Menu Close
Members of BTS at the 61st Grammy Awards in Los Angeles.
Anggota BTS di Grammy Awards ke-61 di Los Angeles. (Shutterstock)

Melalui musik dan film, gelombang baru Korea berupaya menantang stereotip terkait orang Asia

Pada gelaran Oscar tahun 2021, Chloé Zhao menjadi perempuan non-kulit putih pertama yang memenangkan penghargaan untuk sutradara terbaik atas film nya, Nomadland. Youn Yuh-jung juga menjadi aktris Korea pertama yang memenangkan Oscar untuk perannya di film Minari.

Setelah puluhan tahun dikesampingkan dan dicap dengan berbagai stereotip oleh Hollywood, orang Asia Timur akhirnya diakui di industri film dunia barat.

Pengakuan ini adalah hal yang patut dirayakan – tapi jalan masih panjang.

Selama beberapa dekade, industri film barat yang didominasi orang kulit putih seakan membatasi aktor Asia pada peran stereotip tertentu dan bahkan memainkan aktor kulit putih untuk memainkan karakter Asia. Namun, keberhasilan berbagai orang Asia baru-baru ini di industri film mulai membuka pintu bagi peran-peran Asia yang lebih besar lagi.

Sebuah gelombang baru Korea membantu meruntuhkan berbagai batasan nyang ada dan merombak ulang representasi orang Asia di media barat secara signifikan.


Read more: Oscars 2021: bagaimana pandemi menghasilkan deretan nominasi dan pemenang yang paling beragam dalam sejarah


Kekuatan representasi

Saya tumbuh besar dengan menonton film Hollywood di Korea Selatan dan sangat menyukai Katharine Hepburn. Perannya dalam film tahun 1944 Dragon Seed meninggalkan kesan yang mendalam.

Dalam film tersebut, Hepburn memainkan peran sebagai seorang perempuan Cina dengan riasan wajah yang aneh.

Ketika saya pertama kali melihat film itu, saya baru berusia delapan tahun dan belum pernah ke Cina. Tapi, saya tahu seperti apa rupa orang Cina dan mereka tidak seperti yang direpresentasikan di dalam film.

Saya bertanya-tanya apakah memilih Hepburn sebagai peran ini murni karena tidak ada orang Asia di Amerika, atau karena perempuan Asia tidak secantik Hepburn. Budaya Hollywood seakan memprogram otak saya untuk meyakini bahwa perempuan Asia tidak bisa menjadi karakter utama karena kami tidak menarik.

Youn Yuh-jung berpose di ruang press di Oscar.
Youn Yuh-jung memenangkan Oscar untuk aktris pendukung terbaik untuk perannya di Minari. (AP Photo/Chris Pizzello, Pool)

Meski hampir 50 tahun telah berlalu sejak kebijakan multikulturalisme di Kanada, orang-orang Asia masih menghadapi diskriminasi dan stereotip sebagai “model minoritas yang ideal”.

Seiring meningkatnya rasisme anti-Asia selama pandemi dan serangan kekerasan baru-baru ini di Amerika Serikat (AS) dan Kanada, orang-orang Asia semakin takut akan keberadaan mereka di masyarakat Amerika Utara.

Sebagai instruktur bahasa Korea di Carleton University, Kanada, kelas saya terdiri atas siswa dari berbagai latar belakang budaya dan etnis. Di salah satu kelas, saya memutuskan untuk menampilkan video musik band K-pop BTS untuk mengenalkan siswa pada budaya Korea kontemporer.


Read more: Saat anak-anak bernyanyi dan bermain, mereka bisa menjadi ilmuwan


Setelah memainkan lagu DNA oleh BTS, saya terkejut melihat bagaimana lagu ini mampu meruntuhkan tembok budaya dan bahasa. Murid yang belum pernah berbicara kepada satu sama lain mulai mengobrol seperti sudah lama saling kenal.

Hal ini terkait dengan penelitian yang menunjukkan bahwa musik dapat menyatukan orang.

Para pelajar Asia Timur terus melihat kesuksesan artis K-pop sebagai pencapaian mereka sendiri. Salah satu murid saya, seorang imigran generasi kedua dari Vietnam berkata: “Saya merasa berhutang budi kepada BTS. Saya terluka karena saya kurang terwakili dalam masyarakat di mana saya berada, tetapi saya merasa mereka telah menyembuhkan rasa sakit hati saya.”

Dalam sejarah panjang budaya pop Barat, budaya non-Barat terlalu sering digambarkan sebagai subkultur norak atau ras minoritas yang diremehkan. Munculnya K-pop membantu mengatur ulang stereotip ini. Dalam komunitas Asia di Amerika Utara, hal ini menjadi obat bagi mereka yang terus-menerus dibuat merasa seperti orang asing di negara mereka sendiri.

Gelombang Korea

Dari BTS, kompetisi video game, hingga K-drama populer 2016, Goblin, gelombang Korea mengambil hati penonton di dunia barat secara besar-besaran.

Netflix berencana mengucurkan dana $500 juta (hampir Rp 7,2 triliun) tahun ini untuk film dan serial TV buatan Korea Selatan. Film dan drama Korea seperti Parasite, Train to Busan, dan serial klasik tahun 2006, The Host telah menerima respons positif dari masyarakat global maupun di Amerika Utara.

Seorang laki-laki dengan tuksedo melambai dan membawa penghargaan.
Bong Joon-ho, sutradara Parasite dan The Host, pada Palme d'Or Awards 2019 di Cannes, Prancis. (Shutterstock)

Drama Korea secara konsisten memberikan pertunjukkan ciamik melalui teknik bercerita yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah drama Korea Kingdom, serial asli Korea pertama Netflix.

Kingdom lebih dari sekadar pertunjukan zombi klise. Dengan penggambaran alamn yang spektakuler dan karakter yang kompleks, Kingdom bertahan sebagai serial yang populer di tengah kompetisi tontonan siap tayang (on-demand streaming) yang sangat gencar. Ini menantang anggapan bahwa konten-konten dengan pemeran utama Asia punya kualitas lebih rendah.

Masuknya gelombang konten Korea dapat berkontribusi besar dalam mengurangi rasisme dan mengubah persepsi terkait orang Asia Timur dengan menormalisasi kehadiran orang Asia di layar, majalah, radio dan di masyarakat yang lebih luas.


Read more: Bagaimana "Parasite" menjungkirbalikan dominasi Hollywood di Oscars


Sebagai orang Korea, saya merasa puas saat menonton serial dan film yang dipenuhi wajah seperti saya, menggambarkan karakter yang kompleks dan menceritakan kisah yang tidak dibatasi oleh stereotip Barat.

Tentu, masih ada berbagai rintangan besar menghambat orang Asia masuk ke tayangan dan perfilman arus utama. Namun, konten Korea adalah cara ampuh untuk memberikan representasi Asia yang sehat dan melawan stereotip rasis.

Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,500 academics and researchers from 4,520 institutions.

Register now