Menu Close
Seorang pelajar memegang kamera digital ‘point-and-shoot’. (Jason Zhang/Wikimedia Commons), CC BY

Kenapa banyak anak muda Gen Z kian menggemari kamera digital lawas?

Teknologi kamera dan fotografi semakin canggih, dengan resolusi yang semakin jernih, performa yang bagus ketika cahaya redup, serta fitur-fitur berguna seperti kemampuan fokus pintar hingga pengurangan guncangan. Hal-hal ini pun hadir dalam smartphone yang kita genggam.

Meski demikian, banyak anak muda Generasi Z (kelahiran sekitar 1997 sampai 2012) di seluruh dunia kini justru menggemari kamera digital point-and-shoot khas awal dekade 2000-an, ketika banyak dari mereka bahkan belum lahir.

Hal ini tak hanya menandakan bangkitnya minat untuk kamera-kamera lawas, tapi juga industri kamera digital secara keseluruhan. Pendapatan dari industri ini mencapai puncaknya pada 2010 sebelum mengalami penurunan tahunan hingga 2021. Pada 2022, industri kamera digital kembali mencatat pertumbuhan, dan diperkirakan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan.

Tapi mengapa ini terjadi?

Salah satu penjelasannya adalah karena nostalgia. Memang, nostalgia bisa saja menjadi strategi koping yang ampuh pada masa-masa penuh perubahan dan pergolakan. Pandemi COVID-19, misalnya, adalah salah satu periode yang penuh ketidakpastian dalam beberapa dekade terakhir.

Tapi, riset yang saya lakukan terkait pengalaman manusia dengan teknologi, yang juga termasuk fotografi, mengindikasikan adanya penjelasan yang lebih mendalam: manusia selalu berupaya mencari makna (meaning) dalam hidup.

Gen Z bukannya merindukan masa kecil, tapi bisa jadi mereka hanya sedang mencari dan mengekspresikan nilai-nilai mereka melalui teknologi yang mereka pilih. Ada berbagai pelajaran yang bisa kita ambil dari hal ini.

Kebutuhan manusia akan makna hidup

Manusia punya banyak kebutuhan – pangan, tempat tinggal, hubungan seksual, dan seterusnya. Namun, manusia juga merasakan urgensi untuk mencari makna dalam hidup.

Makna hidup berbeda dengan kebahagiaan. Meski keduanya sering berkaitan, makna tak selalu melibatkan rasa senang yang khas dalam kebahagiaan. Pencarian makna bisa saja melibatkan perjuangan, penderitaan, atau bahkan pengorbanan. Jika kebahagiaan cenderung bersifat sesaat, makna cenderung tahan lama.

Apa pengaruh makna bagi kehidupan manusia?

Pada esensinya, makna ialah tentang upaya pencarian nilai-nilai seorang individu, dan membuat berbagai keputusan untuk mengembangkan diri sebagai manusia. Makna membuat orang bisa menjelajahi berbagai aspek kepribadian mereka – atau istilah penyair ternama Walt Whitman, “multitudes” (variasi atau keberagaman) dalam diri seseorang.

Dengan kata lain, makna ialah tentang merangkai narasi personal berdasarkan fakta-fakta kehidupan. Makna juga merupakan suatu kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Makna adalah hal yang membuat hidup terasa berharga dan layak dijalani.

Mencari makna dengan teknologi

Kenapa orang mengadopsi suatu teknologi tertentu, dan bukan yang lainnya? Para ahli merujuk pada konsep yang dinamakan model penerimaan teknologi, yang menjabarkan bahwa setiap orang mempertimbangkan dua aspek besar ketika memilih teknologi: persepsi terkait manfaatnya dan persepsi terkait kemudahan penggunaannya.

Tapi, tentu ada beberapa pertimbangan lainnya, terutama yang berkaitan dengan teknologi personal. Orang-orang memilih beberapa teknologi karena kontribusi teknologi tersebut terhadap makna hidup. Pencarian makna ini lebih jauh dari sekadar pemilihan teknologi tertentu, hingga cara seseorang menggunakan dan mengalaminya. Misalnya, banyak orang memakai media sosial dalam mengkonstruksi jati diri mereka.

Dalam riset saya, saya mengidentifikasi empat tema yang muncul dalam pengalaman bermakna orang dengan teknologi:

  1. Keberadaan (presence): Orang-orang memilih format dan teknologi yang akan membantu mereka lebih “present” (ada dan sepenuhnya fokus) serta perhatian dalam pengalaman tersebut.

  2. Gaya sentripetal: Hubungan seseorang dengan teknologi dimulai dengan praktik sederhana tapi kemudian perlahan berkembang menjadi hal besar dalam hidup mereka. Misalnya, seiring praktik fotografi seseorang menjadi lebih bermakna, bisa jadi mereka kemudian berujung mencetak banyak foto, mengkurasi koleksi mereka dan belanja lebih banyak peralatan fotografi.

  3. Rasa ingin tahu: Perasaan kagum dan ketertarikan juga memandu pengalaman ini.

  4. Konstruksi diri: Pengalaman bermakna dengan teknologi berkontribusi terhadap persepsi jati diri seseorang.

Dalam riset saya tentang pelari jarak jauh, yang lari bahkan lebih jauh dari maraton, saya menyaksikan seluruh aspek ini muncul. Pelari memilih (atau sebaliknya menghindari) produk sepatu, jam tangan dengan GPS, sensor dan perangkat lunak tertentu dalam rangka menjadi lebih present dengan tubuh mereka.

Ini bisa menjadikan pengalaman lari menjadi lebih bermakna, beserta berbagai aktivitas lainnya seperti menuliskan jurnal lari, menyimpan catatan latihan, hingga berbagi foto.

Runner wearing orange pinnie checks watch.
Pelari maraton Youssef Sbaai mengecek jam tangannya setelah memenangkan Maraton Sofia pada Oktober 2020. Artur Widak/NurPhoto via Getty Images

Seiring waktu, lari menjadi bagian sentral dari identitas seseorang – bahwa mereka telah menjadi “seorang pelari”. Pada akhirnya, bagi mereka, lari jarak jauh tak melulu menyenangkan, tapi tentu tetap bermakna.

Sehingga teknologi, entah yang berkaitan dengan lari ataupun aktivitas lain, menjadi cara kunci bagi seseorang menarik nilai-nilai mereka dan membuat keputusan yang mendukung dan mewakili nilai-nilai tersebut.

Makna dari kamera digital lawas

Dalam konteks ini, memakai kamera digital lawas langsung meningkatkan makna dari pengalaman mengambil foto. Makna itu tentang menjalani suatu pilihan. Apalagi pada zaman sekarang, kebanyakan orang bahkan tak punya kamera tersendiri – mereka hanya punya smartphone.

Kamera digital juga membantu seseorang menjadi lebih fokus (present) dengan situasi mereka: kita jadi perlu terus ingat untuk membawa-bawa kamera tersebut kemana-mana, dan sebaliknya tak akan mengeluarkan notifikasi atau menunjukkan aplikasi lain selama kita memotret.

A sleek and minimalist point-and-shoot digital camera from 2008.
Nikon Coolpix S520 tahun 2008, salah satu contoh kamera digital yang kembali populer akhir-akhir ini. Simon Speed/Wikimedia Commons

Ini pun berlaku bagi kamera lainnya yang bukan smartphone. Tapi, kamera lawas, khususnya, punya sejumlah karakter yang membantu penggunanya membangun makna.

Pertama, kualitas gambarnya lebih buruk. Di media sosial, foto hasil kamera lawas yang diunggah bukanlah tentang kejernihan dan kualitas, melainkan lebih tentang berbagi pengalaman dan menceritakan kisah tertentu. Teoretikus media sosial Nathan Jurgenson menulis dalam bukunya The Social Photo (2019), “Sebagai medium, fotografi sosial menjadi cara penting untuk mengalami sesuatu yang tak bisa diwakili sebagai gambar, melainkan sebagai proses sosial: suatu apresiasi atas kefanaan itu sendiri.”

Saat orang-orang memilih foto mana yang dibagikan dan bagaimana mengeditnya, mereka mengekspresikan nilai-nilai mereka dan mengembangkan jati diri (sense of self) mereka. Filter foto smartphone bisa jadi cara untuk mengekspresikan sebagian hal ini, tapi kamera digital lawas menghasilkan berbagai macam efek visual tanpa fitur-fitur terotomasi yang memang dirancang membuat gambar menjadi lebih profesional.

Kamera lawas juga punya beberapa tantangan dalam mengunggah foto-fotonya ke media sosial. Prosesnya perlu kabel, perangkat lunak, dan langkah-langkah tambahan untuk melakukan transfer foto. Proses ini jauh lebih repot dari sekadar menghasilkan gambar melalui kecerdasan buatan (AI) hanya dengan satu klik. Ini berarti bahwa fotografi melibatkan lebih banyak aktivitas ketimbang hanya memotret. Fotografi menjadi bagian yang lebih besar dalam hidup seseorang.

Langkah-langkah tambahan ini meningkatkan keterlibatan seseorang dalam suatu proses, dan memerlukan berbagai pengambilan keputusan seiring jalan. Inilah pemikiran di balik “gerakan teknologi lamban”, yang bertujuan merancang teknologi untuk tujuan seperti refleksi diri, ketimbang efisiensi atau produktivitas. Riset terkait desain yang bermakna menunjukkan bahwa orang-orang membentuk keterikatan yang lebih kuat dengan produk ketika mereka harus membuat lebih banyak pilihan atau harus lebih terlibat.

Pada konteks pencarian makna dalam fotografi model lawas – baik kamera digital atau kamera film – proses yang lebih lama untuk menghasilkan dan membagikan gambar lebih penting dari kecepatan, efisiensi, dan kejernihan gambar dari kamera smartphone.

Merangkai hidup yang lebih bermakna

Makna yang tersembunyi dalam kamera digital lawas menunjukkan berbagai pelajaran menarik.

Dalam beberapa tahun belakangan, para pengkritik mengeluhkan runtuhnya institusi sosial dan transformasi platform digital menjadi tempat yang hanya berperan sebagai ladang penjualan iklan dan pengumpulan data dari pengguna. Ketika pandemi, hidup kita terancam bermigrasi ke dunia digital beserta berbagai animo tentang prospek dari “metaverse”.

Saya percaya bahwa kunci untuk hidup sejahtera pada masa depan adalah mengidentifikasi titik-titik di mana kita bisa membuat keputusan, sehingga kita tidak perlu merasa seolah kita hanya mengapung dalam arus algoritma dan kuasa perusahaan teknologi besar.

Bisa saja kita memulai grup seperti “Luddite Club” – grup buatan beberapa remaja di New York, AS yang mempromosikan gaya hidup bebas dari media sosial dan teknologi – dan bermain permainan papan (board games) di taman pada akhir pekan. Bisa juga kita memilih membaca buku fisik ketimbang mendengarkan podcast, terutama karena kita tak bisa melakukan hal lain saat membacanya.

Di permukaan, secara sengaja menolak bentuk teknologi terkini dan tercanggih tampak seperti masalah atau keanehan – orang-orang bilang “Kamu akan ketinggalan banyak hal!”

Namun, di sisi lain, hidup dengan lebih pelan dan berinteraksi dengan teknologi yang lamban membangun ruang pembuatan berbagai keputusan yang lebih mendalam dan merefleksikan nilai-nilai kita – sehingga menciptakan keterlibatan yang lebih bermakna dalam hidup.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 184,200 academics and researchers from 4,969 institutions.

Register now