Menu Close

Pakar Menjawab: mengapa kasus COVID-19 di Indonesia naik-turun, bagaimana prediksi penularan ke depan?

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 booster kedua kepada dokter (kiri) di RS Mata Cicendo, Bandung, Jawa Barat, 2 Agustus 2022. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj

Kasus harian COVID-19 di Indonesia naik-turun bak roller coaster seiring dengan naiknya mobilitas penduduk saat liburan panjang, mutasi virus, dan longgarnya implementasi protokol kesehatan, terutama pemakaian masker di ruang publik.

Setelah mencapai angka kasus harian di bawah 200 kasus pada pertengahan 23 Mei lalu, hanya dalam hitungan beberapa pekan kini kasus telah mencapai lebih dari 6.000 kasus pada 9 Agustus. Angka ini kemungkinan akan terus menanjak.

Dalam dua tahun terakhir, kasus COVID-19 mencapai puncaknya pada 15 Juli 2021 dengan 56 ribu kasus dan 16 Februari 2022 dengan 64 ribu kasus sehari.

Kasus harian COVID-19 di Indonesia sejak Maret 2021 hingga saat ini. COVID19.GO.ID

Mulai akhir Juli lalu, Kementerian Kesehatan memperkuat pertahanan tenaga kesehatan melalui vaksin COVID-19 booster kedua atau dosis keempat, yang menyasar 1,9 juta tenaga kesehatan.

Pertanyaannya, mengapa kasus naik turun ini berulang dan bagaimana dampak kenaikan itu terhadap risiko kesakitan dan kematian pada orang-orang positif COVID-19? Bagaimana pula prediksi model penularan virus ini dan antisipasinya?

Secara umum, penyebaran penyakit menular disebabkan oleh interaksi segitiga epidemiologi yang cukup dikenal dalam studi kesehatan masyarakat: agen (virus), inang, dan lingkungan. Untuk menjelaskan ketiga faktor itu dalam konteks naik turun kasus COVID-19, kami bertanya kepada Teguh Haryo Sasongko, peneliti kesehatan dari International Medical University (Malaysia) dan penulis The Cochrane Collaboration.

Kasus naik setelah libur panjang: interaksi tiga variabel

Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang signifikan dalam mendorong penyebaran COVID-19. Lingkungan dalam konteks ini merupakan lingkungan sosial yang mempengaruhi manusia dan memungkinkan virus menyebar dari satu inang (orang) ke inang lainnya.

Virus penyebab COVID-19 menyebar melalui tetesan cairan (droplet) mulut dan hidung, lalu masuk ke saluran pernapasan. Kebijakan pembatasan atau pelonggaran gerakan penduduk, termasuk implementasi protokol kesehatan, merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran virus di masyarakat.

Teguh Haryo Sasongko menunjukkan kasus puncak pada Juli 2021 dan Februari 2022 adalah sekitar dua bulan setelah liburan panjang Idul Fitri pada 2021 (Mei) dan liburan panjang akhir tahun 2022 (Desember 2021). “Pergerakan orang dalam jumlah jutaan dan serentak karena merayakan Idul Fitri dan liburan panjang itu jelas satu faktor lingkungan yang menyumbangkan kenaikan kasus,” kata dia.

Ketika orang-orang bertemu, mereka berbicara satu sama lain, makan bersama, atau berkumpul, dan membuat risiko penularan virus tinggi.

Kebijakan pembatasan mobilitas pada saat itu tidak efektif. Kenyataannya, orang tetap mudik.

Hal serupa terjadi pada Mei 2022 lalu, saat liburan Idul Fitri. Saat itu pemerintah mempersilakan penduduk mudik, lepas masker di luar ruangan dan dua bulan berikutnya kasus juga mulai naik. Pada 3 Mei 2022, ada 395 kasus, lalu naik jadi 1000 kasus pada 25 Juni 2022 dan terus menanjak.

Variabel berikutnya adalah kemampuan virus menyebar. Level penyebaran virus merupakan hasil mutasi virus untuk terus bertahan hidup.

Dalam kasus Juli 2021, kasus begitu tinggi karena varian Delta, yang juga menyebabkan kasus tinggi di India saat itu. Kala itu ledakan kasus di negeri ini dimulai dari Kudus di Jawa Tengah setelah Idul Fitri dan kemudian menyebar ke seluruh Indonesia.

Teguh berkata dalam kenaikan kasus Februari 2022, “varian Omicron merupakan jenis virus yang lebih menular tapi dengan daya mematikan yang lebih rendah dibanding Delta”. Kali ini, yang menjadi “tertuduh” menaikkan virus sejak Juni 2022 adalah sub-varian Omicron BA.4 dan BA.5.

Menurut Teguh, ada perbedaan besar dalam hal kesakitan dan kematian antara ledakan kasus pada Juli 2021 dan Februari 2022. Pada Juli 2021, angka kesakitan tinggi sehingga rumah sakit kewalahan. Angka kematian juga tinggi. Hal ini terjadi karena saat itu level vaksinasi dosis pertama di bawah 20% dan dosis kedua di bawah 10%.

“Saat itu (Juli 2021) kita ingat tiap hari ada kawan kita yang meninggal dan kamar rumah sakit sulit diperoleh,” katanya. “Pada Februari 2022, kematian relatif kecil dan rumah sakit relatif tidak kewalahan.”

Vaksinasi massal menaikkan kekebalan penduduk, dengan demikian mengurangi risiko kesakitan dan kematian pada kelompok berisiko terinfeksi seperti yang sebelumnya sudah punya penyakit (komorbid).

Pada Februari 2022, vaksinasi dosis pertama sekitar 90% dan dosis kedua di atas 60%. Ini yang menjelaskan bahwa walau kasusnya mencapai puncak, angka kesakitan dan kematian rendah. Walau kasus harian pada Februari 2022 lebih tinggi dibanding Juli 2021, rumah sakit relatif mampu menangani pasien COVID-19 yang parah. “Jumlah kematian itu tidak mengikuti jumlah kasus yang membesar,” kata Teguh.

Faktor cakupan vaksinasi berkontribusi besar dalam mengurangi kesakitan dan kematian. “Cukup jelas bahwa vaksinasi memiliki pengaruh besar mengurangi angka kesakitan dan kematian. Itu tidak ada yang membantah,” kata Teguh.

Kasus kematian pada Juli 2021 jauh lebih tinggi dibanding Februari-Maret 2022. COVID19.GO.ID

Faktor terakhir adalah faktor inang (manusia yang terinfeksi). Faktor ini berkaitan dengan daya tahan tubuh terhadap serangan virus dan menularkannya ke orang lain. Memakai masker menjadi salah satu cara mencegah penularan.

Vaksinasi dan infeksi, bahkan re-infeksi, telah menciptakan antibodi sehingga tubuh lebih kebal terhadap infeksi virus serupa. Dengan merujuk pada teori evolusi virus, Teguh mengatakan virus penyebab COVID-19 telah bermutasi beberapa kali dengan level kemampuan menyebar yang berbeda. Jika virus bermutasi, dia akan mencari bentuk yang aman supaya dia tetap bisa bertahan. Virus bisa bertahan dan cepat menyebar, tanpa membuat inangnya mati.

“Virus itu jadi hidup berdampingan dengan inang. Bisa menyebar, inangnya mengalami seperti terkena flu biasa. Itu akan terus seperti itu. Virus menyebar tapi tidak membunuh inangnya,” ujarnya. Pada saat yang sama, kekebalan tubuh bertahan juga meningkat akibat vaksinasi dan infeksi sebelumnya.

Teguh mencontohkah perbedaan perilaku varian Delta dan Omicron saat masuk dalam tubuh manusia. Varian Delta masuk ke paru-paru sehingga menyebabkan peradangan di paru-paru. Sementara Omicron hanya masuk sampai saluran pernapasan atas, tidak masuk ke paru-paru. “Varian Omicorn BA.4 dan BA.5 juga mengikuti pola Omicron,” ujarnya.

Prediksi model penularan dan vaksinasi

Dalam skenario yang masuk akal, menurut Teguh, virus COVID ini nanti kemungkinan besar akan terus hidup seperti virus influenza. Maksudnya, virus akan tetap hidup dengan daya tular tinggi tapi manusia tetap bisa beraktivitas karena virusnya tidak begitu mematikan. “Virus dan manusia bisa hidup berdampingan,” ujarnya.

Dengan demikian, vaksinasi rutin akan tetap dibutuhkan dalam beberapa tahun ke depan. “Seberapa besar populasi yang harus divaksin, itu masih pertanyaan,” ujarnya.

Sementara itu, daya lindung vaksin juga terus menurun seiring dengan waktu dan munculnya varian baru. Untuk soal ini, kita bisa belajar dari vaksin influenza. “Vaksin influenza setiap tahun berubah, tergantung dari varian yang muncul tahun itu. Vaksin COVID juga bisa berubah sesuai dengan varian yang muncul dan teknologinya juga sudah ada,” ujarnya.

Jadi, pemerintah perlu bersiap-siap untuk vaksin rutin COVID untuk mempertahankan kekebalan di masyarakat. Sampai kapan vaksin booster perlu dilakukan rutin dan setiap berapa bulan? Itu yang belum diketahui.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 179,200 academics and researchers from 4,898 institutions.

Register now