Kenyataan mengenai kematian ibu

Kematian ibu melahirkan adalah contoh kondisi yang secara mendasar tidak adil dan dapat kita ubah. www.shutterstock.com

Kenyataan mengenai kematian ibu

Tingkat kematian ibu ketika melahirkan berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Kematian ibu melahirkan adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan apa yang disebut ekonom dan filsuf terekemuka Amartya Sen sebagai “remediable injustice”—sebuah kondisi yang secara mendasar tidak adil dan dapat kita ubah.

Di negara maju, akses layanan kesehatan lebih baik dibandingkan di negara-negara berkembang, sehingga tingkat kematian perempuan karena komplikasi kehamilan atau melahirkan di negara maju lebih rendah daripada di negara berkembang.

Memperbaiki akses pada layanan kesehatan dan meningkatkan jumlah praktisi kesehatan—perawat, bidan, dokter—yang terlatih adalah salah satu kunci untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan di negara-negara berkembang.

Angka Kematian Ibu (AKI) mengindikasikan angka kematian ibu yang terjadi dalam setiap 100.000 kelahiran. Pada 2015, rata-rata AKI adalah 216.

AKI yang tertinggi ada di sub-sahara Afrika (547) dan di negara miskin (496). Sebaliknya, tingkat kematian ibu paling rendah ada di negara-negara kaya (10), Uni Eropa (delapan) dan Amerika Utara (12).

Sumber daya terbatas

Angka-angka ini mengungkap banyak hal soal ketimpangan yang menyebabkan tingginya tingkat kematian ibu di negara miskin dan rendahnya angka ini di negara kaya. Sumber daya di negara berkembang terbatas, dan sumber daya dalam bentuk keahlian medis, fasilitas, dan peralatan medis terdistribusi secara tidak merata.

Menurut World Health Organization, penyebab utama kematian ibu meliputi “pendarahan, hipertensi, infeksi, dan penyebab tak langsung yang sebagian besar disebabkan interaksi antara kondisi medis sebelumnya dengan kehamilan.”

Kebanyakan penyebab kematian tersebut dapat diobati dengan prosedur sederhana dan obat-obatan. Kebanyakan kematian ibu dapat dicegah jika selama kehamilan, kelahiran, dan periode post-partum para perempuan memiliki akses pada praktisi medis yang terampil dan klinik kesehatan.

Namun kenyataan mengenai kematian ibu tidak sesederhana itu. Di satu sisi memang akses kesehatan sebelum, sesaat, dan sesudah kelahiran akan mengurangi kejadian kematian ibu. Namun terdapat faktor-faktor lain yang lebih kompleks yang perlu dipertimbangkan.

Hambatan terhadap akses pada layanan kesehatan tidak hanya menyangkut masalahnya kurangnya rumah sakit dan dokter. Masalah ini juga menyangkut dinamika sosial dan kultural. Dengan kata lain, perempuan kesulitan mengakses sumber daya yang ada dikarenakan kemiskinan, diskriminasi atas dasar ras, ketidaksetaraan gender, dan kriminalisasi aborsi.

Lebih dari itu, perempuan rentan mengalami kehamilan yang bermasalah dikarenakan praktik pernikahan dini (dan kehamilan remaja), tingkat fertilitas yang tinggi (yang meningkatkan potensi kelahiran yang terhalang), adat patriarkal yang membuat kesehatan, gizi, dan pendidikan perempuan tidak dirasa penting serta kebijakan yang gagal menghargai hak asasi manusia.

Kasus mengerikan Shanti Devi

Sebagai contoh, pada 2010 di India, ada perempuan bernama Shanti Devi yang tidak diberikan perawatan medis, yang merupakan haknya menurut Undang-undang India, karena ia berasal dari kelompok “tak tersentuh” dan hamil dengan anak ketiga.

India memiliki kebijakan dua anak yang diterapkan secara resmi dan tak resmi disesuaikan dengan tujuan pengendalian penduduk mereka.

Rumah sakit menolak Shanti Devi dan ia meninggal di sebuat parit. Kematiannya memicu tekanan global pada India. Pengadilan di India pada akhirnya menetapkan bahwa kematian Shanti Devi merupakan tanggung jawab pemerintah India dan menetapkan definisi yang jelas untuk hak untuk kesehatan ibu.

Status Shanti Devi sebagai seorang Dalit menambah tinggi kemungkinan ia mati karena melahirkan. Kasus ini menunjukkan paradoks India, sebuah negara yang kuat secara ekonomi dan memiliki teknologi yang maju tapi di saat yang sama memiliki masalah kemiskinan dan ketimpangan.

AKI India secara keseluruhan adalah 174, lebih rendah dari standar negara dan regional. Namun, di beberapa wilayah negara tersebut, AKI-nya setinggi 300, menurut perkiraan pemerintah India sendiri.

Masalah ketimpangan di antara berbagai populasi India terus berlanjut, meskipun di semua wilayah dan di semua populasi di negara tersebut, tingkat AKI menurun.

Kematian ibu meningkat di Amerika Utara

Sayangnya, penurunan AKI tidak terjadi di Amerika Utara. AKI telah naik pada di beberapa tahun terakhir. Di Kanada tingkat kematian ibu naik dari enam pada 1990 menjadi 12 pada 2010, kemungkinan dikarenakan meningkatnya kelahiran sesar, IVF, usia melahirkan yang lebih tua, dan kondisi kesehatan lainnya.

Pada 2015, AKI kembali menjadi tujuh, meski pun krisis kematian ibu belum berakhir. Ada bukti bahwa tingkat kematian perempuan dari suku asli di Kanada secara tidak proporsional sangat tinggi.

Di Amerika Serikat, kematian ibu berbeda-beda tergantung lokasi dan status sosial. Keadaan ini terus memburuk dan tidak membaik. Tingkat kematian ibu menurun di kebanyakan negara. Namun di AS, malah meningkat.

Pada 1990, AKI di AS 12; pada 2015 14. Kenaikan tersebut lebih dramatis di Texas, di mana AKI meningkat dari 17 pada 2010 menjadi 35,8 pada 2014. Bahkan, ketika AKI dipecah untuk melihat ras, tingkat kematian ibu lebih tinggi untuk perempuan Amerika-Afrika daripada perempuan kulit putih di Texas dan di negara tersebut.

Tingkat kematian ibu meningkat untuk semua perempuan di Texas

Di Texas, sementara tingkat kematian ibu meningkat untuk semua perempuan, AKI berlipat dua selama periode 2006-2015 dari 19,4 ke 38 untuk perempuan kulit putih non-Hispanik, dan dari 41,6 ke 85,6 untuk perempuan kulit hitam non-Hispanik.

AKI untuk perempuan Hispanik juga meningkat secara dramatis dalam periode ini, dari 12,6 menjadi 20,5.

Pada 2013, saya berkesempatan melakukan penelitian di Texas selatan dengan perempuan keturunan Mexico yang tinggal sepanjang perbatasan AS-Mexico. Beberapa warga AS, sementara yang lain memiliki status imigrasi yang lebih rentan.

Semuanya mengungkapkan mereka tidak punya banyak pilihan untuk pelayanan kesehatan ibu, dan bahwa mereka tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan pemahaman penuh mengenai apa yang mereka alami selama kehamilan dan proses melahirkan karena status imigrasi mereka, bahasa dan hak asuransi kesehatan mereka.

Beberapa perempuan mengatakan mereka menjalani operasi cesar tanpa tahu alasannya, dan beberapa didorong untuk melakukan operasi untuk melahirkan yang langsung diikuti dengan sterilisasi untuk alasan-alasan kompleks yang tampak menguntungkan dan opresif pada saat bersamaan.

Kesimpulan yang bisa ditarik, dari penelitian saya dan meningkatkan tingkat kematian ibu di Texas, adalah bahwa perempuan dengan status rendah, terutama perempuan yang dinilai menurut rasnya, dan kebijakan publik yang menghukum, terutama di wilayah layanan kesehatan dan imigrasi, adalah kombinasi yang mematikan.

Pemerintah harus bertindak

Krisis kesehatan ibu adalah fokus kampanye global dan inisiatif-inisiatif dengan target spesifik. Sebagian besar fokus ditujukan untuk meningkatkan perhatian dan sumber daya untuk kesehatan ibu.

Namun, badan-badan internasional dan negara-negara melakukan lebih banyak tindakan untuk menangani faktor-faktor komplek yang melemahkan kesehatan ibu.

Tingkat kematian ibu hanya akan terus menurun jika ada perubahan sosial luas untuk semua perempuan. Pemerintah memegang peran penting dalam meneruskan masalah kematian ibu dan harus lebih bertanggung jawab untuk mengurangi kematian ibu.

This article was originally published in English