Menu Close

Riset baru: manusia purba di Afrika mungkin telah kawin silang dengan spesies misterius yang telah punah

Homo rhodesiensis adalah sebuah contoh manusia purba. wikipedia, CC BY-SA

Satu penemuan yang mengejutkan muncul dari pengurutan genom DNA manusia purba yaitu semua manusia di luar Afrika memiliki jejak DNA dalam genomnya yang tidak dimiliki oleh spesies kita.

Kira-kira enam miliar orang di Bumi yang leluhurnya bukan berasal dari Afrika mewarisi antara 1% dan 2% genom dari kerabat terdekat mereka yang sekarang telah punah: spesies Neanderthal. Orang-orang di Asia Timur dan Oseania juga mewarisi sejumlah kecil leluhur dari keluarga Denisovan, kerabat dekat dari Homo Sapiens.

Sekarang sebuah studi yang dipublikasikan di Science Advances menunjukkan bahwa manusia purba yang tinggal di Afrika mungkin juga telah mengalami kawin silang dengan para hominin purba. Mereka adalah spesies punah yang masih berkerabat dengan Homo Sapiens.

Perkawinan silang di luar Afrika terjadi setelah nenek moyang kita Homo Sapiens berkembang keluar dari Afrika menuju lingkungan baru. Di sanalah mereka berhubungan seks dengan spesies Neanderthal dan Denisovan.

Ini membawa kita pada penemuan baru. Studi genetik awal orang-orang dari seluruh dunia sebelumnya menunjukkan penyebaran kita saat ini merupakan hasil dari sebuah ekspansi tunggal manusia purba yang keluar dari Afrika sekitar 100.000 tahun lalu. Namun, identifikasi leluhur Neanderthal dan Denisovan pada orang-orang Eurasia modern merupakan hal yang rumit.

Homo Sapiens versus Neanderthal. Wikipedia, CC BY-SA

Kami masih berpikir bahwa mayoritas leluhur orang-orang yang tidak tinggal di Afrika saat ini, dengan presentase antara 92 hingga 98,5%, memang berasal dari ekspansi di luar Afrika. Tapi kami mengetahui sekarang bahwa sisanya berasal dari spesies purba yang leluhurnya telah meninggalkan Afrika ratusan atau ribuan tahun sebelumnya.

Apa yang dulu terjadi di Afrika?

Pengetahuan akan perkawinan silang telah didukung oleh ketersediaan genom modern dan kuno yang jauh lebih besar berasal dari luar Afrika. Hal ini karena lingkungan dingin dan kering di Eurasia jauh lebih baik dalam melestarikan DNA dibandingkan dengan lingkungan panas dan tropis Afrika.

Namun pemahaman kami mengenai hubungan antara leluhur manusia purba di Afrika dan koneksi mereka dengan manusia purba lainnya semakin dalam. Studi pada 2017 mengenai DNA manusia purba di wilayah selatan Afrika menginvestigasi 16 genom kuno dari orang yang telah hidup dalam 10.000 tahun terakhir. Studi tersebut menunjukkan bahwa sejarah populasi Afrika begitu kompleks. Tidak ada satu kelompok manusia saja di Afrika ketika mereka berkembang dan berekspansi 10.000 tahun yang lalu.

Hasil tersebut juga didukung sebelumnya oleh sebuah riset yang memeriksa DNA kuno dari empat orang yang berasal dari wilayah yang sekarang menjadi negara Kamerun. Secara bersama-sama, riset ini menyatakan bahwa ada kelompok yang berbeda secara geografis di Afrka jauh sebelum ekspansi manusia purba keluar dari benua tersebut. Dan banyak dari kelompok-kelompok ini akan kontribusi pada leluhur orang-orang yang hidup di Afrika hari ini.

Selain itu, riset ini juga memunculkan adanya potensi aliran gen ke populasi Homo Sapiens Afrika dari leluhur purba. Salah satu cara yang bisa terjadi yakni orang-orang yang melakukan ekspansi ke luar Afrika berhubungan seks dengan Neanderthal dan kemudian bermigrasi kembali ke Afrika. Hal ini juga telah didemonstrasikan dalam penelitian terbaru.

Makalah baru memberikan bukti bahwa mungkin adanya aliran gen pada nenek moyang Afrika Barat langsung dari manusia purba yang masih misterius. Para peneliti membandingkan DNA Neanderthal dan Denisovan dengan DNA populasi manusia yang sekarang tinggal di Afrika Barat. Dengan menggunakan beberapa perhitungan matematis yang elegan, mereka kemudian membangun model statistik untuk menjelaskan hubungan antara manusia purba dengan orang Afrika modern.

Menariknya, mereka berpendapat bahwa 6-7% genom orang Afrika Barat berasal dari leluhur manusia purba. Tapi nenek moyang manusia purba ini bukan Neanderthal ataupun Denisovan. Model mereka menunjukkan adanya leluhur tambahan yang datang dari sebuah populasi manusia purba yang kita belum miliki genomnya sekarang.

Populasi “tak kasat mata” ini kemungkinan terpisah dari leluhur manusia purba dan Neanderthal antara 360.000 dan 1,2 juta tahun lalu. Periode itu jauh sebelum peristiwa aliran gen yang membawa DNA Neanderthal kembali ke Afrika Barat yang terjadi sekitar 43.000 tahun lalu, meski hal ini masih mungkin terjadi antara 0 sampai 124.000 tahun lalu.

Tanggal-tanggal ini memposisikan spesies “tak kasat mata” ini sebagai sesuatu yang mirip dengan Neanderthal, namun mereka ada di Afrika selama 100.000 tahun terakhir. Penjelasan alternatif mengenai hal ini yaitu manusia purba telah ada di luar Afrika dan melakukan kawin silang di sana sebelum bermigrasi kembali ke Afrika.

Penulis sangat berhati-hati dengan hasil ini karena analisis yang menunjukkannya bukan merupakan artefak dari metodologi atau proses genetik lainnya. Mereka mengatakan perlu ada analisis lebih lanjut mengenai DNA kuno dan kontemporer dari berbagai populasi di Afrika.

Namun demikian, penelitian ini berkontribusi untuk penelitian berkelanjutan ke depannya yang mendemonstrasikan perilaku tak biasa, termasuk perkawinan silang, yang dilakukan oleh para nenek moyang kita.

Rizki Nur Fitriansyah menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 148,500 academics and researchers from 4,412 institutions.

Register now