Menu Close
Shutterstock

Pandemi COVID-19 munculkan 3 pertanyaan besar dan sulit. Siapkah kita menjawabnya?

Epidemi coronavirus, yang secara resmi telah dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret, menimbulkan tantangan etis langsung dan cakupan yang luas bagi pemerintah, otoritas kesehatan, petugas kesehatan, dan masyarakat.

Inti dari tantangan ini yakni bagaimana cara terbaik untuk merespons COVID-19 secara mendesak, tapi tetap aman dan adil bagi semua pihak.

Bagaimana kita memastikan pengembangan dan pengiriman vaksin serta obat-obatan lainnya dengan secara cepat dan etis, juga dengan pengawasan yang tepat? Lalu bagaimana kita menjatah dan mendistribusikan sumber daya kesehatan yang terbatas? Dan seberapa banyak hak-hak kebebasan pribadi yang rela kita lupakan untuk menahan pandemi ini?

Bagaimana kita melakukan ini semua sambil melindungi yang rentan?


Read more: Why public health officials sound more worried about the coronavirus than the seasonal flu


Situasi ini unik

Kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dalam situasi dunia yang kini unik dan berubah dengan cepat karena jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19 terus meningkat tiap harinya dan dengan semakin meningkatnya mobilitas global yang membuat penularan penyakit antarnegara tak terhindarkan.

Urgensi situasi ini bahkan memaksa kita untuk berpikir ulang bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Secara tradisional, kita membuat keputusan etis setelah dialog terbuka untuk mencapai kesepahaman bersama antar berbagai pihak.

Dialog semacam itu dilakukan di bawah tekanan pada waktu krisis karena keputusan harus dibuat dengan cepat dan oleh karena itu pihak berwenang berusaha untuk menangguhkannya dan menghemat waktu.

Kendati demikian, justru dalam situasi yang berpotensi berbahaya inilah kita paling membutuhkan percakapan atau dialog yang etis dan sehat.

Berikut ini adalah 3 contoh tantangan etis yang sedang kita hadapi bersama.

1. Bagaimana kita mengembangkan obat baru secara cepat dan aman untuk dipakai?

Yang pertama adalah bagaimana menyeimbangkan risiko yang tidak kita ketahui terkait dengan pengembangan vaksin atau obat-obatan lainnya dengan kebutuhan merespons mendesak untuk membatasi penyebaran virus.

Bagian dari tantangan itu adalah memastikan pengawasan uji klinis yang cukup saat kita juga mempercepat pemberian terapi baru.

Kita harus memutuskan apakah layak memaparkan tingkat risiko yang lebih tinggi bagi peserta penelitian atau pasien ketika kita dihadapkan dengan taruhan yang lebih tinggi, misalnya nyawa pasien.


Read more: Infecting healthy people in vaccine research can be ethical and necessary


Memang penuh risiko, namun tentu hal ini juga membawa manfaat yang potensial.

Butuh waktu bertahun-tahun sehingga kita dapat membuat kerangka kerja terperinci untuk memastikan penelitian klinis dilakukan secara etis.

Namun, di bawah tekanan seperti keadaan darurat sekarang ini, kita mungkin dapat menemukan cara untuk mengurangi birokrasi dan regulasi agar kita dapat mempercepat pengambilan keputusan dan membuat sistem yang lebih responsif.

Perubahan cara ini mungkin bermanfaat bagi kita semua pada masa depan, terutama apabila kita telah kembali pada keadaan semula (normal).


Read more: Here's why the WHO says a coronavirus vaccine is 18 months away


2. Seberapa siap kita untuk merelakan kebebebasan pribadi?

Menyeimbangkan kebebasan pribadi yang kita miliki, seperti kebebasan untuk bepergian dan kebebasan untuk memilih atau menolak perawatan medis, dengan membatasi penyebaran penyakit adalah tantangan besar lainnya.

Kita telah melihat berbagai foto yang menggelisahkan dari Wuhan, Cina, yang memperlihatkan para petugas di sana menahan warganya yang sedang berjalan kaki di jalan atau membawa mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.

Seberapa siap kita untuk merelakan kebebebasan pribadi seperti kebebasan untuk memilih atau menolak perawatan medis?

Australia telah mengumumkan rencana undang-undang yang memungkinkan warganya ditahan atau diisolasi ketika mereka dinyatakan mengancam keselamatan publik.


Read more: Explainer: what are the Australian government's powers to quarantine people in a coronavirus outbreak?


Pada saat yang sama, organisasi masyarakat juga bergerak untuk melindungi dan mendukung warga yang rentan terkena penyakit dengan menyediakan makanan dan layanan lainnya. Praktisi kesehatan akan terus melayani pasien mereka dengan keberanian dan dedikasi, bahkan ketika hal ini menempatkan mereka dalam bahaya.

Bagaimana kita dapat memastikan nilai-nilai etis tersebut tetap bertahan seiring dengan meningkatnya kekuatan otoriter pihak berwenang?

Berapa banyak dari kebebasan pribadi yang rela kita korbankan untuk mendukung tuntutan kesehatan masyarakat? Akankah kita menerima karantina di rumah atau isolasi di fasilitas medis? Akankah kita mengizinkan pihak berwenang untuk masuk ke rumah seseorang dan menangkap mereka yang terinfeksi penyakit?

Tentu ada langkah-langkah darurat berisiko tinggi yang terus dilakukan dan akan diserap ke dalam praktik kehidupan sehari-hari ketika keadaan kritis ini berakhir. Namun apakah kemudian kita dapat mencegah hal ini terjadi kembali?

3. Bagaimana kita mengalokasikan sumber daya medis yang terbatas?

Pada akhirnya, ada pertanyaan bagaimana cara terbaik bagi kita untuk mengalokasikan sumber daya medis yang langka, seperti obat-obatan, akses perawatan yang intensif, peralatan perlindungan diri, staff medis, dan dana penelitian.

Karena jumlah kasus yang terus meningkat secara global, jumlah pasien dalam keadaan kritis dengan cepat pula melebihi fasilitas yang tersedia. Hal ini mengharuskan kita untuk membuat pilihan yang sulit.


Read more: Coronavirus: should frontline doctors and nurses get preferential treatment?


Kita harus memutuskan siapa saja yang dirawat, siapa yang memiliki akses obat-obatan langka dan teknologi medis tersebut, bagaimana dan untuk siapa saja tenaga profesional kesehatan akan berguna, bagaimana layanan kesehatan dikerahkan, dan juga bagaimana makanan, pakaian pelindung, dan barang-barang lainnya dialokasikan ke masyarakat.

Para profesional kesehatan telah lama akrab dengan diskusi seperti ini, yang mungkin sekarang cenderung makin rutin dilakukan di antara mereka.


Read more: How do we choose who gets the flu vaccine in a pandemic – paramedics, prisoners or the public?


Apa yang ada di depan mata kita?

Kita perlu membuat keputusan ini secara demokratis dengan keterlibatan publik ketimbang menyerahkannya hanya pada para ahli atau otoritas pemerintah.

Kita perlu berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai etis, seperti saling menghormati dan tanggung jawab, keadilan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang rentan terkena penyakit, yang mungkin sulit tercapai pada masa darurat dan tanpa kompromi ini.

Tidak ada solusi mudah untuk memuaskan berbagai pihak. Meski begitu, setidaknya kita dapat mulai pembicaraan mengenai isu-isu ini. Untuk sekarang, mungkin hal ini yang terbaik yang bisa kita lakukan.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 150,600 academics and researchers from 4,452 institutions.

Register now