shutterstock.

Riset: online learning sebagai masa depan pendidikan tinggi Indonesia selepas pandemi

Pandemi COVID-19 memaksa hampir seluruh perguruan tinggi di dunia mengubah proses belajar mengajar mereka ke metode daring yang juga sering disebut sebagai: online learning, mobile learning, web-based learning, e-learning.

E-learning didefinisikan sebagai suatu pembelajaran yang inovatif berbasis daring dengan materi berbentuk digital atau bentuk lainnya. Tujuan utamanya untuk menyediakan pengalaman belajar yang mendukung proses belajar bagi murid yang bersifat personal, terbuka, menyenangkan, dan interaktif.

Riset terbaru kami menunjukkan bahwa e-learning bisa menjadi masa depan pembelajaran perguruan tinggi di Indonesia selepas pandemi.

Kesimpulan tersebut didapat setelah melakukan survei yang melibatkan 682 responden dari beberapa perguruan tinggi negeri dan juga swasta di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua.

Hasil riset

Kami melakukan riset selama bulan April kemarin dengan menyebar survei online ke seluruh Indonesia. Lebih dari 70% dari responden adalah mahasiswa (71%), sisanya adalah dosen (16%), dan sisanya adalah petinggi universitas.

Mayoritas responden (94%) mengapresiasi dengan baik keputusan manajemen perguruan tinggi dalam melakukan pembelajaran melalui metode daring selama pandemi. Mereka juga menilai kualitas dosen dan fasilitas yang ada cukup mendukung pelaksanaan kuliah melalui metode daring.

Dalam survei kami, lebih dari separuh responden (58%) menilai perencanaan dan pelaksanaan online learning di lingkungan kampus mereka sudah sangat baik (rata-rata memberikan skor 7 atau 8 dari skor maksimal 10).

Hampir 60% dari separuh responden juga mengatakan bahwa kualitas pembelajaran online learning sama baiknya dengan kelas biasa. Selain itu, mayoritas responden (62%) juga menyepakati bahwa tujuan pembelajaran juga tercapai dengan baik meski dilakukan lewat pembelajaran daring.

Secara keseluruhan, lebih dari separuh responden (52%) juga menilai pemantauan dari petinggi universitas atas pelaksanaan e-learning pada masa pandemi COVID-19 ini berjalan sangat baik (skor 7 dan 8 dari maksimal skor 10)

Sementara itu ketika ditanyakan mengenai persentase mata kuliah yang perlu dipertahankan lewat e-learning, mayoritas responden (50%) memilih antara 50-75% dari seluruh mata kuliah bisa disampaikan melalui e-learning. Sedangkan, hampir sepertiga dari responden merasa hanya 30-50% dari mata kuliah yang masih bisa menggunakan metode daring.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa e-learning bisa menjadi masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.

Catatan tambahan

Survei ini juga merekomendasikan tiga hal penting untuk meningkatkan mutu online learning setelah masa pandemi ini:

1. Bekali dosen dengan keterampilan pendekatan pembelajaran yang interaktif

Responden menilai salah satu kekurangan dari metode pembelajaran daring adalah kurangnya interaksi dengan dosen. Mereka mengeluhkan cara pemberian materi dosen yang bersifat satu arah.

Kegagapan dosen menjadi menjadi salah satu penghambat proses belajar mengajar dengan menggunakan metode daring.

Riset Helena Rodrigues dari ISCTE, University Institute of Lisbon di Portugal pada 2019 menunjukkan bahwa salah cara mengatasinya adalah dengan mengubah desain pembelajarannya.

Oleh karena itu, prioritas pembekalan dosen menjadi penting. Dosen harus dibekali kemampuan untuk dapat menyusun desain pembelajaran yang interaktif agar proses pembelajaran menjadi maksimal.

2. Bekali dosen dengan kecakapan teknis menggunakan fasilitas online learning

Fasilitas online learning sangat berkembang dan penggunaannya juga bervariasi. Dosen harus memiliki kemampuan untuk memahami berbagai jenis fasilitas yang ada guna menghindari adanya kendala dalam penyampaian materi.

Untuk menjamin kelancaran pemberian materi, pihak universitas juga perlu memberikan latihan teknis kepada dosen dalam menggunakan fasilitas online learning yang ada.

Pelatihan teknis tersebut dapat berupa bimbingan untuk memahami penggunaan sistem manajemen pembelajaran daring (learning management systems (LMS)), dan penggunaan alat-alat konferensi digital. Kemampuan teknis untuk membuat podcast, kuis daring dan materi pelajaran yang interaktif juga perlu diberikan.

Kecakapan lain bisa berupa manajemen pemberian kelas daring. Hal tersebut meliputi pengaturan waktu, pembagian kelompok secara daring, penyusunan penilaian karya yang dilakukan dengan daring, penyusunan rubrik penilaian, pemberian umpan balik secara elektronik.

Kecakapan untuk menyeleksi bahan-bahan kuliah online juga perlu diberikan sehingga materi yang disampaikan dosen bisa optimal.

3. Memperbaiki fasilitas online learning

Menjamin mutu kualitas fasilitas online learning memang tugas manajemen perguruan tinggi. Tapi, salah satu yang menjadi hambatan pelaksanaan e-learning adalah masalah akses dan konektivitas dan ini juga berkaitan dengan peran penyedia jaringan dan perusahaan telekomunikasi.

Sebuah riset terbaru dari Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menunjukkan adanya ketimpangan akses jaringan dan teknologi yang menghambat proses belajar dengan metode daring di empat provinsi di Indonesia: Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Utara (Kaltara), dan Jawa Timur.

Untuk masa depan pendidikan tinggi yang berbasis internet, pemerintah harus juga mencari solusi agar sistem teknologi dan infrastruktur yang ada juga mendukung akses bagi pembelajaran daring.

Jadi, mari bersiap memilih masa depan terbaik.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,900 academics and researchers from 3,640 institutions.

Register now