Mengapa sel kanker bisa mengalami periode dormansi

Sel kanker prostat, dilihat dengan mikroskop elektron.

Mengapa sel kanker bisa mengalami periode dormansi

Kanker selama ini dianggap sesuatu yang tumbuh cepat dan tak terkendali, tapi pandangan ini mungkin keliru. Bukti baru menunjukkan, kanker terkadang bergantian menginjak “pedal gas” dan “rem” demi bertahan hidup.

Jika kita memplot perkembangan kanker prostat berbanding waktu, kita akan melihat grafik semacam ini:

Gambar 1. Contoh perkembangan kanker prostat. Dimodifikasi dari: http://www.cell.com/trends/molecular-medicine/fulltext/S1471-4914(15)00034-9

Grafik itu memperlihatkan sel kanker prostat mengalami periode pertumbuhan pesat yang berselang-seling dengan periode dormansi (kondisi tidak aktif). Dalam contoh di atas, tumor akan tumbuh hingga titik di mana ia akan menimbulkan gejala dan pasien akan berobat ke dokter—yang biasanya akan membedah dan mengangkat tumor itu.

Operasi memang kerap efektif tetapi, bagi beberapa pasien kurang beruntung, kanker mereka akan datang kembali. Pada titik ini, kanker biasanya ditangani dengan terapi hormon dan kemoterapi.

Tapi bahkan tindakan ini tak selalu berhasil mengakhiri kanker. Pada beberapa pasien, kanker akan muncul kembali setelah periode tidak aktif.

Selama periode dormansi, yang dapat berlangsung selama beberapa tahun, pasien kerap tak memiliki gejala apa pun. Tumor juga tak terdeteksi oleh alat-alat deteksi yang biasa.

Dulu, hanya sedikit yang kita pahami tentang periode dormansi ini.

Riset yang kelompok saya lakukan, serta oleh ilmuwan lain, menunjukkan bahwa dormansi kanker adalah waktu teramat penting bagi perkembangan tumor.

Bahaya dormansi kanker

Untuk mengerti mengapa dormansi bermanfaat bagi sel kanker, kita perlu memeriksa faktor-faktor yang dapat menghentikan perkembangan tumor. Ada tiga hambatan sel kanker demi berkembang dan bertahan hidup.

Yang pertama, mereka perlu mengelabui sistem kekebalan tubuh, yang mampu membunuh kebanyakan tumor.

Kedua, mereka perlu bertahan dari terapi anti-kanker. Dan ketiga, mereka perlu menyerang organ yang jauh dan menimbulkan metastasis (timbulnya tumor baru di bagian tubuh yang lain).

Dormansi kanker amatlah penting untuk mengatasi beragam hambatan tadi. Selama periode dormansi, sel kanker membentuk ulang susunan genetis mereka dan bersiap-siap untuk tahap perkembangan selanjutnya.

Tanpa dormansi, sel kanker tidak akan mampu bertahan dalam lingkungan baru, atau bertahan dari serangan sistem kekebalan tubuh.

Jadi, adalah penting untuk mempelajari bagaimana mendeteksi sel kanker yang tengah dorman, dan bagaimana membunuh mereka.

Tapi mendeteksi sel dorman bukan hal mudah. Tumor dorman biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, jadi pasien tidak sadar akan keberadaaan mereka dan alat diagnosis konvensional pun tidak mampu “melihat” mereka.

Kemudian, sel kanker yang dorman kerap kali memiliki metabolisme lambat, seperti hewan yang tengah hibernasi. Bahkan teknik diagnosis canggih seperti PET, kerap terlewat ketika mendeteksi tumor dorman.

Sel kanker yang dorman memiliki kemiripan dengan hewan yang hibernasi. Breck P. Kent/Shutterstock.com

Deteksi dan tindakan

Jadi bagaimana cara kita mendeteksi sel berbahaya yang tengah tidur itu? Syukurlah, studi-studi baru memberi kita pemahaman tentang karakteristik sel kanker yang dorman.

Sebagai contoh, riset kami bersama BC Cancer Agency di Kanada, memeriksa RNA yang diproduksi sel kanker yang bertumbuh dan dorman.

RNA adalah sebuah molekul sangat penting yang membawa informasi genetis dari DNA (cetak biru) kepada protein (mesin pekerja sel).

Kami telah menunjukkan bahwa beberapa RNA kecil secara khusus dikeluarkan oleh sel kanker dorman.

Karena RNA ini bisa diukur dalam sampel darah dan urine, kami, dan ilmuwan lainnya, sedang berusaha mengembangkan alat diagnosis baru untuk mendeteksi molekul ini.

Jika kami berhasil, kita akan mampu menciptakan alat diagnosis berbasis urine atau darah yang membantu para dokter mengenali tumor dorman sebelum mereka terlalu besar untuk ditindak.

Ketika sel kanker dorman telah berhasil dikenali, mereka perlu segera dibuang. Sayangnya, karena metabolisme sel kanker ini tidak aktif, mereka mungkin tidak akan mati dengan kemoterapi konvensional. Menyasar mereka adalah hal sulit. Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Sejumlah studi baru menunjukkan bahwa sel dorman mungkin punya titik lemah. Misalnya, eksperimen telah membuktikan bahwa beberapa obat anti-peradangan non-steroid dapat mencegah sel kanker dorman “terbangun”.

Jika hasil studi ini diperkuat dengan hasil percobaan klinis, maka kita tak lama lagi akan mampu menawarkan tindakan medis yang secara khusus menyasar sel kanker dorman.

This article was originally published in English