Menu Close
Unsplash, CC BY

Ketika industri perikanan terpuruk selama pandemi, riset ungkap budi daya rumput laut Indonesia justru berkembang pesat

Ketika COVID-19 melanda Indonesia, berbagai industri termasuk perikanan terimbas.

Namun, ada satu sektor justru menunjukkan tren sebaliknya: budi daya rumput laut.

Penelitian kami menunjukkan budi daya rumput laut di Indonesia berkembang pesat selama pandemi.

Ada berbagai kemungkinan alasan yang mendasari perubahan ini, termasuk kondisi lingkungan, praktik budi daya, dan dampak COVID-19.

Berkembangnya budi daya rumput laut selama pandemi sangat penting mengingat status Indonesia sebagai penghasil rumput laut hidrokoloid terbesar di dunia. Indonesia menghasilkan dua pertiga dari pasokan rumput laut hidrokoloid global.

Rumput laut jenis ini umumnya tidak dimakan tapi dijual ke pabrik untuk diolah menjadi bubuk yang digunakan untuk mengentalkan makanan seperti es krim.

Foto: Nas Moto/Unsplash.

Penelitian

Untuk memetakan budi daya rumput laut dari waktu ke waktu di sepanjang garis pantai daratan Pangkep di Sulawesi Selatan, kami menggunakan citra satelit frekuensi tinggi dan beresolusi tinggi dari PlanetLabs, perusahaan pencitraan bumi yang berbasis di Amerika Serikat.

Mengubah citra satelit menjadi peta budi daya rumput laut. Riset kami

Meski Pangkep adalah satu kabupaten yang berkontribusi pada industri rumput laut di Indonesia, metodologi yang kami gunakan memberikan gambaran tentang dampak keseluruhan COVID-19 terhadap sektor ini. Pendekatan ini bisa digunakan untuk mempelajari wilayah yang lebih luas.

Kami memetakan produksi rumput laut di sepanjang daratan Pangkep dari April 2017 hingga Desember 2020. Peta tersebut mengungkapkan bagaimana produksi rumput laut berubah sepanjang musim - hampir semua rumput laut ditanam pada paruh pertama tahun ini.

Area budi daya rumput laut di sepanjang garis pantai daratan Pangkep, Sulawesi Selatan pada setiap bulan tahun 2018. Riset Kami

Selanjutnya, kami membandingkan produksi rumput laut pada 2020 dengan tahun-tahun sebelumnya untuk melihat apakah terdapat perbedaan signifikan. Kami menemukan produksi rumput laut antara Mei dan September pada 2020 jauh lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya.

Area produksi rumput laut dari Mei hingga September 2020 secara signifikan lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Riset Kami

Kondisi lingkungan, praktik budi daya lokal, dan dampak ekonomi COVID-19, seperti gangguan perdagangan dan hilangnya pekerjaan, mungkin menyebabkan kenaikan produksi rumput laut.

1. Kondisi lingkungan

Berbagai faktor mempengaruhi laju pertumbuhan rumput laut. Hal ini termasuk suhu air, sinar matahari, salinitas, nutrisi, tingkat keasaman, ukuran benih dan materi genetik, sedimentasi, kadar oksigen air, dan infeksi penyakit.

Salinitas laut (konsentrasi garam dalam air laut) misalnya, memiliki pengaruh yang sangat kuat pada pertumbuhan rumput laut.

Salinitas Laut Jawa bervariasi sepanjang tahun karena musim hujan meningkatkan aliran sungai ke laut.

Akibatnya, pola curah hujan yang berbeda setiap tahun dapat meningkatkan atau menurunkan laju pertumbuhan rumput laut. Petani menanggapi hal ini dengan mengubah cara mereka dalam memproduksi rumput laut.

Area yang digunakan untuk produksi rumput laut seperti yang terlihat pada data satelit, dipetakan terhadap curah hujan. Produksi sangat musiman dan terkait dengan pola curah hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia

2. Praktik budi daya

Cara budi daya juga dapat mempengaruhi jumlah rumput laut yang dihasilkan. Faktor yang sangat penting adalah cara membudidayakan tanaman.

Rumput laut Indonesia diperbanyak melalui penggandaan (kloning) bibit.

Banyak petani melakukannya sendiri, sementara yang lain membeli bibit dari petani atau distributor lain.

Mengakses benih berkualitas tinggi merupakan tantangan bagi industri. Beberapa petani menghabiskan lebih dari separuh pendapatan budi daya rumput laut mereka untuk membeli benih demi panen berikutnya.

Oleh karena itu, program bantuan petani dari pemerintah dapat berdampak kuat pada kelangsungan produksi rumput laut.

Foto: Wolfgang Hasselmann/Unsplash

3. Dampak COVID-19

Meski faktor-faktor di atas dapat bertanggung jawab atas peningkatan produksi rumput laut, kemungkinan dampak ekonomi dari COVID-19 setidaknya secara parsial ikut bertanggung jawab atas perubahan tersebut.

Selama pandemi 2020, harga rumput laut turun hingga 27%.

Harga beli cottonii kering (Kappaphycus alvarezii) di seluruh Indonesia turun rata-rata 27% dari Januari hingga Desember 2020. Jasuda

Hal ini menunjukkan bahwa petani memproduksi lebih banyak rumput laut tapi menjualnya dengan harga lebih rendah daripada sebelum pandemi.

Mengapa demikian?

Meski COVID-19 mungkin berdampak pada berbagai industri di Indonesia, dampaknya terhadap budi daya rumput laut tidak terlalu parah. Ini karena rumput laut kering relatif mudah disimpan, sehingga lebih tahan terhadap gangguan rantai pasok.

Ini berarti bahwa meski harga rumput laut lebih rendah dari sebelumnya, industri ini tetap bisa lebih diminati dibandingkan dengan sektor lain yang terdampak lebih parah.

Misalnya, di beberapa wilayah di Bali, terjadi peningkatan produksi rumput laut yang sangat besar akibat hilangnya pekerjaan selama pandemi.

Foto: Jarrad Horne/Unsplash.

Meski data satelit saja tidak dapat memberikan gambaran lengkap tentang kompleksnya dampak pandemi terhadap mata pencaharian budi daya rumput laut, namun pendekatan kami dapat digunakan untuk memberikan gambaran pola dan tren yang lebih luas.

Penggunaan penginderaan jauh di area yang lebih luas bersama dengan perluasan wilayah riset dapat membantu memantau situasi ini lebih baik.


Penulis adalah peneliti Program Riset Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR/Kemitraan Riset Australia-Indonesia), yang fokus pada peningkatan hasil industri rumput laut Indonesia dan berlokasi di Sulawesi Selatan. Untuk informasi lebih lanjut dan hasil riset tim PAIR lainnya tentang jalur kereta baru dan juga pemuda dapat dilihat di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,100 academics and researchers from 3,983 institutions.

Register now