Pertambangan menggerakkan kehidupan modern, namun merusak lahan dan mencemari air. Ini penjelasan ahli

David Guthrie/Flickr, CC BY

Masyarakat modern bergantung pada logam seperti tembaga, emas, dan nikel untuk obat-obatan hingga elektronik.

Sebagian besar elemen ini jarang ditemukan di permukaan Bumi, sehingga membutuhkan upaya memindahkan tanah dan batu dalam skala besar untuk menambangnya.

(Hard rock mining), atau penggalian mineral keras, tidak seperti batubara atau pasir tar yang tergolong mineral lunak, telah menghasilkan pendapatan 600 miliar dolar AS di seluruh dunia pada tahun 2017.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang meninjau kembali sedang meninjau beberapa proposal pertambangan kontroversial yang sebelumnya diblokir atau tersendat, termasuk Tambang Kerikil di Teluk Bristol di Alaska dan area Boundary Waters Canoe Area Wilderness di Minnesota.

Ditambah lagi, pemerintah AS juga menyetujui pertambangan tembaga di Arizona selatan, meski akhirnya diblokir oleh putusan pengadilan federal.

Saya mempelajari studi tentang lanskap akibat aktivitas manusia, termasuk wilayah yang terkena dampak tambang.

Wilayah pertambangan merupakan sumber utama polusi air dan menyebabkan masalah bagi generasi yang mendatang. Jejak karbon tambang secara global juga berdampak langsung bagi sebagian besar topografi Bumi, meninggalkan bukti keberadaan manusia yang tak terhapuskan.

Tambang Kerikil yang diusulkan di Alaska terletak di daerah hulu Teluk Bristol di mana terdapat perikanan salmon merah (sockeye salmon) komersial terbesar di dunia.

Penggalian yang dalam dan luas

Di sebagian besar lokasi, konsentrasi tembaga, emas, dan elemen lainnya terlalu rendah untuk bisa diekstraksi secara menguntungkan.

Namun, di beberapa tempat, bijih mineral tersebut dapat ditambang dalam konsentrasi yang tinggi. Konsentrasi mineral yang layak secara ekonomi ini sangat tergantung pada harga pasar. Bijih emas dapat bertahan pada konsentrasi serendah 0,0001%, sementara tembaga tidak ekonomis jika di bawah 0,5%.

Untuk mencapai cadangan bawah tanah tersebut, para penambang akan menggali terowongan, lubang terbuka atau mengikis permukaan Bumi. Pemilihan teknik tergantung pada bermacam faktor, termasuk cara menggabungkan bijih hingga mengatur geologis dan kedalaman bijih tersebut di bawah tanah.

Tambang dalam akan sedikit merusak permukaan tanah, tetapi lebih berbahaya bagi para penambang yang berisiko menghadapi gas beracun atau tanpa oksigen karena berada jauh di bawah permukaan bumi.

Bahaya lain adalah gempa bumi dan kegagalan peralatan. Pada tahun 2010, 33 penambang Cile selama lebih dari dua bulan terperangkap di bawah tanah akibat longsor di tambang emas-tembaga. Keseluruhan penambang akhirnya bisa diselamatkan.

Tekanan internasional akan keselamatan tambang, perubahan teknologi dan kualitas bijih mendorong adanya perubahan dari pertambangan dalam ke tambang lubang atau tambang permukaan, yang mengakses bijih dari udara terbuka.

Tambang dalam bisa mencapai kedalaman tiga perempat mil, tapi biasanya mencakup kurang dari 20 mil persegi. Sebaliknya, tambang permukaan tamemanjang kurang dari 1.000 kaki ke kerak bumi, tetapi dapat memanjang lebih dari ratusan mil persegi.

Bersamaan dengan logam seperti emas, perak dan besi, tambang juga menghasilkan bahan termasuk pasir dan kerikil, batu pecah dan semen Portland. USGS

Air asam

Menambang bijih mineral biasanya akan membongkar batuan dasar, mengeluarkannya dari terowongan atau lubang dan menyimpan limbah di dekatnya setelah mengekstraksi.

Di tumpukan batu lepas ini, yang dikenal sebagai spoil piles, mineral mentah yang sebelumnya terkubur terkena udara atau air.

Senyawa kaya sulfur dalam batuan bereaksi dengan oksigen dan air, menghasilkan asam sulfat, yang dapat menurunkan pH aliran air terdekat ke tingkat yang sebanding dengan jus lemon atau cuka.

Proses yang dikenal sebagai drainase tambang asam ini dapat membunuh sebagian besar kehidupan air.

Jika drainase asam mencapai air tanah, ia dapat bertahan selama beberapa dekade atau abad dan memulai riam dampak lain yang merusak kualitas air di seluruh jaringan sungai setempat.

Ketika drainase tambang asam menurunkan pH aliran, logam lain juga dapat mulai meleleh keluar dari mineral di spoil piles, terowongan tambang atau tanah yang berdekatan, kemudian larut ke tanah dan air tanah yang berkaitan dengan daerah-daerah ini.

Proses ini meningkatkan kadar kadmium, tembaga, timah dan logam berat lainnya pada air sehingga berbahaya bagi serangga air, ikan, hingga kesehatan manusia.

Selanjutnya, akan berdampak kepada kehidupan di hilir dan bertahan selama beberapa generasi. Tambang tua dan terbengkalai di seluruh dunia sudah merusak kualitas air jauh sebelum berhenti beroperasi.

Dampaknya bisa kebocoran jangka panjang atau mendadak seperti Gold King 2015 yang terjadi di dekat Silverton, Colorado, yang melepaskan tiga juta galon air limbah tambang dan puing-puing ke Sungai Animas.

Menurut Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS, setidaknya ada 161.000 situs penambangan hard rock yang ditinggalkan di AS bagian Barat dan Alaska. Dari jumlah tersebut, setidaknya 33.000 situs memiliki persediaan air yang terkontaminasi atau tumpukan limbah tambang yang terkontaminasi arsenik.

Foto AP / Brennan Linsley

Mengubah bentuk Bumi

Operasi penambangan juga menyebabkan ribuan mil persegi tanah berubah. Dalam beberapa kasus, khususnya penambangan di puncak gunung, seluruh bentuk tanah berubah secara permanen.

Selama ribuan tahun permukaan planet Bumi terbentuk oleh proses geologis angin dan hujan yang lambat. Sebaliknya, penambangan mengubah sangat geologi, topografi, hidrologi, dan ekologi situs hanya dalam beberapa tahun atau dekade.

Aktivitas pengubah rupa Bumi ini merepresentasikan dampak yang mendorong argumen zaman geologis baru - Anthropocene, yaitu era di mana aktivitas manusia memiliki dampak yang lebih besar bagi Bumi daripada proses murni alami.

Evolusi bentang alam bergerak dalam siklus yang sangat lambat, sehingga dampak topografi dan geologis ini dapat bertahan jauh lebih lama daripada efek penambangan terhadap kualitas air.

Dan, karena proses geologis yang lambat, para ilmuwan tidak tahu bagaimana bentang alam ini akan menyimpang atau menyatu dalam evolusi masa depan mereka.

Esensial dan langka

Seperti produsen minyak dan gas, perusahaan tambang harus menyadari bahwa produk mereka langka dan deposit yang mudah diekstraksi sudah ditambang, sehingga kualitas bijih mineral menurun. Namun, permintaan akan logam-logam ini terus meningkat.

Energi ramah lingkungan yang berkembang pesat membutuhkan ekstraksi dalam jumlah besar dari logam langka untuk menggerakkan turbin angin, baterai kendaraan listrik dan panel surya. Tidak hanya itu, ponsel, komputer, lensa kamera dan barang lainnya juga mengandung mineral.

Kewajiban ekonomi membuat perusahaan terus mendorong untuk menggali tambang baru, baik di AS atau di negeri lain dengan pengawasan lingkungan yang lebih lemah. Proyek-proyek baru tersebut akan memindahkan lebih banyak batu, mengkonsumsi lebih banyak energi dan memiliki dampak yang lebih lama daripada yang sebelumnya.

Memastikan bahwa operasi penambangan tunduk pada pengawasan yang efektif, pemantauan jangka panjang, hingga tanggung jawab perusahaan atas kerusakan lingkungan merupakan tantangan jangka panjang.

Cara terbaik untuk sepenuhnya menghindari komplikasi yang berasal dari penambangan lebih banyak mineral adalah dengan mengurangi konsumsi, membuat proses penambangan lebih efisien dan membuatnya lebih ekonomis untuk mendaur ulang bahan industri dan logam langka .

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari Bahasa inggris.

This article was originally published in English