Menu

Para ilmuwan diaspora Indonesia luncurkan program ‘perjodohan’ peneliti untuk tingkatkan kolaborasi internasional

(Shutterstock)

Para peneliti dari Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) meluncurkan program ‘matchmaking’ atau ‘perjodohan’ untuk menghubungkan ilmuwan di Indonesia dengan mereka yang bekerja di luar negeri, dalam rangka meningkatkan kolaborasi riset internasional Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro berharap program ini akan menjadi terobosan baru dalam perjalanan Indonesia menuju status negara maju dengan ekonomi berbasis riset.

“Ilmuwan di dalam negeri seharusnya bisa mengoptimalkan talenta dan sumber daya, dan untuk itu bagi diaspora kita harap juga bisa bekerja sama dengan talenta dalam negeri,” katanya.

I4 mengumumkan program tersebut minggu lalu pada acara tahunan Forum Cendekia Kelas Dunia – yang diselenggarakan selama dua hari melalui konferensi Zoom dan siaran langsung di Youtube.

Skema ini berupaya untuk menjadi jalur matchmaking alternatif dari tiga skema yang sudah ada sebelumnya - pendanaan RISPRO Kolaborasi Internasional yang disponsori oleh pemerintah, MIT-Indonesia Research Alliance (MIRA) dan kolaborasi World Class University (WCU).

Program-program ini memiliki keterbatasan, seperti hanya bisa melibatkan universitas ternama di Indonesia, atau dibatasi pada periode waktu tertentu setiap tahun.

Sastia Putri, seorang asisten profesor di Osaka University, Jepang yang juga sekretaris jenderal I4 mengatakan bahwa kendala tersebut selama ini membuat sebagian besar ilmuwan di Indonesia harus menghubungi peneliti diaspora secara sporadis.

“Kami justru tujuannya bukan secara langsung kontak via WA atau email - seperti yang selama ini dilakukan. Kami butuh sesuatu yang lebih sistematis,” katanya.

Program matchmaking ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam riset internasional. Pada 2019, hanya 17,12% dari artikel ilmiah yang diproduksi ilmuwan Indonesia ditulis secara multinasional, tertinggal dari negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura (68,57%) dan Malaysia (42,91%).

Kolaborasi penelitian internasional yang rendah sangat mengkhawatirkan, sebagaimana dijelaskan oleh sebuah studi pada tahun 2014 dari tim peneliti University of Chicago di Illinois, AS.

Meninjau publikasi ilmiah yang terbit antara tahun 1996 dan 2012, penelitian ini menemukan bahwa artikel ilmiah yang hanya menyertakan penulis dari satu negara kemungkinan besar berakhir di jurnal yang lebih buruk dan mendapatkan jumlah sitasi yang lebih rendah.

Dalam 25 tahun terakhir, misalnya, sitasi penelitian Indonesia termasuk yang terburuk di Asia Tenggara dengan rata-rata hanya 5 sitasi per dokumen, di bawah sembilan negara ASEAN lainnya.

Cara sistematis untuk menghubungkan talenta Indonesia

Skema matchmaking ini bekerja dengan cara menghubungkan pelamar - dalam hal ini seorang peneliti Indonesia yang berbasis di dalam negeri - dengan peneliti lain di luar negeri sebagai kolaborator.

Hasil utama dari skema ini adalah diterbitkannya suatu ‘joint publication’ atau publikasi bersama.

“Banyak masukan pada diasapora, punya keinginan besar kolaborasi. Outputnya yang sering diminta adalah joint publication. Salah satu program konkret hasil kolaborasi sebagai ilmuwan kan publikasi ya,” ungkap Saskia.

“Bisa dalam dua tahap. Misal [pelamar] sudah punya temuan awal dan berpotensi dikembangkan lebih lagi, langkah selanjutnya eksperiman dengan diaspora. Atau, sudah di tahap draf akhir dan ingin fine-tuning [menyempurnakan] dengan bantuan diaspora supaya maksimal.”

Pelamar akan menjadi narahubung utama yang dicantumkan dalam publikasi bersama ini. Mereka juga diharuskan untuk mendaftar sebagai anggota I4 dan memiliki setidaknya gelar S3.

Skema matchmaking ini sendiri - yang digambarkan oleh Sastia sebaga proses “mak comblang” - dilakukan melalui suatu sistem peer review atau tinjauan sejawat yang diselenggarakan oleh I4.

Diagram alur program ‘matchmaking’ I4. CC BY

Panitia penyelenggara program ini diketuai oleh Teruna Siahaan, seorang profesor kimia farmasi di University of Kansas, Amerika Serikat.

“Supaya fair, proses ini double blind [pelamar dan diaspora tidak tahu diijodohkan dengan siapa] sampai terjadi matchmaking. Jadi ini benar-benar berdasar kualitas abstraknya itu sendiri,” jelas Sastia.

“Nanti penyelenggata bisa merekomendasiikan dari pool diaspora yang sudah tergabung di program ini, yang cocok siapa untuk jadi mitra, dari bidang keilmuan yang luas.”

Terdapat total 14 klaster ilmiah dalam skema ini – termasuk pertanian, manajemen bencana, robotika, hingga ilmu sosial dan humaniora.

Kolaborasi pertama, pendanaan kedua

Bagus Putra Muljadi, seorang asisten profesor di University of Nottingham, Inggris yang juga menjabat sebagai Kepala Komunikasi I4 mengatakan bahwa manfaat lain dari skema ini adalah para ilmuwan dapat memiliki kolaborasi yang matang, jauh sebelum pendanaan penelitian diumumkan.

“Jadi kita bukan hanya ingin program matchmaking yang ‘reaktif’ ya, ada dana lalu kita matchmaking,” katanya.

“Supaya kolaborasi nggak buru-buru, tidak ada jalan singkat satu minggu jadi.”

Oleh karena itu, Bagus menjelaskan bahwa skema matchmaking ini akan memberikan keunggulan bagi ilmuwan Indonesia terutama saat mereka mengajukan proposal untuk berbagai program dana hibah.

Sebagai contoh, Pendanaan RISPRO Kolaborasi Internasional - skema pendanaan riset dari Kementerian Riset dan Teknologi, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) yang memiliki batas waktu Juni setiap tahun - menyediakan dana hingga Rp 2 miliar untuk setiap proyek yang disetujui.

Namun, syaratnya pelamar harus sudah memiliki kolaborator yang berafiliasi dengan lembaga asing.

“Kolaborasi yang baik bukan hanya sifatnya marriage of convenience [seperti kawin kontrak], misal ada orang Indonesia belajar ekonomi dan lainnya belajar biologi, jadilah masukkan proposal bio-ekonomi. Tidak begitu ya,” terangnya.

“Panjang prosesnya, perkenalan dulu, risetnya apa dulu, simulasi, dll. Itu harus kita sadari kompleksitasnya, ini yang kita [I4] coba fasilitasi.”

Masa depan kolaborasi domestik dengan diaspora

Arif Satria, rektor IPB dan ketua Forum Rektor Indonesia mengatakan bahwa skema matchmaking ini merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan kapasitas penelitan Indonesia di masa depan.

“Saya membayangkan di masa depan program ini bisa dikembangkan untuk melakukan benchmark [studi banding] berbagai bidang, misal stem cell. Di MIT sudah sampai mana, di Indonesia sampai mana, dan celahnya seperti apa,” katanya.

“Dari gap analysis, pengembangan infrastruktur riset di Indonesia bisa lebih sistematis. Anggaran butuh berapa, infrastuktur yang dibutuhkan seperti apa, mana kolaborasi yang harus didorong.”

Rencana Induk Riset Nasional terbaru yang diumumkan pada tahun 2017, menargetkan Indonesia untuk mencapai status ‘negara maju’ pada akhir tahun 2045 melalui kemajuan dalam bidang penelitian - di antaranya didorong oleh kolaborasi global.

“Kita baru saja merayakan 75 tahun kemerdekaan. Dari bidang ekonomi, Indonesia pas umurnya baru naik kelas dari lower middle income jadi upper middle income,” kata Menteri Bambang.

“Untuk mencapai status negara maju pada tahun 2045 - 100 tahun Indonesia merdeka, tidak ada cara lain kecuali kita mengubah perekonomian menjadi berbasis riset dan inovasi.”


Ayesha Muna berkontribusi dalam menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 112,900 academics and researchers from 3,686 institutions.

Register now