Menu Close

KB, vaksinasi, dan SD Inpres telah bantu Indonesia kurangi kemiskinan selama 75 tahun, tapi tantangan ke depan masih banyak

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin kanker serviks kepada siswa kelas VI dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 8 Sumerta, Denpasar, Bali, Jumat (14/8/2020). Vaksinasi measles rubella dan kanker serviks tersebut menyasar siswa kelas I dan kelas VI di setiap sekolah dasar se-Denpasar yang dilakukan secara bertahap dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 termasuk mengatur jumlah siswa yang hadir ke sekolah. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/pras. Antara Foto

Mengentaskan kemiskinan merupakan salah satu prioritas negara untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan dasar negara Undang-Undang Dasar 1945.

Bank Dunia mengatakan Indonesia telah berusaha mengurangi kemiskinan dengan layanan Pendidikan dan Kesehatan sejak dini.

Selama 75 tahun merdeka, angka kemiskinan Indonesia telah mengalami penurunan yang signifikan berkat kemajuan di sektor pendidikan dan kesehatan.

Kemiskinan tertinggi terjadi pada 1970. Saat itu 60% dari jumlah total penduduk masuk kategori miskin atau sekitar. 70 juta jiwa. Angka kemiskinan turun pertama kali di bawah 10% dari total populasi pada bulan Maret 2018, pada waktu itu kemiskinan mencapai 9,82% dengan 25,95 juta penduduk miskin.

Dengan pendidikan, seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan keahlian sehingga memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Sementara dengan layanan kesehatan yang lebih baik, anak yang memiliki nutrisi cukup akan terhindar dari stunting atau kekurangan gizi yang membuat anak tumbuh kerdil. Masyarakat yang sehat tentunya akan memiliki lebih banyak kemampuan untuk produktif dan memiliki penghasilan lebih tinggi.

Keberhasilan program di sektor kesehatan

Sudirman Nasir, peneliti senior dari fakultas Kesehatan Publik di Universitas Hassanudin di Sulawesi Selatan mengatakan dua program Kesehatan pemerintah yang paling sukses dan penting adalah Keluarga Berencana (KB) dan juga vaksinasi.

1. Keluarga Berencana (KB)

Keluarga berencana adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran, di Indonesia sendiri program ini sudah dirintis oleh para ahli kandungan sejak tahun 1950an.

“Cakupan KB yang meningkat telah membuat keluarga menjadi lebih sehat, kematian ibu dan anak berkurang, dan membuat banyak keluarga lebih sejahtera dan produktif,” ujar Sudirman.

Survei terbaru dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan jumlah anak dari perempuan di Indonesia telah mengalami penurunan 0,2 poin menjadi 2,4 per wanita di tahun 2017 dibanding angka 2012.

Keberhasilan program KB menurut mantan wakil presiden, Jusuf Kalla, telah membuat jumlah penduduk usia kerja menjadi lebih banyak daripada usia yang tidak bekerja, atau yang sering dinamakan bonus demografi.

Menurut Direktur Bill & Melinda Gates Institution, Jose Oying Rimon, jumlah anak yang lebih sedikit akan meningkatkan jumlah usia produktif dan membuat pembangunan suatu negara lebih berkelanjutan.

“Tantangannya di era desentralisasi ini adalah membuat komitmen pemerintah daerah tetap kuat mendukung program KB,” kata Sudirman.

2. Vaksinasi

Vaksinasi atau imunisasi telah berperan besar mencegah banyak penyakit, kecacatan dan kematian prematur. Tentunya dengan kondisi sehat, seseorang akan mampu menjadi lebih produktif dan mampu mendapatkan pendapatan yang maksimal.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sejarah imunisasi di Indonesia dimulai dengan imunisasi cacar pada tahun 1956. Imunisasi di Indonesia dikembangkan melalui Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang secara resmi dimulai di 55 Puskesmas pada tahun 1977, meliputi pemberian vaksin kekebalan terhadap empat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), yaitu TBC, difteri, pertusis, dan tetanus.

Saat ini program nasional Imunisasi berkembang dengan menambah 5 lagi PD3I yang dapat dilindungi yaitu Campak, Polio, Hepatitis B.

Data terbaru pemerintah menunjukkan cakupan imunisasi dasar lengkap Indonesia pada tahun 2018 baru mencapai 87,8%. Ini berartinya masih ada 12% atau sekitar 400 ribu anak Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Menurut Sudirman, imbauan penggunaan vaksin saat ini harus terus diperkuat karena cakupan vaksinasi yang belum optimal akibat munculnya kelompok anti vaksin dan kondisi pandemi COVID-19 karena terbatasnya mobilitas.

“Vaksin adalah hasil pengembangan sains dan teknologi pencegahan yang sangat baik dan terbukti mengurangi kejadian penyakit, kecacatan dan kematian. Ini tentu juga berperan besar meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sudirman.

Program Pendidikan

Program pendidikan yang paling sukses di Indonesia adalah program Sekolah Dasar Instruksi Presiden (Inpres), terang Daniel Suryadarma, peneliti utama dari Lembaga riset SMERU.

Program SD Inpres dilaksanakan sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 1973 dengan membangun fasilitas pendidikan untuk memperluas kesempatan belajar masyarakat

Sepanjang periode 1973-1979, pemerintah membangun sebanyak 61,8 ribu sekolah, termasuk penyediaan guru dan kepala sekolah, buku pelajaran, perpustakaan, dan air bersih.

“Program ini secara signifikan meningkatkan tingkat pendidikan. Dan hasil dari meningkatnya pendidikan ini adalah peningkatan pendapatan,” Kata Daniel.

Menurut Daniel, tantangan ke depan bagi pendidikan adalah memastikan bahwa penuntasan Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa tercapai.

Berdasarkan data BPS per Februari 2019, dari 129,3 juta orang yang bekerja di Indonesia, sebanyak 75,37 juta jiwa (setara 58,26%) merupakan lulusan SMP atau di bawahnya.

Masalah lain dalam pendidikan Indonesia adalah kualitas pendidikan yang masih rendah dan tidak ada peningkatan.

Hal ini bisa ditunjukkan oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang masih rendah. PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa di pendidikan menengah, terutama pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi.

Menurut penilaian PISA pada tahun lalu, untuk kemampuan yang dasar saja seperti membaca Indonesia hanya mempunyai skor 371. Ini sangat jauh jika dibandingkan peringkat pertama yang diraih Cina dengan skor 555.

Untuk mencetak cukup banyak orang-orang yang berkemampuan tinggi, akses dan kualitas pendidikan tinggi dan pendidikan kejuruan harus ditingkatkan.

“Kalau mau mencetak orang-orang yang sehat dan pintar, investasi pemerintah harus ditingkatkan dan dimulai dari semasa di dalam kandungan,” Ujar Daniel.

Tantangan ke depan

Di samping keberhasilan program pendidikan dan kesehatan dalam membantu pengentasan kemiskinan, Indonesia masih mengalami banyak tantangan. Salah satu yang terjadi saat ini adalah pandemi COVID-19.

Pandemi telah mengganggu perekonomian sehingga jumlah orang miskin di Indonesia per Maret telah mengalami kenaikan ke 26,42 juta orang atau 9,78% dari total populasi, dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 25,14 juta orang atau 9,41% dari populasi yang mencapai lebih dari 260 juta orang.

Pemerintah sendiri menargetkan dapat menurunkan tingkat kemiskinan menjadi 6,5 - 7% pada tahun 2024.

Menurut Ridho Al Izzati, peneliti lain dari Smeru, target pemerintah tersebut akan sulit untuk tercapai.

“Sulit untuk dicapai karena kondisi kemiskinan Indonesia di 2020 diperparah oleh krisis yang diakibatkan oleh pandemi,” tutur Ridho.

Selain itu masih banyak tantangan lain, seperti tingkat kemiskinan yang sudah rendah sehingga pengambil kebijakan sulit menemukan orang miskin dan tingginya tingkat kerentanan terhadap kemiskinan.

Ke depannya, kemajuan sektor pendidikan tetap adalah modal utama untuk keluar dari kemiskinan. Namun, sektor ini memerlukan perhatian lebih karena banyak sekolah yang ditutup karena pandemi COVID-19.

“Kuncinya adalah untuk memastikan tidak terjadi ketertinggalan yang permanen. Bisa dalam hal putus sekolah, tapi yang sama pentingnya adalah anak-anak yang kembali ke sekolah tidak kemudian terus ketinggalan dalam hal kemampuan,” ujar Daniel.

Sementara untuk kesehatan, tantangan terbesar dan terpenting adalah untuk mendapatkan vaksin untuk COVID-19 yang akan mengurangi penyebaran dan kematian akibat wabah ini.

“Vaksin untuk COVID-19 akan sekaligus mengurangi kerugian ekonomi dan sosial akibat pandemi itu,” kata Sudirman.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 131,300 academics and researchers from 4,114 institutions.

Register now