Menu Close
Kerabat korban COVID-19 berjalan melewati sebuah mobil di krematorium Nigambodh Ghat di New Delhi. SOPA Images Limited / Alamy Stock Photo

Lonjakan COVID-19 di India: sebuah krisis kemanusian sedang berlangsung

Ada banyak prediksi tentang berapa banyak orang yang terjangkit COVID-19 dan apakah negara ini atau itu telah mencapai kekebalan kawanan (herd immunity) atau belum. Kita telah melihat ini sebelumnya di Manaus, Brasil, dan di India. Optimisme ini sayangnya selalu salah tempat dan kadang-kadang digunakan secara tidak bertanggung jawab.

Kita telah melihat pendekatan untuk mencapai kekebalan kawanan secara alamiah yang diusulkan sebagai kebijakan publik di Inggris dan internasional, seperti deklarasi Great Barrington. Usulan ini telah banyak dikecam oleh pakar kesehatan, termasuk dalam memorandum John Snow. Organisasi Kesehatan Dunia menggambarkan gagasan itu sebagai “bermasalah secara ilmiah dan tidak etis”.

Keadaan darurat kemanusiaan jelas sedang terjadi di India saat ini. India adalah sebuah contoh bencana dari suatu populasi yang pasti belum mencapai kekebalan kawanan terhadap COVID-19. Ada banyak kisah tentang runtuhnya sistem kesehatan, dengan laporan tentang kekurangan oksigen untuk pasien yang dirawat di rumah sakit dan tubuh dikremasi di atas tumpukan kayu bakar di jalanan.

India mempunyai vaksin buatan lokal, yang sedang diluncurkan, termasuk vaksin AstraZeneca. Tapi proporsi populasi yang diimunisasi masih sangat sedikit, dan sayangnya, ada lebih dari cukup orang-orang yang rentan bagi virus corona terus menyebar.

A graph showing that less than 10% of the Indian population has had a COVID vaccine.
Kurang dari 10% populasi India yang telah mendapat vaksin COVID-19. Our World In Data

Angka-angka kasusnya juga mencolok. The Financial Times mengumpulkan ulasan yang serius dari data India, termasuk catatan rekor dunia baru untuk jumlah kasus baru terkonfirmasi dalam satu hari. Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat kasus-kasus yang tidak dihitung yang akan terjadi.

Tingkat positif tes (proporsi orang-orang yang dites COVID dan hasilnya positif) di India tinggi - sekitar 18%. Ini jauh di atas ambang batas WHO sebesar 10%, menunjukkan bahwa banyak kasus positif tak terlacak karena kurangnya kapasitas pengujian dan pelaporan yang tepat waktu.

Memang, salah satu masalah utama adalah kurangnya data real-time berkualitas tinggi untuk memberikan gambaran yang tepat tentang skenario yang sedang berlangsung di India. Jumlah kematian mulai meningkat drastis, dan grafik itu pasti akan terus menanjak selama beberapa minggu ke depan.

Grafik menunjukkan lintasan ke atas yang tajam dari kematian COVID.
Our World In Data

Ketika ada spekulasi tentang kemungkinan mencapai kekebalan kelompok, India relatif terhenti dengan tingkat COVID-19 yang jauh lebih rendah, vaksin menjadi tersedia, dan pandemi yang tampaknya terkendali di Asia Tenggara.

Jadi apa yang mengubah semua itu? Ada banyak fokus pada varian B1617, yang pertama kali terdeteksi di India. Masih banyak yang harus dipelajari tentang varian ini, seperti apakah varian ini lebih mudah ditularkan dan dengan demikian berkontribusi pada peningkatan penularan komunitas. Ini adalah teori yang masuk akal, tapi masih belum diketahui.

Tapi faktor adanya populasi yang rentan yang pada akhirnya mendorong penularan penyakit infeksi saluran pernafasan. Ada pernyataan berani dari tokoh politik senior, termasuk Menteri Kesehatan, Harsh Vardhan, mengatakan pada awal Maret bahwa India berada dalam “babak akhir pandemi”.

Acara yang sangat banyak

Sejak itu, ada pertemuan massal di India. Pada Maret dan April, ada pemilihan tingkat negara bagian di beberapa negara bagian India, yang disertai dengan kampanye terkait dan perkumpulan orang banyak. Fans menghadiri pertandingan kriket internasional antara India dan Inggris, dengan stadion penuh orang dan sedikit yang memakai masker. Dan sudah ada beberapa festival keagamaan besar, seperti Kumbh Mela yang diadakan setiap 12 tahun sekali dan dihadiri jutaan orang.

Ada contoh terbaru dari Cina, Arab Saudi, dan Israel. Acara kalender keagamaan utama di sana telah dibatalkan atau diperkecil skalanya, untuk mengurangi bertemunya orang yang terinfeksi dan rentan selama pandemi. Ini termasuk Haji dan Tahun Baru Cina.

India mungkin telah mengurangi sedikit perayaan mereka, tapi jutaan orang telah berkumpul untuk Kumbh Mela di berbagai tempat, dan ribuan kasus virus korona baru sudah dikonfirmasi pada orang yang menghadiri acara itu.

Indian holy men and other pilgrims take the holy dip in the Ganges River during the Kumbh Mela at Haridwar, Uttarakhand, India, April 14 2021.
Orang suci India dan peziarah lainnya berendam di Sungai Gangga selama Kumbh Mela di Haridwar, Uttarakhand, India, 14 April 2021. Idrees Mohammed/EPA

Efek berantai

Institut Serum India adalah salah satu bangunan terpenting di dunia saat ini. Perusahaan ini sedang memproduksi vaksin AstraZeneca dalam jumlah besar, dan merupakan penyedia utama bagi banyak negara termasuk Inisiatif Covax.

Namun, ekspor dari India telah berkurang dalam minggu-minggu terakhir dan ini tidak mengherankan melihat pemerintah India bergerak untuk menyimpan lebih banyak lagi vaksin berharga di India.

Ini akan mempengaruhi pasokan untuk negara-negara berpenghasilan rendah lainnya. Akan ada efek lanjutan yang signifikan dari krisis kemanusiaan di India yang akan membuat pandemi berlangsung lebih lama. Ini menunjukkan bagaimana ketergantungan pada beberapa lokasi manufaktur untuk produk vital (vaksin) seperti itu rentan terhadap konsekuensi yang mematikan.

Ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan global. Saat petugas pemadam kebakaran dipanggil ke gedung yang terbakar, mereka sudah membeli dan memasang selang terlebih dulu. Pemadaman kebakaran kesehatan masyarakat selama pandemi hampir tidak mungkin dilakukan ketika alat utama untuk memadamkan api (vaksin) tidak tersedia selama 12 bulan pertama dan setelah itu terjadi kekurangan pasokan.

Dunia membutuhkan semua vaksin yang dapat diperoleh, jadi faktor-faktor seperti keadilan distribusi dan kepercayaan publik harus diperhatikan untuk memastikan bahwa AstraZeneca dan vaksin lainnya dibuat untuk tersedia di mana-mana dan tidak hanya untuk negara-negara kaya.

Sementara negara-negara di seluruh dunia menyaksikan apa yang terjadi di India, “India berikutnya” mudah terjadi di dekat kita. Berapa banyak kematian yang harus terjadi dulu sebelum kerja sama global mampu menyingkirkan sikap “saya duluan” dari negara-negara kaya?

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 126,800 academics and researchers from 4,019 institutions.

Register now