Mengapa pelaku usaha mikro kurang tertarik untuk menggunakan layanan teknologi finansial?

Pelaku usaha kecil yang menggunkan teknologi finansial mengikuti kegiatan kelompok peminjam perempuan di Bogor, Mei 2018. Pulse Lab Jakarta/Author provided

Walaupun jadi tulang punggung perekonomian Indonesia, sebagian besar pelaku usaha mikro–seperti pedagang kaki lima atau pemilik warung kecil yang asetnya paling banyak Rp50 juta–masih sulit mengakses layanan keuangan.

Mereka kesulitan membuka tabungan, mengambil kredit, mengirim uang, mengakses sistem pembayaran, maupun asuransi. Mereka umumnya merasa tidak bisa memenuhi persyaratan dan proses yang harus dilalui untuk mengakses layanan keuangan ini.

Terbatasnya akses ke layanan keuangan menyebabkan mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bantuan keuangan dan layanan terkait, yang bisa membantu bisnis mereka tumbuh dan menguatkan ketahanan ekonomi mereka di masa-masa rentan. Dengan sekitar 107 juta orang terlibat dalam usaha mikro, artinya sejumlah besar penduduk Indonesia menghadapi masalah ini.

Dua tahun lalu, pemerintah mencoba mendorong pemanfaatkan teknologi finansial (tekfin) melalui sarana digital untuk mengatasi hal ini.

Namun, mayoritas pelaku usaha mikro, meski punya telepon seluler dan sambungan internet, belum tertarik untuk memanfaatkan layanan tekfin. Padahal, sarana ini dapat mempermudah akses keuangan mereka.

Riset terbaru dari tim Social Systems Pulse Lab Jakarta mencari tahu, apa yang menjadi tantangan dan faktor-faktor apa yang mendukung pengusaha mikro mengadopsi layanan tekfin.

Hambatan adopsi layanan tekfin

Bekerja sama dengan BTPN Wow! dengan tabungan mobile-nya, Amartha dengan pinjaman berbasis peer-to-peer dan Go-Pay dengan pembayaran digitalnya, para peneliti mengidentifikasi beberapa pelaku usaha mikro yang merupakan pengadopsi awal layanan tekfin.

Riset ini melibatkan 116 responden di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Ciseeng, dan Banyumas. Sebanyak 94 responden merupakan pengguna tekfin, sedangkan 22 bukan merupakan pemakai tekfin.

Para peneliti menemukan tiga hambatan mental bagi pengusaha mikro dalam mengadopsi layanan keuangan, termasuk terkait penggunaan teknologi finansial.

1. Nyaman dengan uang tunai

Pengusaha mikro masih sangat nyaman dengan penggunaan uang tunai dalam usaha dan kesehariannya. Dengan menggunakan uang tunai, mereka mudah bertransaksi dengan pelanggan dan pemasok. Mereka juga masih nyaman untuk menyimpan uang mereka di rumah. Bagi mereka, menabung dan menarik uang di bank adalah suatu hal yang cukup merepotkan.

2. Persepsi pengusaha mikro terhadap tujuan produk tabungan di bank

Pengusaha melihat menabung di bank umumnya hanya untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Pelaku usaha mikro tidak merasa membutuhkannya karena siklus keuangan mereka yang pendek. Ada anggapan dari responden bahwa menabung di bank harus dalam jumlah yang besar, seperti dalam pengurusan biaya administrasi, dan setelah ditabung, seharusnya tidak diambil lagi.

3. Kurang literasi digital

Tingkat kepemilikan ponsel yang tinggi di kalangan pelaku usaha mikro tidak serta merta membuat mereka merasa nyaman dalam mengadopsi jenis-jenis layanan teknologi keuangan. Mayoritas responden merasa kewalahan menggunakan fitur-fitur pada layanan tekfin yang digunakan melalui ponsel. Pada umumnya, mereka menggunakan ponsel hanya untuk mengirimkan pesan singkat dan telepon.

Manusia versus teknologi

Belajar dari pelaku usaha mikro yang telah mengadopsi penggunaan tekfin, para peneliti menemukan faktor pemberdaya seperti agen sangat berpengaruh untuk membantu pelaku usaha mikro mengadopsi tekfin.

Dalam menjalankan usahanya, BTPN Wow! dan Amartha merekrut agen. Mereka bertugas di lapangan, berperan sebagai penghubung antara penyedia tekfin dengan calon pengguna. Umumnya mereka bertugas merekrut nasabah dan membantu mereka menggunakan layanan tekfin. Para agen mendapatkan insentif dari perusahaan atas kegiatan mereka.

Riset ini menemukan keberhasilan penggunaan layanan tekfin karena agen-agen dapat memperoleh kepercayaan pelanggannya, sehingga akhirnya agen tidak lagi dilihat sebagai perpanjangan tangan perusahaan, tapi sebagai orang dekat yang siap membantu mereka dengan berbagai hal terkait layanan keuangan.

Seorang responden di Bekasi mengatakan:

“Saya hanya menemui agen yang waktu itu mendaftarkan saya dan saya tidak pernah ke agen lainnya. Saya kenal akrab dengan agen saya, dia adalah sepupu saya.”

Bertindak sebagai penyampai pesan, motivator, dan mediator, agen membantu adopsi layanan tekfin menjadi lebih mudah. Pendampingan tersebut membuat pelaku usaha mikro mampu mengatasi ketidaknyamanan mereka atas teknologi baru.

Para agen yang berhasil mendorong pelaku usaha untuk mengadopsi tekfin umumnya mengenalkan layanan keuangan yang relevan dengan kebutuhan dan keseharian pelaku usaha mikro, alih-alih mengenalkan seluruh layanan keuangan. Contohnya, mereka mengenalkan pelaku usaha mikro pada layanan menyetor dan menarik uang tunai dalam nominal kecil, sekecil Rp5000.

Nominal kecil ini dapat menumbangkan anggapan bahwa tabungan dan transaksi perbankan harus dalam nominal besar yang mungkin tidak terjangkau oleh banyak pengusaha mikro. Contoh lainnya adalah pengenalan fitur transfer rekening tabungan digital yang menjadi favorit di antara pedagang mikro yang memiliki anggota keluarga yang tinggal di kota lain, karena tidak lagi memerlukan ATM.

Riset ini juga menemukan aksesibilitas dan keterjangkauan layanan tekfin membantu pelaku usaha mikro untuk mengadopsinya. Jarak antar tempat tinggal responden dengan bank, hingga jam kerja bank yang saling tumpang tindih dengan jam kerja pelaku usaha mikro, membuat akses layanan keuangan formal sulit untuk diakses.

Adanya fleksibilitas dari agen dan keterjangkauan akses dengan adanya tekfin dapat menggantikan peran dan ketergantungan pada layanan bank tradisional.

Layanan tekfin lebih terjangkau daripada layanan bank. Secara aksesibilitas, teknologi tidak membutuhkan tempat fisik, dan dapat dijangkau pengguna menggunakan telepon seluler. Ketentuan pembayaran yang lebih fleksibel juga dilihat sebagai hal yang penting untuk usaha mikro dalam menggunakan layanan keuangan dan tekfin.

Berbagi kata sandi: tidak aman

Di balik keuntungan layanan tekfin, tetap ada konsekuensi yang harus diperhatikan.

Misalnya, kepercayaan yang kuat antara agen dan pengguna juga menghasilkan hubungan kekerabatan, bukan hanya relasi formal antarinstitusi. Hal ini dapat mengakibatkan praktik tidak aman dalam bertransaksi, seperti berbagi kata sandi.

Misalnya, seorang responden di Sukabumi bercerita:

“Saya rutin mentransfer uang menggunakan rekening mobile untuk anak saya yang tinggal dan kuliah di Jakarta, tapi sebetulnya saya nggak mengerti cara melakukannya sendiri. Jadi, setiap kali saya perlu transfer, saya akan kasih ponsel dan PIN ke agen saya dan dia yang akan mengurusnya.”

Kasus lain yang timbul dari kedekatan ini adalah berkurangnya kesempatan pelanggan dalam menggunakan berbagai jenis layanan tekfin, yang jika ditelusuri lagi merupakan akibat dari agen yang membatasi promosi sesuai dengan kebutuhan pelanggan saja. Tidak hanya itu, penelitian ini menemukan niat mengikuti layanan tekfin yang kurang tepat, yakni ikut tekfin karena rasa tidak enak dan ingin membantu tetangga yang merangkap sebagai agen, ketimbang tertarik akan layanan tekfin.

Merasakan manfaat kunci kesinambungan penggunaan

Penelitian Pulse Lab Jakarta juga menggarisbawahi bahwa titik permasalahan tidak terletak pada proses adopsi tekfin, melainkan pada kesinambungan pengguna layanan tersebut. Usaha mikro yang merasakan manfaat dari penggunaan tekfin biasanya akan terus aktif menggunakan layanan tersebut. Sebaliknya, mereka yang tidak merasakan manfaat langsung pada usaha dan keseharian mereka, biasanya akan berhenti menggunakan layanan tekfin.

Pada akhirnya, aktivitas terkait layanan keuangan merupakan kegiatan sosial bagi pelaku usaha mikro. Pendekatan kepada segmen ini berbeda dari pendekatan kepada individual dari kelas menengah ke atas. Jika segmen menengah ke atas bersedia mempelajari fitur layanan baru yang dapat bermanfaat bagi mereka, pengusaha mikro cenderung hanya menggunakan fitur dasar yang paling relevan dengan kebutuhan keseharian mereka dan menghindari penggunaan fitur yang terlalu canggih.