Menu Close
Lukisan perempuan Neandertal
Artist: Tom Björklund / Moesgård Museum, Author provided

Meski sudah punah 40.000 tahun yang lalu, DNA manusia purba Neandertal masih banyak ditemukan saat ini

Neandertal telah menjadi cerminan manusia purba sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1856. Yang kita ketahui tentang manusia purba Neandertal telah disesuaikan dengan tren budaya, norma sosial, dan standar ilmiah kita. Mereka telah berubah dari spesimen yang berpenyakit, kemudian menjadi sepupu jauh manusia yang lamban, dan akhirnya menjadi manusia yang lebih modern.

Sekarang kita tahu bahwa Homo neanderthalensis sangat mirip dengan kita dan kita bahkan bertemu mereka dan sering melakukan perkawinan silang. Akan tetapi, mengapa hanya mereka yang punah, sementara kita dapat bertahan, berkembang, dan akhirnya mengambil alih planet ini?

Neandertal berevolusi lebih dari 400.000 tahun yang lalu, kemungkinan besar dari nenek moyang sebelumnya Homo heidelbergensis. Mereka sangat sukses dan jumlahnya tersebar di banyak wilayah, dari Mediterania ke Siberia. Dengan rata-rata ukuran otak yang lebih besar dari otak Homo sapiens, mereka sangatlah cerdas.

Mereka berburu hewan besar, mengumpulkan tanaman, jamur, dan hewan laut, mengendalikan api untuk memasak, membuat alat komposit, membuat pakaian dari kulit binatang, membuat manik-manik dari kerang, dan mampu mengukir simbol di dinding gua. Mereka merawat anggota muda, tua, dan lemah mereka, menciptakan tempat persembunyian untuk berlindung, hidup melalui musim yang sangat dingin dan musim panas yang hangat, dan mereka menguburkan anggota kelompoknya yang meninggal dunia.

Beberapa kali, Neandertal bertemu nenek moyang kita pada selama puluhan ribu tahun dan kedua spesies itu tinggal bersama di benua Eropa setidaknya selama 14.000 tahun. Mereka bahkan kawin satu sama lain.

Bagan evolusi manusia
Nenek moyang kita hidup kurang dari satu juta tahun yang lalu. Kjærgaard, Nielsen & Maslin, Author provided

Kematian spesies

Perbedaan paling signifikan antara Neandertal dan kita adalah bahwa mereka punah sekitar 40.000 tahun yang lalu. Meskipun penyebab pasti dari kematian mereka masih belum diketahui, kami pikir itu mungkin hasil dari kombinasi berbagai faktor.

Pertama, iklim zaman es terakhir sangat bervariasi. Iklim yang bergeser dari dingin ke hangat dan kembali dingin memberi tekanan pada hewan dan tanaman sumber makanan. Artinya, Neandertal harus terus-menerus beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kedua, jumlah Neandertal tidak pernah sebanyak itu – populasi keseluruhan mereka tidak pernah melebihi puluhan ribu.

Mereka hidup dalam kelompok yang terdiri dari lima hingga 15 individu. Jumlah ini tentunya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Homo Sapiens yang memiliki kelompok hingga 150 individu. Populasi kecil Neandertal yang terisolasi ini mungkin semakin membuat mereka tidak berkelanjutan secara genetik.

Ketiga, kami berspekulasi bahwa banyak Neandertal mungkin telah berasimilasi ke dalam kelompok Homo sapiens yang lebih besar. Hal ini karena adanya persaingan dengan pemangsa lain, khususnya kelompok manusia modern yang muncul dari Afrika sekitar 60.000 tahun yang lalu.

Mana buktinya?

Puluhan ribu tahun kemudian, kami dapat meneliti banyak jejak yang ditinggalkan oleh Neandertal. Banyak di antara jejak-jejak ini dapat dilihat di pameran khusus yang telah kami bantu kurasi di Natural History Museum of Denmark (Museum Sejarah Alam Denmark) di Denmark. Selama 150 tahun terakhir, kami telah mengumpulkan fosil tulang, batu, dan peralatan kayu, menemukan pernak-pernik dan perhiasan yang mereka tinggalkan, menemukan penguburan, dan sekarang memetakan genom mereka dari DNA purba. Tampaknya, DNA Neandertal dan DNA manusia modern 99,7% identik dan mereka adalah kerabat terdekat kita yang telah punah.

Mungkin fakta yang paling mengejutkan adalah bukti perkawinan silang antara Neandertal dan manusia modern yang telah meninggalkan jejak DNA pada manusia yang hidup saat ini. Banyak orang Eropa dan Asia memiliki antara 1% dan 4% DNA Neandertal, sementara orang Afrika di selatan Sahara hampir nol. Ironisnya, dengan populasi dunia saat ini sekitar 8 miliar orang, artinya DNA Neandertal di Bumi adalah yang terbanyak saat ini.

Lukisan manusia Neanderthal
99.7% manusia. Artist: Tom Björklund / Moesgård Museum, Author provided

Dengan adanya bukti bahwa beberapa Neandertal berevolusi dengan kulit pucat dan rambut merah jauh sebelum Homo sapiens, genom Neandertal juga membantu untuk lebih memahami seperti apa rupa mereka. Banyaknya gen yang dimiliki oleh Neandertal dan manusia modern ini terkait dengan banyak hal, mulai dari kemampuan mencicipi makanan pahit hingga kemampuan berbicara.

Pengetahuan tentang kesehatan manusia juga telah meningkat. Misalnya, beberapa DNA Neandertal yang mungkin bermanfaat bagi manusia puluhan ribu tahun yang lalu sekarang tampaknya menimbulkan masalah jika dikombinasikan dengan gaya hidup Barat yang modern.

Ada kaitan dengan alkoholisme, obesitas, alergi, pembekuan darah, dan depresi. Baru-baru ini, para ilmuwan mengatakan bahwa varian gen purba dari Neandertal dapat meningkatkan risiko komplikasi serius dari penularan COVID-19.

Mengangkat cermin

Seperti dinosaurus, Neandertal tidak tahu apa yang akan terjadi. Bedanya, dinosaurus menghilang tiba-tiba setelah hantaman meteorit raksasa dari luar angkasa. Sebaliknya, kepunahan Neandertal terjadi secara bertahap. Sebuah persinggahan nyaman yang telah mereka tempati selama ratusan ribu tahun yang perlahan berbalik melawan mereka, hingga keberadaan itu sendiri tidak berkelanjutan. Akhirnya, mereka kehilangan dunia mereka.

Dengan ini, Neandertal sekarang memiliki tujuan yang berbeda. Kita melihat bayangan kita di dalamnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada mereka dan mereka tidak punya pilihan selain terus menyusuri perjalanan yang akhirnya mengantarkan mereka menuju kepunahan. Di sisi lain, kita sangat menyadari situasi kita saat ini dan dampak yang kita miliki pada planet ini.

Aktivitas manusia mengubah iklim dan mengarah langsung ke kepunahan massal yang ke-6. Kita dapat merenungkan kekacauan yang telah kita perbuat dan melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Jika kita tidak ingin berakhir seperti Neandertal, sebaiknya kita bertindak dan bekerja bersama untuk mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan. Kepunahan Neandertal mengingatkan kita bahwa kita harus menghargai keberadaan kita saat ini.


Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,300 academics and researchers from 4,519 institutions.

Register now