Menu Close

Merombak online learning yang “kikuk” butuh kolaborasi antara guru, siswa, dan ahli teknologi

Dewasa ini, kita semakin tidak bisa lepas dari dunia digital, mulai dari layar berukuran telapak tangan hingga sebesar TV. Dari fajar hingga senja, kita terus memantau berita dan media sosial yang disajikan secara digital.

Waktu yang dihabiskan pengguna internet dunia untuk media sosial meningkat dari 90 menit per hari pada 2012 menjadi 143 menit pada 2019 - Indonesia berada jauh di atas rerata tersebut dengan 195 menit per hari.

Dalam dunia pendidikan Indonesia pun, mulai dari sekolah dasar hingga universitas dan seterusnya, masyarakat telah menyadari bahwa pembelajaran digital bukan lagi menjadi suatu alternatif, tetapi dengan cepat telah menjadi pilihan utama.

Bayangkan: sebuah keluarga tinggal di kota besar dengan akses internet yang stabil dan paket data internet cukup terjangkau selama pandemi. Ketika anak melakukan pembelajaran jarak jauh, salah satu orang tua bertanya kepada anaknya tersebut tentang pengalamannya.

Anak tersebut menjawab:

Bosan…! Aku nggak paham yang diajarin. Gurunya ngasih banyak tugas, tapi nggak jelas tugasnya harus ngapain.

Siswa ini telah menjadi sebatas pengamat pasif dalam dunia digital, atau digital bystander. Guru dari siswa tersebut kesulitan untuk menarik perhatian muridnya, dan sedikit sekali siswa yang benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran.

Di era digital seperti saat ini, mempelajari suatu keterampilan dari suatu buku atau video di internet tidaklah cukup. Banyak guru dan akademisi berpendapat bahwa pengalaman belajar tatap muka tetap lebih memuaskan dibandingkan pembelajaran digital.

Pertumbuhan platform yang menyediakan kelas daring (Massively Open Online Courses, atau MOOC) dalam beberapa tahun terakhir telah menantang pandangan tersebut. Pembelajaran model baru ini telah menjadi daya tarik tersendiri dan mendorong munculnya berbagai program kursus gratis maupun bisnis kelas daring.

Saatnya untuk mengubah cara pandang

Bagaimana kita mengakomodasi dunia digital yang terus berubah ini?

Secara historis, ketika kereta api pertama kali ditemukan, menumpanginya dan melihat dunia melalui jendela kereta yang berjalan kencang adalah pengalaman yang mengerikan.

Ketakutan itu juga muncul ketika seseorang menjadi bagian atau menyaksikan kecelakaan kereta api. Orang membutuhkan waktu untuk dapat memahami realita baru ini dan mengubah pola pikir mereka tentang transportasi.

Man looking out of train window as scenery speeding by
Perjalanan kereta api mengubah pola pikir kita tentang dunia ini. Liam Morrell/Shutterstock

Hal yang sama juga berlaku untuk perubahan dunia pendidikan yang dipengaruhi oleh teknologi digital. Tidak ada waktu bagi kita untuk jeda sejenak dari perubahan. Seperti yang dikatakan filsuf Amerika Serikat, Donald Schön, yang kita butuhkan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan.

Bagaimana kita bisa mengambil hati dan pikiran siswa serta guru untuk memastikan bahwa mereka sama-sama memahami dan mengalami pembelajaran online sebagai sesuatu yang bermakna? Apakah ini adalah sekadar persoalan menantang pola pikir tradisional yang disebutkan di atas?

Dengan menjelajahi berbagai cara bagaimana pembelajaran tatap muka berubah menjadi pembelajaran daring, kita bisa mulai mengidentifikasi serangkaian pendekatan - mulai dari yang sederhana yakni menyediakan teknologi pengganti hingga mendefinisikan ulang makna pembelajaran secara radikal.

Dalam model substitusi, penambahan, modifikasi, dan redefinisi ini, kami menemukan banyak pendidik yang cenderung memaknai perubahan ini dengan sekadar mengganti praktik kelas tatap muka dengan teknologi baru.

Akibatnya, esensi kemanusiaan dari pengalaman mengajar menjadi hilang ketika prosesnya dijembatani media digital.

Contohnya adalah penyediaan bahan ajar secara elektronik untuk menggantikan buku teks. Hasilnya, suasana belajar tersebut menjadi kikuk dibandingkan dengan pengalaman penggunaan internet untuk kegiatan sehari-hari. Pengalaman siswa di ruang pendidikan digital bisa jadi sangat berbeda dengan pengalaman ketika mereka menggunakan media sosial, belanja, dan bermain game.

Ketidakcocokan ini adalah contoh bagaimana transisi dari kelas fisik ke online seringkali tidak dikelola dengan baik.

Ada kesenjangan alami antara apa yang dipercaya oleh guru dengan yang dialami siswa.

Three young people looking at a mobile phone screen
Siswa sudah terbiasa dengan pengalaman menjelajahi internet yang familier dan lancar, hal yang masih belum terjadi dalam pembelajaran daring. Jacob Lund/Shutterstock

Pentingnya mendesain pembelajaran daring yang inklusif

Akses yang lebih baik terhadap teknologi maupun pelatihan penggunaan sistem digital sama-sama bukanlah solusi untuk menjembatani kesenjangan ini. Ini adalah celah dalam desain teknologi pembelajaran.

Ketika menyadari hal ini, kita menjadi lebih mudah menemukan solusinya - ada kebutuhan mutlak untuk penerapan “desain untuk dunia daring”, seperti yang dikemukakan Cathy Stone, profesor pendidikan dari Australia.

Namun, desain ini tidak bisa hanya dibebankan kepada guru. Kita perlu menyatukan berbagai perspektif dan keterampilan, termasuk dari para guru, siswa, dan ahli teknologi, untuk bersama-sama mendesain ulang pengalaman pembelajaran daring.

Guru tidak bisa lagi dijadikan satu-satunya sumber otoritas. Semua harus berkontribusi: guru yang menguasai kurikulum, siswa yang memahami pentingnya arti dukungan dan motivasi dalam belajar, serta ahli teknologi yang berbagi cara-cara mendesain komunikasi digital.

Dengan demikian, tidak akan ada lagi yang namanya ‘pemantau digital’ - semua memiliki peran sebagai perancang. Sebagaimana yang pernah dikatakan peneliti ekonomi politik dari Amerika Serikat, Herbert A. Simon, bahwa siapa pun yang terlibat dalam proses “mengubah situasi yang ada menjadi lebih ideal”, adalah seorang desainer.

Tidak ada satu solusi umum untuk mendesain pembelajaran daring. Setiap kali guru, siswa, dan ahli teknologi berkumpul, mereka membentuk suatu komunitas baru dengan tujuan dan berbagai pertanyaan yang sama. Ini adalah sebuah ruang refleksi yang demokratis dan memungkinkan kita untuk bertindak dengan penuh pertimbangan, serta menghargai pengetahuan dan keterampilan pihak lain.

Melihat kembali sejarah, ada baiknya kita belajar dari pengalaman yang ditawarkan oleh kehadiran kereta api: kemampuan untuk meninjau ulang secara visual dan juga merancang sebuah dunia tanpa sedikit pun meninggalkan gerbong kereta.

Dengan hadirnya produksi media pembelajaran digital, kini kita juga dipanggil untuk merenungkan dan merancang pembelajaran tanpa beranjak dari depan layar digital.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 115,400 academics and researchers from 3,751 institutions.

Register now