Menu Close
Perempuan petani di Pare, Jawa Timur, memiliki andil besar dalam proses produksi bawang merah di daerah mereka. Author provided (no reuse)

Marginalisasi perempuan di sektor pertanian Jawa Timur didorong pengaruh aspek budaya dan psikologis

Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret.


Banyak penelitian mengakui kontribusi vital perempuan dalam sektor pertanian khususnya di negara berkembang.

Namun, tidak sedikit penelitian yang mengungkapkan diskriminasi dan marginalisasi terhadap perempuan di sektor tersebut baik di negara berkembang maupun di negara maju sekalipun.

Riset global dari Coteva AgriscienceTM, platform berbasis website yang menghubungkan konsumen dengan informasi seputar pertanian, menunjukkan bahwa diskriminasi gender di pertanian masih ditemukan di 17 negara di seluruh dunia dengan rentang 78% perempuan di India sampai dengan 52% di Amerika Serikat mengalami diskriminasi.


Read more: Bagaimana menguatkan perlindungan perempuan? Perkuat peran Komnas Perempuan


Ketidaksetaraan gender di sektor pertanian juga terjadi di Indonesia.

Penelitian kami menemukan adanya marginalisasi terhadap perempuan petani di Pare, Kabupaten Kediri dan di Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan perempuan peternak di Ngantang dan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Marginalisasi ini terjadi karena adanya hambatan kultural dan psikologis.

Aspek kultural

Umumnya, perempuan petani bawang merah di Pare (Kabupaten Kediri) dan Leces (Kabupaten Probolinggo) terlibat dalam proses produksi mulai dari penyiapan bibit, penanaman, penyiraman, panen, dan pemasaran produk.

Mereka tidak terlibat dalam penyiapan lahan dan pemupukan karena pekerjaan ini membutuhkan tenaga yang besar sehingga lebih banyak dikerjakan oleh laki-laki.

Tradisi bercocok tanam bawang merah di Pare sudah dilakukan secara turun-temurun. Author provided

Khusus di Leces, karakter budaya perempuan suku Pendalungan (suku mayoritas asimilasi Jawa Madura) sebagai pekerja keras membuat mereka aktif terlibat dalam semua tahapan produksi bawang merah dan membentuk cara kerja yang spesifik. Hal ini terlihat dari keterlibatan mereka dalam penyiraman dan pengendalian hama.

Namun, pengetahuan tradisional yang kuat ini juga membuat perempuan petani di Leces sulit mengubah cara bertani mereka dan akhirnya kurang membuka pintu bagi pengetahuan dan informasi baru tentang cara bertani bawang merah.


Read more: Ketimpangan akses akibatkan perempuan lebih rentan saat terjadi bencana alam


Sementara, perempuan petani di Pare memiliki keterbatasan dalam informasi pengendalian hama dan penyakit karena mereka rata-rata tidak terlibat dalam proses ini. Hal ini membatasi kontrol mereka terhadap manfaat bertani bawang merah, terutama ekonomi.

Penelitian kami menemukan bahwa perempuan petani bawang merah di Leces cenderung memiliki kontrol terbatas atas penghasilan pertanian mereka karena masih didominasi oleh laki-laki.

Yang menarik, kami menemukan ada paradoks terhadap akses ke manajemen keuangan.

Pada keluarga petani miskin, perempuan cenderung diberi akses pada pengelolaan penghasilan. Sementara, keluarga petani yang lebih kaya, perempuan tidak diberi akses mengelola penghasilan mereka.

Hal ini mengindikasikan bahwa perempuan tidak dipercaya untuk mengelola pendapatan yang besar, namun dituntut untuk mampu mengelola pendapatan yang terbatas.

Di Karangploso (Kabupaten Malang), budaya beternak sapi perah hanya diturunkan kepada anak laki-laki, sehingga perempuan tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang peternakan.

Kami juga menemukan bahwa perempuan menunjukkan potensi melakukan terobosan melalui aktivitas kolektif dengan membentuk kelompok perempuan peternak, seperti yang terjadi pada perempuan peternak sapi perah di Ngantang (Kabupaten Malang).

Melalui kelompok-kelompok ini, perempuan peternak di Ngantang aktif untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam proses produksi dan bahkan mencari alternatif produk yang bisa diolah dari susu sapi, sehingga mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan selain menjadi pemasok pabrik susu.

Salah satu sesi FGD kami dengan para perempuan peternak di Ngantang, Kabupaten Malang. Author provided

Sayangnya, kami menemukan bahwa kontruksi budaya yang partriarki membuat para perempuan petani dan peternak masih melihat peran mereka hanya melengkapi peran laki-laki di kedua sektor tersebut.

Aspek psikologis

Konstruksi budaya yang menjadi hambatan besar bagi perempuan petani untuk mendapatkan hak yang setara dalam sektor pertanian memengaruhi mereka secara psikologis.

Perempuan menjadi pasif – dan dalam kasus tertentu – menerima konstruksi paradoks yang membuat mereka bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan keluarga dalam kondisi apapun, seperti yang terlihat pada studi di Leces, Probolinggo. Yang miskin harus mampu bertahan dengan penghasilan yang ada, sementara yang kaya malah tidak diberikan akses untuk mengelola uang hasil pertanian.

Kami juga menemukan bahwa perempuan peternak sapi di Karangploso, Malang, merasa sungkan untuk mengikuti program-program penyuluhan dari pemerintah karena yang hadir mayoritas laki-laki.

Padahal, mereka memiliki peran yang vital dalam hampir semua tahapan proses produksi, dari meramu pakan, membersihkan kandang, mengidentifikasi penyakit dan vaksinasi, inseminasi, hingga pemerahan susu. Kecuali, pencarian pakan ternak yang dominan dilakukan laki-laki.


Read more: Konferensi iklim masih didominasi laki-laki, saatnya meningkatkan keterlibatan perempuan


Untuk studi ini, kami mengumpulkan data dengan melakukan diskusi kelompok terarah (focus group discussion) yang melibatkan sekitar 10-20 perempuan peternak sapi perah dan petani bawang merah di tiap-tiap wilayah. Pengambilan data dilakukan pada paruh kedua tahun 2016.

Dalam diskusi tersebut, kami bertanya tentang pembagian kerja dalam rumah tangga, ladang dan peternakan antara suami dan istri, termasuk dalam pengambilan keputusan, dan beban kerja, kendala dalam bekerja, akses terhadap layanan dan informasi, serta akses dan kontrol terhadap pendapatan dari hasil pertanian dan peternakan.

Apa yang bisa dilakukan

Melihat bagaimana konstruksi budaya terhadap peran perempuan di pertanian menghambat akses, kontrol, dan manfaat bagi perempuan petani itu sendiri, maka perlu adanya transformasi kebudayaan, baik melalui upaya-upaya yang bersifat intervensi maupun partisipasi.

Kolektivitas perempuan bisa menjadi pintu masuk strategis baik bagi kedua upaya tersebut. Bentuk semacam ini bisa berupa pembentukan kelompok atau grup petani atau peternak yang beranggotakan perempuan, seperti yang dilakukan di Ngantang, Kabupaten Malang.

Adanya kelompok perempuan peternak, mendorong mereka untuk melakukan terobosan-terobosan yang bisa meningkatkan penghasilan, misalnya dengan diversifikasi produk olahan susu sapi perah. Sehingga, tidak hanya dijual mentah ke pemborong, namun bisa menjadi sumber penghasilan tambahan dan bentuk kreativitas ekonomi perempuan peternak.

Kedua, adanya proses partisipasi dari perempuan peternak dalam mengambil keputusan secara kolektif diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka dan menyadari pentingnya peran mereka yang setara dengan laki-laki, yaitu sebagai penyumbang ekonomi pedesaan, bukan hanya sebagai pelengkap.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 135,400 academics and researchers from 4,192 institutions.

Register now