Greta Thunberg memimpin gerakan tentang perubahan iklim di Brussel, Belgia. www.shutterstock.com

Melawan perubahan iklim dengan mengubah sistem: Belajar dari aktivis muda lingkungan Greta Thunberg

Greta Thunberg, aktivis iklim Swedia berusia 16 tahun, menyerukan perubahan sistem. Pada konferensi pers di Brussel, Belgia, dia mengatakan kepada Komisi Eropa (European Commission) bahwa kita perlu mengubah sistem politik dan ekonomi kita untuk melawan perubahan iklim. Pesan ini terus diulang di berbagai poster dan seruan dalam aksi mogok pelajar sekolah melawan perubahan iklim yang dia pelopori di seluruh dunia.

Aksi yang bermula pada Agustus 2018, telah mejadi gerakan sosial dengan 1.659 pemogokan di 105 negara.

Tetapi, apa itu perubahan sistem? Bagaimana seluruh sistem berubah? Ketika kita melihat contoh kegiatan “menyelamatkan bumi”, kegiatan tersebut terlihat seperti keputusan pribadi yang tidak menghabiskan banyak biaya, seperti berhenti menggunakan tas plastik atau sedotan. Hal-hal tersebut masih bisa Anda lakukan, tetapi jangan pikir hal-hal seperti ini termasuk dalam upaya mengubah sistem.

Kebanyakan orang tidak tahu bagaimana mengubah sistem politik, ekonomi, dan sosial. Pada akhirnya mereka hanya melakukan gestur simbolik yang bisa saja sebenarnya memperpanjang masalah. Ada juga pertanyaan tentang bagaimana mengatasi kepentingan pribadi pihak-pihak yang berkuasa yang diuntungkan dari sistem sekarang ini. Namun, ada riset yang dapat membantu kita memahami perubahan sistem.

Teori Neo-institusional adalah salah satu pendekatan untuk memahami bagaimana dan mengapa orang berorganisasi secara kolektif. Orang-orang menciptakan makna, mengikuti aturan, dan mereproduksi struktur–seperti ruang kelas, bisnis, kantor, dan ruang komunitas–berdasarkan asumsi tentang apa yang benar dan tepat. Ruang kelas terlihat serupa bukan karena setiap kali kita mengaturnya, kita secara rasional memutuskan bagaimana melakukannya, tetapi karena asumsi kita tentang bagaimana sebuah ruang kelas seharusnya terlihat.

Karena kita adalah bagian dari struktur ini, kita mereproduksi norma dan kepercayaan yang ada dan menolak perubahan. Perubahan sistem terjadi ketika kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang memungkinkan semakin banyak orang mempertanyakan status quo.

Menyisir horizon

Thunberg memberi tahu kita bahwa sistem politik dan ekonomi kita saat ini tidak cocok untuk dijalankan. Dia menunjukkan masalah yang sebenarnya.

Butuh waktu untuk merubah sistem. Penelitian saya tentang gerakan LGBT di Irlandia mendokumentasikan upaya-upaya gerakan tersebut selama 40 tahun. Homoseksualitas yang dulunya merupakan kejahatan, menjadi sesuatu yang dirayakan sebagai gerakan progresif. Referendum yang memperbolehkan kaum homoseksual menikah baru disahkan dalam satu hari pada 2015 di Irlandia, tapi upaya orang untuk mencapai hal tersebut dan mengubah sistem menghabiskan puluhan tahun.

The Three Horizons Framework can help explain the different factors that lead to changing systems. Horizon one is business as usual – the status quo – and the outgoing institution in times of change. Horizon three is the new institution – with newly legitimised structures and beliefs. The space between them is horizon two, which is occupied by people focused on social change – who lead the transition from an old system to the new.

Konsep Three Horizons Framework dapat membantu menjelaskan berbagai faktor yang menyebabkan perubahan sistem. Horizon pertama adalah situasi bisnis seperti biasa, kekuaran status quo, dan lembaga yang menghilang pada masa-masa perubahan. Horizon ketiga adalah institusi baru, dengan struktur dan kepercayaan yang baru dilegitimasi. Di antara keduanya adalah horizon dua, yang ditempati oleh orang-orang yang fokus pada perubahan sosial. Merekalah yang memimpin transisi dari sistem lama ke sistem baru.

79/5000. Perubahan bisa tampak tiba-tiba, tetapi biasanya itu terjadi setelah bertahun-tahun merubah keyakinan. Sheila Cannon, Author provided

Kebanyakan orang mengenali masalah dalam sistem dan ingin membantu masyarakat pindah ke sesuatu yang lebih berkelanjutan. Produk-produk seperti sikat gigi bambu hadir untuk menjawab kekhawatiran tersebut. Tetapi produk ini dijual dalam kemasan plastik, dikirim ke seluruh dunia, lalu produksi dan distribusinya masih mengkonsumsi bahan bakar fosil. Intinya produk ini tidak berkontribusi apa pun untuk mengubah sistem ekonomi atau politik yang ada karena produk tersebut justru memicu perubahan iklim. Menantang elit politik dan ekonomi secara kolektif cenderung lebih efektif dalam memaksakan transisi ini.

Ketika aspek-aspek horizon tiga muncul, awal dari sebuah sistem yang lebih berkelanjutan, mereka biasanya ditolak karena dianggap tidak sah atau terlalu radikal. Ketika Rosa Parks, aktivis kulit hitam Amerika Serikat, duduk di bangku bis bagian depan untuk memperjuangkan hak sipil di Amerika pada tahun 1955, aksinya dikutuk. Menengok ke belakang setelah perubahan sistem terjadi, orang-orang ini dipandang sebagai pemimpin.

Akhir dari kapitalisme?

Sistem kapitalisme saat ini terus diperdebatkan di media arus utama. Hal ini menandakan bahwa sistem tersebut kehilangan legitimasinya yang sebagian besar karena kegagalan sistem ini untuk merespons perubahan iklim secara efektif.

Menerapkan semua yang telah saya pelajari tentang bagaimana sistem berubah, mungkin kita bisa membayangkan sistem yang menopang kapitalisme–yang kita anggap sebagai horizon satu–ditempati oleh mereka yang terus memproduksi, menjual, dan mengkonsumsi produk dan layanan yang bergantung pada bahan bakar fosil. Itu sebagian besar dari kita, tetapi horizon satu juga didukung oleh mereka yang menyangkal terjadinya perubahan iklim dan investor energi fosil.

Sistem yang lebih berkelanjutan dapat menerapkan kebijakan yang saat ini kita anggap “ekstrem”, seperti pendapatan dasar universal. Ini adalah upah yang dibayar kepada semua orang terlepas berapa jumlah kekayaan mereka yang dapat membantu memutus siklus produksi dan konsumsi yang mencemari atmosfer dan memenuhi lautan dengan sampah plastik. Bukti menunjukkan ada semakin banyak dukungan pendapatan dasar universal terutama di kalangan anak-anak muda.

Aksi mogok sekolah di Brisbane, Australia, 15 Maret 2019. EPA-EFE/DAN PELED

Memperluas Hak Asasi Manusia (HAM) ke makhluk hidup lain dan bahkan ke ekosistem adalah gagasan lain yang saat ini tampaknya radikal, tetapi mulai diperhatikan beberapa orang dan dapat menentukan sistem alternatif di masa depan. Satu hal yang pasti, suatu hari nanti kita akan malu jika sadar bagaimana manusia memperlakukan alam dengan buruk, seperti yang sudah dilakukan banyak orang di masa kini.

Jika para demonstran yang berjuang melawan perubahan iklim dapat terus menumbuhkan gerakan mereka dan mempertahankan momentum, kepemimpinan mereka dapat menjadi bagian penting dari transisi masyarakat ke sistem yang lebih berkelanjutan di horizon ketiga.

Sistem mungkin tampak permanen, tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut pasti berubah seiring waktu, dan pada akhirnya diciptakan dan diperkuat oleh kita. Tetapi untuk mengubah sesuatu, orang harus mempertanyakan terlebih dahulu apa peran mereka di dalam sistem tersebut.

Jamiah Solehati menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English