Menu Close

Rekor baru belanja Liga Primer bisa membuat sepak bola Inggris lebih adil dan kompetitif – tapi tergantung Perdana Menteri baru

Transfer pemain Liga Inggris
Pemain baru Manchester City, Erling Haaland, melakukan selebrasi setelah mencetak gol. Akun Twitter resmi Erling Haaland

Banyak industri yang kini tengah berhati-hati dan memperkuat pertahanan mereka, sebagai antisipasi dari situasi ekonomi yang sulit ke depannya. Namun tampaknya, hal ini tak berlaku bagi Liga Primer Inggris, yang baru saja memecahkan rekor pembelian pemain hingga menyentuh angka £1,9 miliar (Rp 31,15 triliun).

Dari 20 kontrak pemain termahal klub-klub Eropa musim panas ini, 15 di antaranya berada di Liga Primer (empat di La Liga Spanyol dan satu di Bundesliga Jerman). Secara keseluruhan, Liga Primer menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan gabungan liga top Prancis, Spanyol, dan Italia.

Tingkat pengeluaran ini sebetulnya bukanlah hal baru. Pada musim 2017-2018, Liga Primer menghabiskan £1.86 milar, atau setara dengan lebih dari £2 miliar saat ini.

Yang berbeda kali ini adalah potensi dampaknya terhadap peningkatan level kompetisi di liga.

Nilai (finansial) talenta yang bermain di Liga Primer kini lebih terdistribusi merata, yang secara teori bisa meningkatkan keseimbangan kompetisi. Angka menunjukkan porsi besar dana transfer pemain berasal dari klub-klub di luar tim “big six” (Manchester City, Manchester United, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Liverpool).

West Ham, Newcastle dan Nottingham Forest – yang baru saja promosi liga – mencetak pengeluaran pemain yang lebih besar dibanding klub-klub lainnya. Ini membuat nilai pasar klub-klub Liga Primer lebih merata dibandingkan 10 musim ke belakang.

Secara historis, semakin meratanya distribusi talenta berujung pada distribusi poin liga yang lebih merata pula. Sehingga, keseimbangan level persaingan di liga pun bisa jadi meningkat. Ini baik bagi 20 klub yang bertanding di liga paling top di Inggris tersebut.

Akan tetapi, jarak antara Liga Primer dan kompetisi tier kedua – Championship – pun mencapai rekor tertinggi. Kesenjangan pengeluaran transfer pemain kini berada di kisaran £1,3 miliar, tiga kali lipat jika dibandingkan 10 musim lalu.

Kesenjangan makin melebar jika kita menilik liga tier tiga dan empat (Liga Satu dan Liga Dua), yang estimasi nilai pasar masing-masing hanya sekitar 2,4% dan 0,9% dari Liga Primer. Hal ini bisa menciptakan hambatan finansial bagi klub-klub di tier ini untuk bisa naik liga, yang sudah sepantasanya menjadi perhatian baik bagi klub-klub dan penggemar sepak bola.

Belum lagi, persepakbolaan Inggris punya permasalahan sistemik menyangkut keuangan berkelanjutan. Sejumlah besar klub menghabiskan lebih banyak uang daripada yang mereka hasilkan dan kerap membutuhkan suntikan dana dari pemilik mereka. Dan, walaupun terdapat begitu banyak aturan keuangan yang berlaku bagi klub-klub bola ini, tiap tim tahu persis bahwa terdapat hubungan langsung antara pengeluaran untuk pemain dan kesempatan untuk memenangkan banyak pertandingan.

Pendekatan taktis

Simpulannya, kemenangan itu mahal. Namun, pengeluaran berlebihan bisa merusak, seperti yang terjadi pada Wigan dan Derby County yang kini manajemennya tengah diambil alih administrator demi menghadang kebangkrutan.

Riset kami menunjukkan bahwa bahkan klub-klub besar pun punya sejarah buruk terkait ketahanan terhadap gejolak ekonomi, yang artinya industri persepakbolaan juga tak imun terhadap kondisi sulit perekonomian global saat ini.

Seorang pendung klub bola duduk sendirian di antara kursi-kursi kosong.
Kejayaan tidak dapat dijamin. Shutterstock/Thomas SIVILAY

Tahun lalu, sebuah kajian tata kelola persepakbolaan – dibuat oleh fans – diterbitkan. Ini disusul oleh respons dari Pemerintah Inggris yang menyatakan akan berusaha meningkatkan stabilitas finansial bagi seluruh klub-klub yang ada, menyediakan dukungan finansial bagi tim di liga kecil, dan mendukung pengembangan pemain bola asal Inggris. Salah satu rekomendasi kuncinya adalah memperkenalkan regulator independen yang memiliki wewenang untuk memonitor kinerja keuangan industri persepakbolaan yang buruk.

Akan tetapi, Perdana Menteri Inggris yang baru, Liz Truss, dilaporkan tak antusias untuk menerapkan rekomendasi-rekomendasi itu. Dan jika ia tak melakukannya, akan makin banyak klub yang terpapar risiko kesenjangan baik finansial maupun talenta. Ini memberikan ancaman besar bagi tim-tim yang lebih kecil dan miskin.

Namun, klub-klub Liga Primer dengan pengeluaran besar memberikan manfaat yang tak bisa kita acuhkan. Liga itu sendiri mendanai sepak bola akar rumput dan kegiatan amal, dan baru-baru ini meningkatkan alokasi dana untuk mengembangkan sepak bola perempuan.

Sementara itu, klub-klub di dalamnya masing-masing memiliki yayasan dan pengelolaan dana amal, yang berkontribusi terhadap skema pendidikan anak muda dan agenda sosial positif lainnya. Artinya, uang yang dihasilkan oleh klub yang dijalankan dengan baik dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Pengeluaran untuk transfer pemain memang mahal, tapi juga membawa keuntungan finansial yang tidak sedikit bagi klub yang menjual pemainnya, dan keuntungan ini bisa membawa dampak luas. Apakah level pengeluaran ini berkelanjutan dan adil dalam jangka panjang adalah persoalan berbeda yang harus dijadikan visi ke depannya.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,400 academics and researchers from 4,519 institutions.

Register now