Seorang ibu berjalan melewati pasar tradisional seafood Huanan. STR/EPA

Menutup pasar basah tradisional di Cina bisa menjadi kesalahan fatal. Ini penjelasan ahli

Wabah coronavirus, yang hingga kini masih belum mendapatkan nama resmi dari WHO, sedang terjadi dan berkembang di Cina dan menjangkiti negara-negara lain dalam beberapa minggu terakhir.

Sejauh ini, kita tahu bahwa ribuan orang telah terpapar, hampir 200 jiwa melayang, dan virus corona ini menyebar ke berbagai negara.

Sebagai ahli antropolog yang bertahun-tahun mempelajari penyebaran virus dari binatang ke manusia (penyakit zoonotik) di Cina, hasil riset kami bisa memberikan titik terang tentang krisis yang sedang terjadi.

Sangat mungkin bahwa jenis terbaru virus penyebab pneumonia ini—dalam beberapa kasus bisa mematikan—terjadi melalui luapan zoonotik, atau peristiwa meloncatnya virus dari binatang ke manusia, pada awal Desember 2019.

Para ilmuwan Cina telah melacak potensi sumber virus sampai ke pasar grosir makanan laut Huanan di Wuhan, karena dikunjungi oleh 27 dari 41 pasien rumah sakit pertama (bukan pasien yang pertama kali terjangkit).

Selain makanan laut, pasar tersebut juga menjual barang, termasuk beragam hewan liar lain. Dugaan awal para ilmuwan menyebutkan virus “loncat” ke manusia dari salah satu spesies hewan liar yang dijual di pasar itu.

Berbeda dengan hipotesa awal bahwa virus ini berasal dari ular, bukti genetik terbaru menunjukkan permulaan virus berasal dari kelelawar, yang jarang dijual di pasar tradisional Cina.

Namun, kelelawar diketahui merupakan perantara dari banyak penyakit menular hewan yang bisa berpindah ke manusia.

Wuhan telah menutup dan mensterilkan pasar tersebut pada 1 Januari dan Cina mengeluarkan larangan sementara bagi perdagangan produk hewan liar per 22 Januari.

Media secara global menyoroti kondisi pasar tradisional di Cina akibat menyebarnya coronavirus ini.

Contohnya, New York Times menggambarkan pasar tradisional di Cina sebagai pemakan segala (“omnivorous”) sedemikian rupa yang membuat pembaca Barat bereaksi. Misalnya, ayam tak berbulu dengan paruh dan kepala, berbagai deskripsi hewan liar lain, yang ditujukan untuk mengejutkan para pembaca :

Ular hidup, penyu dan jangkrik, marmot, kelelawar bambu, musang, landak, berang-berang, musang kelapa, hingga anak serigala.

Namun, perhatian terhadap konsumsi makanan eksotis di Cina seringkali bergantung pada Orientalisasi, dan dalam beberapa kasus bernada sentimen anti-Cina.

Menciptakan kepanikan moral

Ilmu epidemiologi mendasarkan secara spesifik tentang spesies yang dijual di pasar di Huanan, termasuk seberapa sering. Namun, hal ini terbenam oleh laporan media, yang mendesak larangan permanen atau penutupan “pasar basah” sejenis ini.

Liputan tersebut seringkali hanya memberikan potongan-potongan gambar dan video dari berbagai pasar yang tersebar di penjuru Cina dengan sedikit informasi jelas terkait kapan dan di mana gambar-gambar tersebut diambil. Juga, tanpa relevansi dengan ragam kuliner khas dari berbagai area di Cina.

Gambar-gambar mengkomunikasikan rasa jijik terhadap kebiasaan makan di Cina dan saat bersamaan merefleksikan ketakutan atas dua tipe “pertumbuhan” di Cina : virus dan ekonomi.

Antropolog sudah mendiskusikan secara detail bagaimana model perkembangan Cina (terutama pada abad ke 21) dilihat oleh Dunia Barat sebagai sebuah ancaman, baik secara politik maupun budaya.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat dan kompetitif bisa mengancam ekonomi AS atau Uni Eropa. Sementara, secara budaya, terlihat tidak sejalan dengan ekspektasi dunia Barat akan modernisasi. Singkatnya, kapitalisme yang harus beradaptasi dengan keadaan di Cina.

Ekonomi Cina semakin bertumbuh pada abad ke-21. Radiokafka/Shutterstock

Kita juga perlu memperhatikan konsumsi makanan di Cina.

Walau konsumen Cina sudah mulai mengunjungi pasar modern dan mengonsumsi makanan kemasan, tidak menurunkan kebutuhan konsumsi masyarakat akan “daging hangat” dan tidak mengikuti jejak norma budaya Eropa dan Amerika yang memilah antara apa yang bisa dan tidak bisa kita makan.

Melalui kacamata media barat, “pasar basah” Cina digambarkan sebagai simbol keberbedaan, yaitu sebuah bazar oriental yang penuh kekacauan, area bebas hukum tempat hewan yang tak layak makan bebas dijual, dan sebuah tempat kombinasi barang dagangan yang tak seharusnya berada di tempat yang sama (makanan laut dan unggas, ular dan hewan ternak).

Hal ini menimbulkan Sinofobia atau sentimen anti-Cina dan kegelisahan yang banyak antropolog telah lama kenali sebagai “matter out of place” (dalam bahasa sederhana, kotoran).

Penggambaran ini jelas sangat tidak sempurna, bukan hanya karena sangat berdasar pada sensitivitas Barat tentang apa yang bisa dan tidak bisa dimakan, namun juga memposisikan perdagangan dan konsumsi makanan modern Cina sebagai “tradisional”.

Lebih lanjut, gambaran ini juga salah mengartikan realitas material dan ekonomi dari pasar-pasar ini.

Keragaman pasar

Kenyataannya, sebagian besar makanan laut, hewan hidup, dan pasar grosir di Cina tidak eksotis.

Beragam jenis pasar lalu disatukan menjadi “pasar basah” yang menjadi kebingungan tersendiri. Istilah ini berasal dari Hong Kong dan Singapura untuk membedakan pasar yang menjual daging segar dengan pasar “kering” yang memproduksi barang kemasan dan barang tahan lama seperti tekstil.

Dewasa ini, “pasar basah” tradisional Cina bisa kita bedakan dari beberapa ciri, yang bisa kita gunakan untuk menilai risiko yang mampu mereka timbulkan untuk menularkan virus, seperti: ukuran (partai besar atau retail); jenis barang yang dijual (hewan hidup, hanya daging potong dan sayuran segar, hanya makanan laut hidup); dan jenis hewan (domestik atau liar).

Walau pasar-pasar ini menjual hewan yang sering media Barat sebut sebagai “hewan liar”, secara umum mereka menjual lebih banyak hewan yang dikembangkan dan diternakkan dalam kandang, seperti bebek melewar, katak, atau ular. Hanya sebagian kecil dari hewan yang dijual berasal dari alam liar.

Kesulitan peternak Cina

Apa yang sering terlupakan dari diskusi tentang pasar basah tradisional Cina adalah pandangan dari peternak, produsen, dan pemasok.

Media seringkali melaporkan soal konsumsi hewan liar, namun jarang melihat alasan peternak memproduksi hewan-hewan tersebut.

Sebuah penelitian lapangan oleh Lyle Fearnley terhadap peternak angsa liar (dayan) di Provinsi Jaingxi mejelaskan setidaknya dua faktor yang mendorong para peternak ini ke dunia pengembangan angsa liar pada pertengahan 1990an: kesempatan untuk memenuhi kebutuhan konsumen tanpa melalui perdagangan satwa liar ilegal; dan sebuah cara mencapai keuntungan produksi lebih tinggi bagi industri ternak rumah tangga di tengah tekanan ekonomi dari produsen makanan skala industri.

Selama reformasi pasar Cina pasca-Mao yang dimulai tahun 1978, banyak lahan peternakan dibagikan bagi rumah tangga, menyebabkan ledakan peternak skala rumah tangga, yang kemudian dikenal sebagai peternak “terspesialisasi” (zhuanyehu), karena mereka terfokus untuk mengembangkan tanaman atau hewan ternak tertentu, seperti ayam, bebek, atau babi.

Namun tahun 1990an, Cina mengalami sebuah “loncatan kedua”, untuk mengembangkan produksi pertanian.

Perusahaan bermodal besar “dragonhead enterprises” (longtou qiye) – konglomerasi yang memproduksi makanan berskala industri – membangun rantai suplai makananan terintegrasi, yang seringkali bergantung pada rumah potong dan fasilitas pemrosesan, serta hewan ternak yang dikontrakkan pada peternak skala rumah tangga.

Peternakan di Cina pesat berkembang di paska-Mao. Trekandshoot/Shutterstock

Pasca revolusi industri peternakan

Saat usaha kecil terpaksa meninggalkan peternakan mereka, terutama untuk babi atau unggas, mulai ada konsolidasi besar-besaran karena harga penjualan jatuh dan biaya produksi meningkat pesat.

Penyakit ternak ,seperti penyakit Newcastle dan sindrom reproduktif dan pernafasan Porcine, juga mendorong industri rumah tangga untuk berhenti beropeasi.

Tidak mampu bertahan sebagai usaha kecil dan mandiri, banyak peternak dihadapkan pada pilihan sulit, yaitu menandatangani kontrak dengan konglomerasi industri makanan atau keluar dari industri peternakan babi dan unggas sepenuhnya.

Beberapa peternak menemukan jalan lain, yaitu berternak hewan jenis lokal dan hewan liar yang nanti bisa mereka jual dengan harga lebih tinggi di pasar tertentu.

Banyak dari spesies ini memiliki risiko lebih rendah terpapar penyakit dibandingkan dengan hewan ternak pada umumnya, karena jumlah mereka yang lebih sedikit diternakkan.

Meskipun harga lebih tinggi dari hewan liar dibanding jenis domestik menimbulkan kepercayaan bahwa aktivitas konsumsi mereka merupakan “pilihan dan bukan akibat faktor penghasilan yang rendah”, cerita berbeda datang dari peternak skala rumah tangga ini.

Menurut mereka, mengembangkan hewan liar dapat menjadi jalan menuju penghasilan stabil, di saat hal tersebut masih sangat sukar untuk dicapai di daerah pedesaan Cina.

Beragam jenis pasar yang dikelompokkan sebagai “pasar basah tradisional”, dan usaha peternakan hewan liar, telah menyediakan sumber penghidupan bagi peternak skala rumah tangga.

Pasar sejenis ini seringkali juga menjadi penyedia akses informal bagi industri rumah tangga, untuk mengangkut hewan ke pasar tanpa perlu melibatkan perusahaan pemrosesan makanan skala besar yang memilliki rumah potong dan mengontrol kontrak dengan supermarket.

Walau informal, kita juga tidak bisa menyebut pasar ini tidak punya peraturan.

Penelitian dari Christos Lynteris mencatat adanya inspeksi secara rutin di pasar basah tradisional oleh Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Cina dan otoritas sanitasi kota yang mulai dilakukan sejak epidemi SARS pada tahun 2003.

“Pasar basah” tradisional menjadi bagian tak terpisahkan dari pasar Cina dan kehidupan sosial masyarakat.

Data terakhir pun menunjukkan sejumlah kasus awal dari coronavirus tidak memiliki hubungan dengan Pasar Makanan Laut Huanan, dan beberapa ahli penyakit menular juga meragukan bahwa pasar tradisional merupakan sumber utama dari penyebaran coronavirus.

Apapun alasannya, menutup “pasar basah” tradisional untuk sementara dan membatasi perdagangan satwa liar memiliki manfaat tersendiri untuk mencegah penyebaran penyakit.

Namun, menutup sepenuhnya atau melarang aktivitas “pasar basah” tradisional akan menimbulkan dampak mendalam dan tidak terprediksi bagi kehidupan sehari-hari dan kesejahteraan masyarakat di Cina.

Menutup “pasar basah” tradisional secara permanen akan mempengaruhi pola konsumsi makanan akan berujung kepada dampak yang walau masih belum diketahui, namun berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Penutupan pasar akan menghilangkan akses masyarakat di Cina terhadap sektor pangan, yang menyuplai 30-59% dari bahan makanan mereka.

Dengan jumlah peternak, pedagang, dan konsumen yang sangat banyak, menutup “pasar basah” tradisional juga sangat mungkin mendorong munculnya pasar gelap secara tidak terkontrol.

Hal ini pernah terjadi saat larangan penjualan terjadi pada tahun 2003 sebagai respon kejadian SARS, dan pada tahun 2013-2014 pasca-kejadian influenza unggas H7N9.

Lebih lanjut, risiko lebih tinggi bagi kesehatan masarakat dan global, dibandingkan dengan pasar hewan hidup yang legal dan teregulasi di Cina saat ini. Pasar unggas dan hewan hidup pun sudah menjadi lokasi “peringatan dini” krusial untuk mengawasi penyebaran virus, termasuk di AS.

Apa yang “pasar basah” di Cina butuhkan adalah peraturan berdasarkan bukti dan kajian ilmiah, bukan ditinggalkan dan dipaksa beraktivitas di luar payung hukum.

Stefanus Agustino Sitor menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 100,800 academics and researchers from 3,219 institutions.

Register now