Menu Close
Pemerintah Inggris memasukkan GHB ke dalam jenis obat ilegal. TRUNCUS/Shutterstock

Rahasia GHB, ekstasi cair yang dipakai Reynhard Sinaga melumpuhkan korban

Kejahatan Reynhard Sinaga, warga negara Indonesia yang terbukti dalam 136 kasus pemerkosaan di pengadilan di Manchester Inggris, menguak sisi lain penggunaan obat-obatan terlarang yang dia pakai untuk melumpuhkan para korban.

Modus operandinya, terdakwa berusia 36 tahun itu menawarkan tumpangan menginap bagi laki-laki muda yang teler di dekat apartemennya setelah para korban itu menghabiskan malam di kelab malam dekat situ. Reynhard lalu menawarkan minum yang telah lebih dulu dicampur dengan gamma-hydroxybutirate (GHB). Setelah korban tidak sadarkan diri, Reynhard lalu memperkosa laki-laki tak berdaya itu di kamarnya.

Obat serupa juga dipakai dalam kasus memperdaya sejumlah perempuan yang diperkosa secara beramai-ramai di kelab malam di Korea Selatan, dikenal sebagai skandal Burning Sun yang melibatkan anggota bintang boyband Seungri ‘Bigbang’ tahun lalu.

Di Indonesia, Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan GHB merupakan obat ilegal dan tidak beredar di sini.

Obat bius di kelab malam

Lalu apa itu GHB?

GHB ini adalah salah satu dari obat kelab (club drugs) – obat-obatan yang sering digunakan di kelab malam dan festival musik untuk meningkatkan keintiman sosial dan stimulasi rangsangan.

Ilmuwan dan dokter dari Amerika Serikat Paul M. Gahlinger menyebut ada empat obat kelab malam yang paling banyak digunakan yaitu (1) 3,4-metilen-dioksimetamfetamin (MDMA); (2) gamma-hidroksibutirat (GHB); (3) flunitrazepam (Rohypnol); dan (4) ketamin (Ketalar).

Jika MDMA lebih populer dengan nama ekstasi, GHB di dunia malam terkenal dengan istilah ekstasi cair, G, atau soap (sabun).

GHB memberi rasa senang (euforia) sekaligus bekerja sebagai relaksan karena membuat pengguna tenang. GHB juga berfungsi sebagai afrodisiak dan dapat meningkatkan kinerja seksual.

Sebenarnya obat ini adalah asam lemak 4-karbon endogen yang bertindak sebagai neurotransmitter (senyawa kimia penyampai pesan antarsel saraf) dalam regulasi siklus tidur, aliran darah, emosi dan memori. Aksinya dimediasi melalui reseptor spesifik pada otak yang berikatan dengan reseptor gamma-amino butyric acid-B (GABA-B)

Obat ini pertama kali disintesis di Prancis pada 1960 sebagai obat anestesi, obat bius untuk operasi. Kemudian mencapai popularitas sebagai obat rekreasional dan suplemen nutrisi yang dipasarkan ke para binaragawan karena sifatnya yang membakar lemak.

Penjualan tanpa resep untuk obat ini di Amerika Serikat dilarang pada 1990 karena efek sampingnya, depresi pernapasan karena kurangnya udara masuk ke paru-paru dan juga termasuk gerakan yang tidak terkendali.

Perubahan perilaku secara konsisten diamati pada pasien yang telah menelan GHB. Agresi dan gangguan perilaku yang sering bertentangan dengan kepribadian normal pasien menjadi temuan umum.

Spektrum efek neurologis juga terjadi, mulai dari yang ringan berupa gerakan mata yang tidak terkendali (nystagmus), gangguan gerakan tubuh akibat masalah pada otak (ataxia), pusing, dan menurunnya kesadaran. Hingga efek yang parah berupa koma, depresi pernapasan, henti napas (apnea), dan kematian).

Berdampak mematikan

Pada tahun 2000, sebanyak 60 kematian dilaporkan terjadi di Amerika karena overdosis dan penggunaannya melonjak disalahgunakan sebagai obat “pemerkosaan”.

Dua tahun kemudian, natrium oksibat, senyawa garam dari GHB, disetujui untuk pengobatan narkolepsi (gangguan neurologi kronis yang menyebabkan penderita tertidur tiba-tiba dan tanpa bisa dikendalikan dan diklasifikasikan sebagai obat yang termasuk dalam Schedule III oleh Badan Obat-Obatan dan Makanan (FDA) di Amerika dengan nama dagang Xyrem®. Obat ini penggunaannya harus dengan resep dokter dan didistribusikan secara terbatas.

Baru-baru ini, sodium oksibat atau natrium oksibat telah dipelajari sebagai terapi untuk penghentian kecanduan alkohol.

Meski begitu, parlemen Inggris tetap memasukkan GHB ini ke dalam obat-obat ilegal kelas C. Artinya siapa pun yang memasok atau memilikinya untuk dikonsumsi dapat dihukum penjara 2-14 tahun.

Di London, selama 2011-2015 sebanyak 61 orang dilaporkan meninggal terkait GHB.

Dalam dosis yang lebih tinggi obat ini menyebabkan pusing, air liur berlebih (hipersalivasi), berkurangnya tegangan otot (hipotonia), dan terganggunya daya ingat (amnesia). Serbuk garamnya biasanya dilarutkan dalam air dan dijual di pasar gelap di Eropa dengan harga US$5-10 per dosis.

Rasa yang tidak enak dari GHB ini biasanya ditutupi dengan zat perasa atau minuman beralkohol. Efeknya muncul dalam 15-30 menit setelah konsumsi oral dan mencapai puncaknya pada 20-60 menit, tergantung pada apakah dicampur ia dengan makanan atau tidak.

Sebuah riset yang terbit di Journal of Clinical Psychopharmacology melaporkan bahwa muntah adalah salah satu efek samping paling umum dari pencampuran alkohol dengan GHB. Campuran dari dua depresan ini juga dapat menyebabkan efek menenangkan dan amnesia serta juga mengakibatkan overdosis yang berpotensi mengancam jiwa.

Overdosis yang melibatkan GHB dan alkohol dapat menyebabkan seseorang sulit bernapas, berpotensi mengalami kegagalan pernapasan, koma, atau kematian.

Gejala tambahan overdosis meliputi: mual dan muntah, penurunan suhu tubuh, denyut nadi dan denyut jantung tidak teratur, kebingungan mental yang ekstrem dan kemungkinan psikosis, kejang, serta hilangnya kesadaran.

Sangat berbahaya diminum bersama alkohol

Walau berstatus mahasiswa doktoral, mungkin saja Reynhard alpa dalam mengetahui bahwa eliksir atau ramuan ajaib andalannya itu tidak boleh dicampurkan dengan minuman beralkohol.

Menurut laporan media, Reynhard melarutkan GHB dalam minuman beralkohol sebelum memberikannya pada korban

Salah seorang korban yang berusia 21 tahun memberitahu juri di pengadilan bahwa ada yang ganjil dalam minuman yang ditawarkan kepadanya waktu itu. “Minumannya tampak seperti air (biasa) tapi ada larutan di dalamnya, hampir seperti garam. Tidak setransparan air,” kata laki-laki itu sambil menjelaskan bukti melalui tautan video. “Kurasa aku berkata kepadanya, ‘apa ini? Ini bukan air’, dan dia berkata, ‘Ini air, kamu perlu minum air’ ”.

Penggunaan alkohol dengan obat ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan peningkatan efek beracun GHB. Obat ini juga tidak boleh digunakan dalam kombinasi dengan obat penenang atau bius lainnya.

Catatan Editor: Ada revisi dalam artikel ini ihwal jumlah kasus pemerkosaan yang terbukti di pengadilan.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 116,900 academics and researchers from 3,787 institutions.

Register now