Mengapa berbohong saat wawancara kerja itu salah?

Beberapa hal yang harus Anda ketahui sebelum wawancara kerja. fizkes/Shutterstock

Mendapatkan pekerjaan baru itu sulit.

Saya mengetahui ini bukan hanya karena penelitian saya sendiri sebagai seorang profesor yang mempelajari persinggungan bisnis dan etika, tapi juga karena banyaknya kandidat yang saya wawancara untuk perusahaan-perusahaan besar di karier saya sebelumnya.

Pengalaman ini yang saya ingat ketika saya memikirkan tentang sebuah masalah yang telah saya lihat dan dengar baru-baru ini: kapan berbohong itu etis dalam wawancara kerja?

Para filsuf dan ahli etika telah mengidentifikasi banyak aliran pemikiran tentang apa yang membuat tindakan tertentu secara etis itu “baik” dan bukan “jahat.”

Berikut adalah tiga pemikiran, dari sudut pandang saya, yang dapat membantu kita memutuskan tentang apa yang benar atau tidak terkait berbohong dalam wawancara kerja.

1. Bagaimana jika semua orang berbohong?

Mari mulai dengan sebuah pendekatan yang disebut deontologi. Para deontolog meyakini bahwa sesuatu itu baik atau jahat tergantung dari struktur tindakan itu sendiri.

Filsuf Immanuel Kant merangkum ini dalam “prinsip universalitas” miliknya, yang meringkas persoalan mengenai etika menjadi sebuah pertanyaan sederhana: “Jika semua orang melakukan hal yang sama, akankah tindakan itu gagal mencapai tujuan?”

Contohnya, apabila semua orang mencuri, maka konsep kepemilikan tidak akan ada artinya. Oleh karena itu, mencuri itu tidak bermoral. Jika semua orang saling merendahkan satu sama lain, maka tidak seorang pun akan memiliki rasa hormat, dengan demikian, tidak menghormati orang lain adalah tidak bermoral.

Dan kembali lagi pada wawancara kerja, apabila semua orang berbohong, maka tidak ada yang bisa dipercaya, dan keputusan merekrut orang akan dilakukan seenaknya dan dan acak. Intinya, deontologi menjelaskan bahwa berbohong itu selalu salah karena jika semua orang berbohong, komunikasi manusia akan hancur total.

2. Apakah ada kepentingan lebih besar yang menjadi pertimbangan?

Tapi, bagaimana jika seseorang memiliki alasan yang tepat untuk berbohong dalam wawancara kerja? Mungkin orang tersebut tidak memiliki pekerjaan dan harus menghidupi anak-anaknya. Dalam hal itu, dia mungkin menganggap bahwa berbohong selama wawancara tidak sebanding dengan manfaat yang lebih besar dalam mencukupi kebutuhan untuk keluarganya.

Pendekatan ini menggunakan sudut pandang yang lebih konsekuensialis, yang melihat tindakan itu bermoral atau amoral bukan dari sifat tindakan itu sendiri, namun dari akibat tindakan tersebut.

Para filsuf seperti John Stuart Mill dan Jeremy Bentham, sebagai contoh, berpendapat bahwa apabila suatu tindakan menghasilkan manfaat yang bermakna bagi cukup banyak orang, dan membatasi kerugian pada orang lain, maka tindakan tersebut pasti bermoral.

Konsekuensialisme menyatakan bahwa tindakan yang tampaknya jahat pun bisa benar secara moral jika itu membawa hasil yang baik bagi banyak orang. Dalam pendekatan filosofis ini, seseorang mungkin membenarkan mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin, atau bahkan membunuh seseorang yang merupakan ancaman bagi orang lain.

Jadi, bagaimana hubungannya dengan wawancara kerja?

Tidak ada cara untuk menilai ini secara sempurna, tapi jawabannya, menurut saya, umumnya tidak. Manfaat dari mendapatkan pekerjaan dan penghasilan secara pribadi harus ditimbang terhadap kerugian yang ditimbulkan pada individu yang seharusnya mendapatkan pekerjaan seandainya tidak ada kebohongan.

Artinya, jika kita mendapatkan pekerjaan dengan berbohong, kita menghalangi rezeki orang yang lebih memenuhi syarat yang seharusnya mendapatkan pekerjaan itu.

Orang juga harus memperhitungkan kerugian yang mereka lakukan terhadap rekan kerja, atasan, dan pemilik perusahaan, yang mungkin mengandalkan si pegawai baru atas keterampilan atau pengalaman yang tidak mereka miliki.

3. Akankah benar-benar menguntungkan kita?

Akhirnya, individu harus mengkaji sejauh mana pekerjaan itu secara realistis akan menguntungkan mereka dalam jangka panjang. Untuk mengatasinya, mari kita lihat standar moral ketiga: standar egois etis. Penganut egois etis memiliki pendekatan moral yang agak berbeda, mereka meyakini bahwa hal yang benar untuk dilakukan seseorang adalah apa pun yang akan membantu dia maju.

Peraturan moralitas yang abstrak kurang penting bagi egotis ketimbang melakukan sesuatu yang terbaik untuk diri mereka sendiri. Kebohongan dalam wawancara kerja paling sering dilakukan dalam perspektif ini.

Oleh karena itu, pertanyaan satu-satunya dalam pikiran orang egois etis adalah seberapa besar manfaat yang dapat mereka terima dari berbohong dalam wawancara kerja. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan dari perspektif ini, berbohong bukanlah ide yang baik.

Ketika orang-orang berbohong dalam pekerjaan, yang paling sering dibesar-besarkan adalah antara kecocokan mereka dengan persyaratan pekerjaannya dan mengklaim keterampilan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Sebuah tinjauan penelitian pada tahun 2005 mengidentifikasi hampir 200 penelitian yang menyimpulkan bahwa orang-orang kurang bahagia ketika ada di pekerjaan yang tidak sesuai dengan mereka. Kinerja mereka juga buruk.

Singkatnya, berbohong dalam wawancara kerja meningkatkan kemungkinan orang akhirnya kembali lagi mencari pekerjaan lain. Dan di dunia digital saat ini, terdapat pula risiko tinggi ketahuan berbohong.

Namun, beberapa orang tetap berbohong dalam wawancara kerja dan ada banyak artikel yang membuat orang yakin bahwa pada hal-hal tertentu, berbohong itu perbuatan benar.

Akan tetapi, menurut penelitian, tidak ada perspektif moral - atau bahkan manfaat bagi diri kita sendiri - yang mendukung perilaku berbohong dalam wawancara kerja.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 95,700 academics and researchers from 3,111 institutions.

Register now