Kasus revitalisasi Monas: menengok kembali peran pohon dan krisis iklim dalam bencana banjir

Musim penghujan tahun ini, Jakarta dan kota sekitarnya, seperti Bekasi, bertubi-tubi menghadapi banjir. Hampir semua daerah di ibu kota negara tergenang air.

Salah satu insiden banjir yang cukup menyedot perhatian media dan masyarakat adalah tergenangnya kawasan Monas, yang merupakan kawasan terbuka hijau dengan banyak pohon.

Banyak yang menyoroti bahwa tergenangnya kawasan tersebut akibat dari penebangan ratusan pohon oleh pemerintah DKI Jakarta. Hal ini berangkat dari pemahaman umum bahwa pohon menyerap air hujan sehingga seharusnya tidak terjadi banjir.

Pohon memang memiliki peran yang penting dalam menahan air hujan. Namun, kasus banjir yang terjadi di kawasan Monas dan Jakarta, secara umum, sebenarnya lebih kompleks dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Sebagai dosen Laboratorium Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, saya ingin meluruskan pemahaman terkait peran pohon (hutan) dalam menanggulangi banjir. Dan, bagaimana masyarakat umum sebenarnya bisa berkontribusi menjadi solusi penanganan banjir.

Peran penting pohon

Kaitannya dengan banjir akibat hujan terus-menerus maka pohon atau hutan memiliki dua peran penting, yaitu untuk menahan dan mengurangi daya pukul air hujan untuk mengurangi erosi tanah.

Sebagai penahan air, tajuk pohon - yaitu kumpulan daun, dahan, dan ranting - mampu menahan atau mengurangi jumlah air hujan yang jatuh ke permukaan tanah. Data sebuah penelitian di Kalimantan menunjukkan bahwa hutan alam mampu menahan 30-40% air hujan yang turun dan mengembalikannya ke atmosfer sebelum sampai ke permukaan tanah melalui proses evaporasi.

Ini angka optimal karena akan bergantung pada perbedaan spesies penyusun, kerapatan, dan lokasi ketinggian dari hutan.

Sebagai pengurang daya pukul air hujan, pohon membantu agar tidak terjadi erosi tanah.

Selain tajuk, komponen penting pohon dalam pengendalian banjir serta bencana lainnya terutama longsor yaitu bagian perakaran.

Akar pohon akan menyerap air dari tanah. Yang jika tidak terserap akan membuat tanah jenuh dengan air dan mengalir ke permukaan tanah.

Video produksi dari UK’s Biotechnology and Biological Sciences Research Council (BBSRC) mengilustrasikan bahwa tanaman hijau bisa mengurangi aliran air banjir. Sumber: bbsrcmedia/YouTube.

Pembelajaran dari Monas

Terkait genangan air di Monas belum lama ini, saya tidak melihat ini sebagai akibat dari penebangan pohon untuk revitalisasi.

Menurut saya, hujan besar yang makin sering terjadi memiliki daya rusak tinggi dan berlangsung dalam periode yang lebih singkat dibandingkan biasanya.

Jenis hujan dengan daya destruksi tinggi memang makin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Singkatnya, ada dua kejadian yang tidak melulu saling berkaitan, yaitu penebangan pohon dan genangan air. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hubungan dengan dua kejadian tersebut.

Meski demikian, penebangan pohon tersebut cukup disayangkan karena sekecil apapun perannya, pohon-pohon tersebut memiliki kontribusi dalam mengurangi air yang ada di permukaan tanah.

Peran masyarakat

Walau ada upaya pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, gerakan masyarakat juga memiliki potensi sebagai bagian solusi banjir, terutama jika bisa diintegrasikan dengan rencana mitigasi bencana pemerintah.

Misalnya, Sekolah Air Hujan Banyu Bening di Yogyakarta, merupakan sebuah gerakan masyarakat yang berupaya mengedukasi masyarakat terkait upaya perlindungan lingkungan

Komunitas ini tengah mencoba mengubah perspektif masyarakat tentang air hujan dan bahkan mampu menghasilkan air hujan laik konsumsi.

Komunitas di Sleman, Yogyakarta, ini berhasil mengolah air hujan menjadi air layak minum. Sumber: NET. BIRO YOGYAKARTA/YouTube.

Ada juga solusi agar masyarakat atau komunitas bisa membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) untuk menampung air hujan

Alat ini akan mengalirkan sebagian air hujan ke sumur resapan atau bisa jadikan sumber mata air, sebelum dialirkan ke saluran pembuangan. Hal ini bisa mengurangi kejadian banjir atau genangan air.

Selanjutnya, masyarakat bisa berkontribusi dengan membuat lubang biopori di pekarangan rumah masing-masing.

Aksi-aksi kecil semacam ini bisa menjadi model upaya mandiri masyarakat dalam mencegah dan menangani bencana banjir di Indonesia.

Stefanus Agustino Sitor berkontribusi dalam penulisan artikel ini.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,800 academics and researchers from 3,367 institutions.

Register now