Menu Close

Mengapa orang super kaya suka mengambil risiko lebih besar daripada kita semua?

Ilustrasi kapal selam Titan. Amnat Phomuang/Shutterstock

Seperti kebanyakan orang, saya menyaksikan terungkapnya tragedi kapal selam Titan dengan perasaan ngeri. Kami membicarakannya di kafe, spontan mengecek berita yang masuk ke ponsel kami, dan bertanya-tanya mengapa ada orang yang benar-benar membayar untuk mengalami risiko seperti itu.

Apakah miliarder seperti ini pada akhirnya memang hanya narsistik atau bodoh? Apakah perilaku sembrono mengambil risiko sudah ada dalam DNA mereka?

Ternyata ada banyak penelitian yang mencakup sejumlah bidang psikologi tentang mengapa orang kaya suka mengambil risiko. Satu riset, diterbitkan di jurnal Nature, menyelidiki bagaimana kepribadian 1.125 orang di Jerman dengan kekayaan bersih minimal €1 juta (Rp 16,3 miliar) – tidak semua orang ini masuk kategori “super kaya” – berbeda dari kita semua.

Riset tersebut menunjukkan bahwa orang-orang dengan pendapatan yang relatif lebih tinggi ini biasanya ekstrover dan, yang terpenting, toleran terhadap risiko. Ini berarti mereka mungkin memang lebih tertarik mencari sensasi dan mengambil risiko, dalam hal petualangan dan olahraga ekstrem.

Namun, sebagai seorang ahli, yang saya pikirkan kemudian adalah tentang teka-teki ayam dan telur. Mana yang lebih dulu? Kekayaan besar atau terbentuknya kepribadian spesifik tersebut? Apakah uang membentuk kepribadian, atau apakah kepribadian memungkinkan orang tersebut mengembangkan kekayaannya?

Jawabannya adalah sedikit dari keduanya. Kepribadian mengambil risiko kemungkinan besar dapat membantu kamu menghasilkan uang. Namun, ketika kamu telah memperoleh kekayaan yang sangat besar, kemungkinan besar kamu juga merasakan banyak keamanan dalam hidupmu – kamu tidak perlu khawatir mau makan apa, atau apakah kamu mampu menghangatkan diri di rumah ketika musim dingin. Beberapa mungkin mengalami ini dengan perasaan hidup mereka sedikit “terlalu aman”.

Sosiolog Prancis, Pierre Bordieau berpendapat bahwa cara kita berada di dunia ini – atau “habitus” kita – adalah bagian dari diri kita. Orang-orang dari budaya yang berbeda atau yang memiliki sejarah tertentu cenderung berbagi habitus – artinya kehidupan bermasyarakat pada akhirnya dapat membentuk pola pikir seseorang.

Ambil contoh tentang berapa banyak uang yang kita miliki. Orang kaya tidak menganggap mobil sport sebagai hal yang di luar jangkauan – lebih sebagai ide terkait barang apa yang bisa mempercantik parkiran rumah mereka. Kekayaan mereka secara sebagian membentuk pandangan mereka tentang dunia dan bagaimana mereka hidup di dalamnya. Jika mengambil risiko adalah bagian dari kepribadian orang kaya, itu akan menjadi pengalaman yang relatif normal dalam keterlibatan mereka sehari-hari dengan dunia.

Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa kepribadian tidak terpaku (tidak tetap) – kepribadian berubah sepanjang hidup seiring dengan pengalaman-pengalaman kita. Misalnya, pengalaman baru dalam hidup, seperti pindah ke universitas atau memiliki anak, dapat mengubah pandanganmu terhadap dunia sedemikian rupa sehingga kepribadian dan caramu berinteraksi dengan dunia juga berubah.

Jika kamu mengambil banyak risiko dalam kehidupan sehari-hari, ini menjadi cerminan dari hal-hal yang membentuk jati dirimu. Ini kemudian meningkatkan kepribadian “pengambil risiko”, yang membuatmu mengambil risiko lebih banyak, dan seterusnya. Ini mungkin menjelaskan mengapa banyak orang kaya akhirnya menjadi pengambil risiko, entah itu ada dalam gen mereka atau tidak.

Hidup dengan otentik

Orang kaya mungkin memandang pengambilan risiko agak berbeda dengan cara pandang kita, seperti saya, yang menganggap diri kita itu cenderung menghindari risiko (risk averse).

Kegiatan yang berbahaya, bagi saya, itu tidak cocok dengan gaya kepribadian saya sendiri. Jadi, jika kemudian saya terlibat dalam sesuatu yang berpotensi berisiko, di luar pengalaman habitus normal saya, saya merasa sangat tidak nyaman. Untuk para penghindar risiko, mantra “menjalani hidup dengan sepenuhnya” (living life to the fullest) tidak berarti harus mencoba olahraga lompat dari titik ketinggian (base jumping) atau pendakian bebas – ini semua tidak sesuai dengan pengalaman mereka.

Miliarder Richard Branson menerima sayap astronotnya
Miliarder Richard Branson menerima sayap astronotnya. wikipedia, CC BY-SA

Dengan logika ini, masuk akal jika orang kaya terlibat dalam pengalaman yang berisiko. Mengendarai mobil cepat, bermain ski, dan terjun payung adalah wujud umum dari penerimaan risiko semacam ini bagi banyak orang. Namun, jika kamu sangat kaya, akan ada lebih banyak lagi contoh ekstrem dari pengalaman yang sangat berbahaya, yang pada akhirnya dapat membantu mereka menjalani kehidupan yang “otentik” – jujur dan selaras dengan jati diri mereka.

Menariknya, cara menjalani hidup secara otentik yang menghindari risiko tidak dianggap memiliki nilai sosial yang tinggi. Kita sering berasumsi bahwa untuk dapat menikmati hidup sepenuhnya, kita harus punya pengalaman arung jeram, menunggang kuda dan, jika kamu mampu, terbang ke luar angkasa.

Mereka yang mengambil risiko juga sering dilihat sebagai sosok yang didambakan dalam bisnis – sebagai orang yang dapat memajukan perusahaan. Sekali lagi, penghindaran risiko dipandang sebagai kekurangan di sini. Alih-alih melihatnya sebagai cerminan dari soliditas dan stabilitas yang memberikan pengaruh yang tenang dan konsisten, kita sering melihatnya sebagai hal yang menghambat kemajuan.

Saya berpendapat bahwa kedua cara untuk menjalani hidup tersebut benar-benar valid dan harus dihargai dengan cara yang sama. Lagi pula, spesies kita mengandalkan campuran keduanya untuk berkembang: baik sebagai penjelajah maupun penilai risiko.

Eudaimonia

Kapitalisme adalah tentang konsumsi – dan sistem ini telah menguasai sebagian besar dunia. Dari tas tangan bermerek dan mobil sport mewah hingga aktivitas mahal, itulah yang kita lakukan dan yang kita hargai. Kita bahkan mengonsumsi sesuatu untuk memenuhi keinginan eksistensi diri kita.

Apa maksudnya? Konsep “eudaimonia” adalah tentang menjalani hidup sepenuhnya dengan cara yang memuaskan. Aristoteles menggambarkannya sebagai kebajikan manusia yang paling tinggi – kondisi keberadaan yang positif dan ilahi. Epikuros, filsuf lain di zaman tersebut, berpendapat bahwa hidup dengan menyenangkan adalah cara paling otentik untuk menggambarkan eudaimonia.

Karena itu, saya berpendapat bahwa orang kaya yang berani mengambil risiko hanya mengonsumsi dengan cara yang memuaskan mereka sebanyak mungkin dalam konteks memenuhi eudaimonia. Penghindar risiko pada akhirnya melakukan hal yang sama, tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Keduanya hidup secara otentik, menyenangkan dan alamiah, dengan mengacu pada habitus mereka.

Tidak aneh jika orang kaya mau membayar mahal untuk pengalaman yang dijanjikan oleh kapal selam Titan. Sebelum kita mencelanya atas alasan kebodohan dan keserakahan, kita mungkin bisa mencoba melihat alasan yang lebih mendasar dan utama di balik perilaku tersebut.

Lalu, jika kita mengharapkan lebih sedikit kecelakaan, kita sebagai masyarakat perlu melihat ulang bagaimana kita menjunjung pengambilan risiko yang berujung meremehkan peraturan keselamatan, ketimbang menyalahkan individu yang hanya mencoba menjalani kehidupan yang memuaskan bagi mereka – terlepas apakah mereka miliarder atau sebaliknya.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 185,800 academics and researchers from 4,984 institutions.

Register now