Menu Close

Blog

Mengenang Daniel Dhakidae: intelektual dan Ketua Dewan Pengurus The Conversation Indonesia

Daniel Dhakidae. Antara/Ashadi Siregar

Intelektual ilmu politik ternama Indonesia dan Ketua Dewan Pengurus Yayasan The Conversation Indonesia Daniel Dhakidae yang meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021 pada usia 75 tahun telah mendedikasikan hidupnya meneliti tentang kekuasaan di Indonesia dan mendukung organisasi-organisasi yang memberdayakan masyarakat.

Disertasinya pada 1991 di Cornell University, Amerika Serikat, mengenai pers Indonesia menggunakan pendekatan ekonomi politik yang membongkar hubungan antara kapitalisme, industri pers, dan demokrasi memberikan penjelasan mengenai faktor pendorong bobroknya demokrasi Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.

Riset doktoralnya ini memberikan landasan berpikir bagi gerakan pro-demokrasi 1998.

Ahli ilmu politik Universitas Gadjah Mada Amalinda Savirani yang pada 1998 terlibat dalam gerakan mahasiswa 1998 mengatakan karya Daniel menunjukkan bahwa pers “sebagai pilar demokrasi, sangat dipengaruhi oleh akumulasi kapital para pemiliknya”. Risetnya menunjukkan bahwa hanya perusahaan pers yang didukung negara saat itu yang bisa berkembang.

Intelektualisme dan advokasi

Bapak Daniel, demikian saya memanggilnya, berperan dalam penguatan demokrasi Indonesia tidak hanya melalui penelitian dan komunikasi riset namun juga keterlibatan aktif dalam kerja advokasi.

Pada 2017, atas undangan almarhum Aristides Katoppo, ia setuju menjadi Ketua Dewan Pengurus Yayasan The Conversation Indonesia, badan hukum yang mengelola organisasi media online nirlaba yang bertujuan menyebarkan jurnalisme berbasis bukti bagi publik Indonesia.

Kesediaannya bergabung dalam Yayasan The Conversation Indonesia sejalan dengan sepak terjangnya dalam pengembangan ilmu, diskursus publik dan juga advokasi.

Sebagai intelektual, selain terus meneliti mengenai kekuasaan dan politik ekonomi di Indonesia ia juga pernah memimpin Litbang Kompas. Selain itu ia mengembangkan dan memimpin jurnal pemikiran sosial dan ekonomi Prisma yang dikelola Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Ia juga termasuk pendiri Yayasan Tifa, organisasi non-pemerintah yang mendorong terciptanya masyarakat terbuka di Indonesia. Yayasan Tifa adalah salah satu pemberi hibah bagi The Conversation Indonesia.

Menerjang kekuasaan dari pinggiran

Pada Juli 2017, dua bulan sebelum diluncurkannya The Conversation Indonesia, Bapak Daniel memberikan saya buku yang ia tulis. Buku Menerjang Badai Kekuasaan: Meneropong Tokoh-Tokoh Dari Sang Demonstran, Soe Hok Gie, Sampai Putra Sang Fajar, Bung Karno (2015) mempelajari mengenai kekuasaan dan keberdayaan dari 13 tokoh yang berbeda. Ada yang tidak berkuasa tapi penuh daya, ada juga yang berkuasa tapi tak berdaya.

Mendengar berita mengenai wafatnya Bapak Daniel, saya membuka lagi buku tersebut. Setelah lebih dari 400 halaman menceritakan tentang tokoh-tokoh yang menerjang badai kekuasaan, ia bercerita sedikit tentang dirinya dalam epilog buku tersebut.

Ia menjelaskan rasa ingin tahu yang didorong oleh small-town-boy complex membuatnya mengumpulkan kisah-kisah tokoh-tokoh ini dalam periode 30 tahun.

Bapak Daniel juga mengidentifikasi dirinya sebagai orang daerah yang meneliti tentang pusat. Ia menulis bahwa ia datang dari daerah (Flores), sekolah di daerah (Yogyakarta), dan bahkan ketika S3 di Amerika Serikat tinggal di sebuah “dusun” bernama Ithaca. Setiap kali ia meneliti tentang orang “pusat” perasaannya bercampur baur antara kagum dan kesan “Ah.. segitu itu aja!”

Selalu reflektif, ia pun menulis bahwa perasaan campur baur ini datang dari rasa minder atau yang ia sebut sebagai “fox and the grape syndrom” yang ia temukan dari sebuah lagu anak-anak jenaka tentang rubah yang sedih karena tidak bisa meraih anggur karena ia terlalu pendek.

Pak Daniel mempelajari lagu itu di sebuah seminari di Flores dan ia tak pernah lupa pada stanza terakhir lagu tersebut.

Now remember all when you try

Sour grapes never cry

Don’t be like the fox when you can’t succeed

But try again and accomplish your deed.

Setiap menghadapi kesulitan yang pelik, Pak Daniel menulis bahwa ia selalu mengingat stanza terakhir itu.

Kita akan mengingat Bapak Daniel dan warisan masa hidupnya.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,100 academics and researchers from 3,983 institutions.

Register now