Menu Close

Mengapa orang tua tidak suka musik anak muda?

Bagi banyak orang yang lebih tua, musik masa kini masuk di kuping kiri dan keluar di kuping kanan. Shutterstock.com/photograph.kiev

Mengapa orang yang sudah tua membenci musik baru? - Holly, 14 tahun, Belmont, Massachusetts, Amerika Serikat.


Ketika saya masih remaja, ayah saya tidak terlalu tertarik dengan musik yang saya sukai.

Baginya, musik kesukaan saya terdengar “sangat berisik”, sementara dia selalu menyebut musik yang dia dengarkan sebagai musik yang “indah”.

Sikap ini bertahan sepanjang hidupnya.

Bahkan ketika dia berusia 80-an, dia pernah melihat iklan di TV yang menggunakan lagu Beatles yang usianya sudah 50 tahun dan berkata pada saya, “saya tidak suka musik-musik zaman sekarang.”

Ternyata ayah saya tidak sendirian.

Seiring bertambahnya usia, saya juga sering mendengar orang seusia saya mengatakan kalimat-kalimat seperti “musik zaman sekarang tidak sebagus musik zaman dulu.”

Mengapa ini terjadi?

Untungnya, latar belakang saya sebagai psikolog telah memberi saya wawasan tentang teka-teki ini.

Kita tahu bahwa selera musik mulai terbentuk sejak usia 13 atau 14 tahun. Pada saat kita berada pada awal usia 20-an, selera ini terkunci dengan kuat.

Bahkan, penelitian telah menemukan bahwa pada saat kita berusia 33 tahun, kebanyakan dari kita telah berhenti mendengarkan musik baru.

Sementara itu, lagu-lagu populer yang dirilis ketika kita masih remaja cenderung tetap populer di kalangan kelompok sebaya kita selama sisa hidup kita.

Mungkin ada penjelasan biologis untuk ini.

Ada bukti bahwa kemampuan otak untuk mengenali perbedaan halus antara akor, ritme, dan melodi yang berbeda memburuk seiring bertambahnya usia.

Jadi bagi orang yang lebih tua, lagu yang lebih baru dan kurang dikenal mungkin “terdengar sama.”

Tapi saya yakin ada beberapa alasan sederhana di balik penolakan orang tua terhadap musik yang lebih baru.

Salah satu teori psikologi sosial yang paling banyak diteliti menyebutkan “efek paparan belaka”.

Singkatnya, teori ini menyebut bahwa semakin kita terpapar pada sesuatu, semakin kita cenderung menyukainya.

Paparan ini terjadi lewat orang yang kita kenal, iklan yang kita lihat, dan lagu yang kita dengarkan.

Ketika kita masih remaja, kita mungkin menghabiskan cukup banyak waktu untuk mendengarkan musik atau menonton video musik. Lagu dan artis favorit itu menjadi bagian menghibur dalam hidup kita.

Bagi banyak orang di atas 30 tahun, beban pekerjaan dan keluarga meningkat, jadi hanya ada sedikit waktu untuk menghabiskan menemukan musik baru.

Sebagai gantinya, banyak orang di usia itu hanya akan mendengarkan lagu favorit lama yang menjadi bagian hidup mereka ketika mereka memiliki lebih banyak waktu luang.

Tentu saja, usia remaja bukannya tanpa beban dan kesulitan.

Periode ini sebagian besar membingungkan, itulah sebabnya begitu banyak acara TV dan film, mulai dari “Glee”, “Love Simon”, hingga “Eight Grade” berkisah soal gejolak di sekolah menengah.

Penelitian psikologi telah menunjukkan bahwa emosi yang kita alami ketika remaja tampak lebih kuat daripada emosi yang muncul saat dewasa.

Kita juga tahu bahwa emosi yang kuat terkait dengan ingatan dan preferensi yang lebih kuat.

Semua ini bisa menjelaskan mengapa lagu yang kita dengarkan selama periode remaja menjadi begitu berkesan dan dicintai.

Jadi tidak ada yang salah dengan orang tua kamu kalau mereka tidak suka musik kamu. Hal-hal ini secara alami terjadi.

Pada saat yang sama, saya dapat mengatakan dari pengalaman pribadi bahwa saya ikut mendengarkan musik yang diputar anak-anak saya ketika mereka masih remaja dan kemudian ikut menyukai musik-musik itu.

Jadi bukan tidak mungkin kamu bisa membuat orang tua kamu ikut menyukai lagu-lagu Blackpink atau BTS favorit kamu.


Artikel ini diterjemahkan oleh Agradhira Nandi Wardhana dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 184,400 academics and researchers from 4,972 institutions.

Register now