis

Sebagai ahli mikrobiologi lingkungan, saya telah mengamati menurunnya kualitas kebersihan umum secara bertahap di seluruh dunia.

Bandara dan pesawat terbang telah menjejalkan lebih banyak penumpang ke kursi kelas ekonomi yang semakin kecil.

Meskipun pembatasan sosial tidak bermanfaat banyak di ruang kabin yang terbatas - karena virus dilaporkan dapat menyebar sejauh delapan meter – mengenakan masker wajah (khususnya masker untuk virus) dan menjaga kebersihan tangan tetap penting.

Mikroorganisme itu tidak terlihat, sehingga sulit untuk dilawan. Selama penerbangan, saya telah mengamati awak pesawat dan penumpang melakukan sejumlah besar kesalahan tanpa disadari.

Beberapa kru pesawat akan pergi ke kamar mandi untuk memasukkan handuk kertas yang meluap ke dalam tempat sampah, keluar tanpa mencuci tangan, dan terus menyajikan makanan dan minuman.

Kita memiliki teknologi bagi produsen untuk memasang tempat sampah yang dapat menghancurkan, mencuci hama dan membuang handuk kertas melalui penghisapan, seperti yang digunakan di toilet. Selain itu, semua tempat sampah di pesawat seharusnya beroperasi dengan pedal untuk mencegah kontaminasi tangan.

Pilot juga tidak boleh berbagi kamar mandi dengan penumpang seperti yang sering terjadi. Bayangkan akibatnya jika pilot terinfeksi dan sakit parah selama penerbangan panjang. Siapa yang akan mendaratkan pesawat?

Misalnya, norovirus yang tingkat penularannya tinggi, dapat menyebabkan muntah dan diare dalam waktu 12 jam setelah paparan. Untuk keselamatan semua orang, pilot harus memiliki kamar mandi sendiri.

Makanan dan dapur

Area dapur pesawat harus sejauh mungkin dari toilet.

Toilet laki-laki dan perempuan harus dipisahkan. Karena perbedaan cara pria dan wanita menggunakan kamar mandi, kamar mandi pria lebih cenderung memiliki tetesan percikan urin di sekitar jamban. Toilet anak dan ruang ganti harus terpisah juga.

Troli makanan harus ditutupi lembaran plastik steril selama layanan karena digunakan dekat penumpang yang duduk, yang mungkin saja memiliki infeksi.

Dan untuk lalu lintas di koridor, troli tidak boleh ditempatkan di dekat toilet. Kadang-kadang saya melihat makanan di keranjang dengan serbet putih yang bagus, tapi serbet itu menyentuh pintu toilet.

Selain itu, selimut tidak boleh digunakan jika pembungkus sudah dibuka, dan bantal harus memiliki tas steril sendiri.

Awasi barang bawaan anda

Pada Maret, beberapa petugas bagasi terinfeksi COVID-19 di bandara Adelaide Australia.

Sebagai penumpang, kita harus menghindari meletakkan tas tangan di kursi saat menjangkau bagasi atas. Ada kemungkinan kita telah meletakkan koper kita di permukaan yang terkontaminasi sebelum memasuki pesawat, seperti di lantai kamar mandi umum.

Berhati-hatilah menggunakan saku kursi di depan kita. Penumpang sebelumnya mungkin telah menempatkan barang kotor (atau terinfeksi) di sana. Jadi ingatlah ini ketika menggunakan saku kursi depan untuk menyimpan barang-barang seperti paspor, atau kacamata (SARS-CoV-2 dapat masuk ke dalam tubuh lewat mata).

Selain itu, kartu keselamatan dalam saku kursi harus sekali pakai dan harus diganti setelah setiap penerbangan.


Read more: Air travel spreads infections globally, but health advice from inflight magazines can limit that


Dalam menghadapi krisis COVID-19, penting untuk diingat bahwa sebelum obat anti-virus atau vaksin ditemukan, wabah ini dapat kembali setiap tahun.

Ahli mikrobiologi telah berkali-kali memperingatkan tentang perlunya literasi mikrobiologi yang lebih baik di masyarakat. Namun, seringkali imbauan mereka dianggap paranoia, atau terlalu berlebihan.

Tapi sekarang saatnya untuk mendengarkan dan mulai mengambil tindakan pencegahan.

Sejauh yang kita ketahui, mungkin ada superbug atau kuman resisten antibiotik yang lebih berbahaya berkembang biak di sekitar kita - kita belum menyadarinya saja.

Artikel ini diterjemahkan oleh Agradhira Nandi Wardhana dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,700 academics and researchers from 3,634 institutions.

Register now