Mengurangi pemakaian sedotan plastik mungkin sepele, tapi tetap langkah penting

Seekor burung membuat sarang dari sampah manusia, termasuk sedotan plastik, dalam sebuah kapal di Amsterdam. Shutterstock

Sedotan plastik sedang hangat dibicarakan.

Di tahun 2018 ini, kita telah melihat begitu banyaknya aksi dan upaya publik untuk menghapuskan penggunaan sedotan plastik. Beberapa perusahaan raksasa seperti McDonald dan Starbucks, misalnya, telah melarang sedotan di beberapa gerai mereka.

McDonald bahkan baru-baru ini mengumumkan akan mengganti sedotan plastik dengan sedotan kertas di gerai mereka di Inggris dan Irlandia, pada September 2018. Starbucks mengambil langkah senada dengan menghapuskan sedotan plastik dari seluruh gerai di dunia pada 2020.

Selain itu, maskapai penerbangan, jaringan hotel dan restoran juga beramai-ramai meninggalkan tren pemakaian sedotan plastik.

Data dan pernyataan yang lugas dan dramatis, termasuk ramalan bahwa “jumlah plastik akan lebih melampaui ikan di lautan pada 2050” mendapat sambutan dari pemerintah, perusahaan multinasional besar dan anggota masyarakat.

Pernyataan-pernyataan seperti itu memang tidak akurat 100 persen, tapi dampaknya terasa. Penggunaan sedotan sehari-hari jadi berkurang.

Perlawanan terhadap anti-sedotan

Seiring banyaknya upaya “anti-sedotan” baru-baru ini, ada retorika “anti-anti-sedotan” yang menolak gerakan itu dengan beragam alasan.

Pegiat hak kaum disabilitas, misalnya, ikut bersuara soal larangan sedotan plastik. Beberapa orang dengan disabilitas memerlukan sedotan untuk minum karena mereka punya bermasalah saat menelan atau tidak bisa mengangkat atau memegang gelas.

Berbagai alternatif sedotan plastik juga bermunculan sebagai solusi praktis, seperti sedotan yang terbuat dari silikon, kertas, atau logam tahan karat.

Pada akhirnya, konsumen punya pilihan etika yang harus diambil: planet atau plastik?

Kami tidak mengingkari pentingnya aksesibilitas (karenanya kami tidak mendukung larangan mutlak terhadap sedotan). Kami hanya meyakini bahwa “orang dengan disabilitas tetap bisa mengambil bagian dalam menyelamatkan lingkungan.”

Argumen anti-anti sedotan yang menurut kami bermasalah adalah mereka yang sifatnya libertarian (jangan utak-atik sedotan saya) atau pesimistis (ini tidak menyentuh akar masalah). Ada pula argumen yang merupakan campuran keduanya.


Read more: Anda memakan plastik mikro dalam cara yang tak terbayangkan


Banyak jurnalis dan penulis mengajukan argumen balasan terhadap upaya mengurangi plastik di lautan.

Mereka mengatakan bahwa menyasar sedotan secara khusus takkan berpengaruh signifikan terhadap lautan.

Secara kuantitatif, tentu saja, sedotan hanyalah sebagian kecil—hanya sekitar empat persen—dari plastik yang masuk dan mencemari lautan. Tapi ini bukan berarti sedotan tidak layak disoroti.

Mengapa upaya untuk menyasar empat persen sampah laut itu dikatakan tidak berguna atau tidak efektif, sementara alternatif yang diajukan hanyalah berpangku tangan?

“Plastik gerbang”

Daftar sampah “Dirty Dozen” dari Great Canadian Shoreline Cleanup mencatat barang-barang apa saja yang paling banyak ditemukan di bibir pantai atau danau. Hasilnya, sedotan plastik menempati urutan ke-9, di bawah puntung rokok, bungkus makanan, tutup botol dan kantong plastik.

Penelitian lain juga menemukan hasil senada tentang kontribusi sedotan terhadap sampah di laut. Laporan UNEP tahun 2018 juga menempatkan sedotan dan pengaduk plastik di urutan ke-7.

Meski demkian, jenis plastik selain sedotan memerlukan pendekatan berbeda dalam mencegah mereka mencemari lingkungan.

Desain tutup minuman Starbucks yang berukuran sebesar ibu jari telah memungkinkan perusahaan itu berkomitmen meninggalkan sedotan. (Starbucks)

Perlukah kita fokus pada larangan mutlak terhadap rokok, dengan kekuatan yang sama seperti kita menolak sedotan? Dapatkah kita menyalahkan pabrik minuman yang menggunakan botol plastik sekali-pakai dengan cara yang sama?

Sepertinya, mereka yang anti-anti-sedotan plastik akan menanggapi petisi-petisi semacam itu—bahkan mungkin dengan lebih lantang.

Dune Ives, direktur eksekutif Lonely Whale Foundation, menyebut sedotan sebagai “plastik gerbang” bagi calon pegiat lingkungan. Sesuatu yang sepele seperti sedotan dapat memancing diskusi yang lebih besar, lebih serius, mengenai polusi plastik, atau konsumsi massa global secara lebih luas.

Inilah titik penting bagi “perang terhadap sedotan” dan upaya menyeluruh untuk mengurangi sampah plastik di lautan: mengubah norma.

Kita bisa membandingkan ini dengan pelarangan kantong plastik, yang di banyak negara atau wilayah telah dilarang (atau dikenakan pajak khusus) guna mengurangi sampah plastik.

Ada beberapa kalangan yang mengatakan, kontribusi kantong plastik terhadap sampah kota sebenarnya dapat diabaikan karena bobotnya yang teramat ringan.. Mereka juga mengklaim, pelarangan kantong plastik hanyalah pencitraan dan idealisme semata—tidak benar-benar demi menjaga lingkungan.

Sama halnya dengan kantong plastik, konsep menghilangkan atau mengganti sedotan plastik sekali-pakai memerlukan revolusi mental.

Mengubah kebiasaan

Belum ada seruan radikal untuk menghentikan produksi plastik saat ini juga. Yang ada hanyalah ajakan berhenti menggunakan produk plastik, yang dipandang tidak efektif dalam mengajak lebih banyak orang lagi bergabung.

Plastik, dalam beberapa konteks tertentu, memang tidak tergantikan. Misalnya sebagai kemasan steril dan alat sekali-pakai dalam kedokteran. Atau dalam mengurangi pembusukan makanan serta menjaga kebersihan makanan.

Gerakan pengurangan pemakaian sedotan atau kantong plastik, perlu mempertimbangkan perbedaan konteks ini.

Setiap tahun, 8-12 juta ton metrik plastik memasuki laut kita. Kita amat sangat perlu mengatasi masalah plastik kita yang semakin menjalar ini.

Kita perlu pendekatan skala besar dan menyebar yang mempertanyakan kembali budaya membuang sampah, serta kecenderungan untuk membeli lebih banyak, lebih besar dan lebih sering.

Menghindari penggunaan sedotan plastik mungkin terlihat sepele, tetapi tetap penting.

Mungkin sepele bagaikan setetes air di tengah lautan, tetapi bukankah laut itu sendiri merupakan kumpulan tetesan air?

This article was originally published in English