Peserta ujian tulis berbasis komputer (UTBK) masuk universitas negeri mencuci tangan untuk cegah COVID-19 di Universitas Udayana, Denpasar, 5 Juli 2020. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.

Sejarah dan keajaiban cuci tangan bisa cegah penyakit infeksi termasuk Covid-19

Virus corona yang menyebar begitu cepat dan massal di seluruh dunia telah menaikkan popularitas metode cuci tangan sebagai cara mudah mencegah penularan berbagai penyakit infeksi termasuk Covid-19.

Tak hanya saat pandemi, mencuci tangan merupakan salah satu metode pencegahan penularan penyakit “saat normal” seperti diare, yang murah, sederhana, dan efektif.

Manfaatnya juga bisa bisa diukur.

Sebuah riset di kalangan anak kelas 6 sekolah dasar di Bandung menunjukkan mencuci tangan dengan baik mengurangi infeksi bakteri E.coli (karena cemaran tinja) dan menaikkan status gizi pada anak-anak tersebut. Status gizi menjadi lebih baik karena kejadian gangguan saluran cerna dan infeksi saluran napas lebih jarang terjadi.

Di Indonesia, walau mencuci tangan telah dikenalkan sejak pendidikan dini melalui program Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) di sekolah, faktanya masih banyak yang mencuci tangan dengan cara yang kurang baik dan benar. Bahkan banyak juga tidak mempraktikkan mencuci tangan.

Sebuah riset di Kalikedinding Kenjeran Kota Surabaya , dengan sampel 70 orang, menunjukkan pengetahuan mencuci tangan yang baik (74%), belum tentu diikuti dengan perilaku yang baik. Dari sampel itu, yang mencuci tangan memakai sabun dengan langkah-langkah yang benar sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia hanya sekitar 23%.

Karena itu, kita tidak hanya harus menggiatkan cuci tangan, tapi juga perlu mengkampanyekan cara cuci tangan yang benar agar memberikan manfaat yang optimal.

Cara cuci tangan yang benar dan berdampak

Ide mencuci tangan pertama kali dikemukakan oleh Ignaz Philipp Semmelweis, dokter Hungaria, pada pertengahan abad ke-19.

Semmelweis menyarankan dokter-dokter mencuci tangan untuk menekan angka kematian akibat infeksi pada persalinan. Kala itu, setelah para dokter giat mencuci tangan, angka kematian pada pasien yang melahirkan di sana turun dari 13-18% menjadi sekitar 2%. Ini sebuah penurunan kejadian penyakit yang “ajaib”.

Ide tersebut awalnya ditolak oleh banyak orang karena Semmelweis tidak mengkomunikasikan konsep cuci tangan tersebut secara baik. Selain itu keberadaan mikroba baru berhasil dibuktikan dua dekade kemudian oleh Roberth Koch (Jerman) dan Louis Pasteur (Prancis).

Kini, metode mencuci tangan telah diakui efektif untuk membunuh mikroorganisme dan mencegah penyakit menular, tidak hanya penyakit pada saluran cerna, tapi juga penyakit lainnya seperti penyakit kulit dan penyakit saluran napas atas.

Begitu pentingnya mencuci tangan dengan baik dan benar, peraturan dan praktik cuci tangan menjadi salah satu kriteria penilaian dalam proses akreditasi rumah sakit di Indonesia. Pada elemen penilaian dari Standar Keamanan Pasien Sasaran 5, cuci tangan dijadikan parameter untuk mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Dalam kaitan pandemi, Kementerian Kesehatan pada Maret 2020 menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang menganjurkan mencuci tangan untuk mencegah penularan Covid 19, selain penggunaan masker, menjaga jarak fisik dan tidak menyentuh bagian wajah.

Metode pencegahan ini makin relevan karena hingga saat ini belum ditemukan vaksin dan obat-obatan Covid, serta banyaknya orang tanpa gejala (OTG) yang mampu menularkan kepada orang lain di sekitarnya.

Pencegahan ini akan optimal jika mencuci tangan dilakukan dengan baik dan benar, menggunakan air mengalir dan sabun, lama 40-60 detik, serta mengikuti metode 6 langkah sesuai anjuran Kementerian Kesehatan yang diadopsi dari WHO.

Ini enam cara mencuci tangan yang baik dan benar:

  1. Basahi tangan, gosokkan sabun, lalu gosok kedua telapak tangan dengan arah memutar.
  2. Usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian.
  3. Gosok sela-sela jari hingga bersih.
  4. Bersihkan ujung jari bergantian dengan posisi mengunci.
  5. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian.
  6. Letakkan ujung jari ke telapak tangan, gosok perlahan secara bergantian, kemudian bilas dengan air.

Mencuci tangan yang baik harus menggunakan sabun dan air yang mengalir pada langkah pertama dan keenam di atas. Peran sabun menjadi penting karena dapat melarutkan lapisan lemak, termasuk yang dikandung pada selubung virus dan dinding bakteri. Selanjutnya, penggunaan air mengalir juga akan membilas virus atau bakteri yang masih tersisa di permukaan tangan kita.

Cuci tangan cegah diare dan infeksi saluran nafas

Hubungan antara mencuci tangan dengan baik dan benar dan menurunnya berbagai penyakit infeksi telah lama diketahui. Penurunan kejadian penyakit diare akibat dari cuci tangan yang baik merupakan contoh klasik.

Sebuah riset di Jember dengan responden 300 anak SD menemukan korelasi yang sangat kuat antara perilaku cuci tangan dan insiden diare. Makin baik mencuci tangannya, makin kecil risiko kejadian diare.

Demikian pula riset di Sidoarjo, dengan sampel 58 ibu dari anak-anak berusia di bawah 5 tahun, menemukan hubungan antara mencuci tangan yang kurang baik dari seorang ibu dan kejadian diare pada balitanya.

Hubungan antara infeksi saluran napas akut (ISPA) dengan perilaku mencuci tangan yang kurang baik ditemukan dalam riset di Semarang dengan sampel 128 anak. Tanpa disadari tangan kita sering menyentuh bagian wajah, termasuk hidung dan mulut. Dengan mencuci tangan, mikroba yang menempel pada tangan dapat dihilangkan sehingga kejadian infeksi saluran napas dapat dikurangi..

Riset lainnya juga menyimpulkan dampak cuci tangan mampu menurunkan kejadian kecacingan.

Perlu dukungan banyak pihak

Perubahan perilaku secara individual dan komunal agar lebih sehat sebenarnya hal yang sulit. Pandemi Covid telah memaksa kita untuk cepat berubah. Pandemi ini merupakan faktor pendorong yang kuat bagi masyarakat untuk meningkatkan higiene pribadi.

Di tengah dampak psikologis pandemi, anjuran cuci tangan dituruti oleh sebagian masyarakat secara responsif.

Dalam waktu singkat, harga masker dan hand sanitizer meningkat serta menjadi barang yang langka. Penggunaan hand sanitizer dapat menjadi alternatif saat bepergian saat akses untuk fasilitas mencuci tangan dengan air dan sabun sulit diakses. Namun penggunaan hand sanitizer kurang efektif pada tangan yang sangat kotor, sehingga belum dapat sepenuhnya menggantikan proses cuci tangan dengan sabun.

Karena itu, mencuci tangan dengan air dan sabun tetap dianjurkan setelah beberapa kali membersihkan tangan dengan hand sanitizer.

Selain itu, terdapat beberapa relawan dan donatur yang juga membuatkan stasiun untuk mencuci tangan di berbagai tempat. Berbagai tempat umum, seperti pasar, toko dan tempat belanja lainnya menyediakan fasilitas cuci tangan atau hand sanitizer bagi para pengunjungnya, agar higiene dan kebersihan dapat tetap terjaga.

Perubahan perilaku kesehatan pada masyarakat dalam menjaga kebersihan tangan merupakan hal yang positif, yang perlu diteruskan setelah pandemi.

Perlu ada riset berskala besar untuk mengukur penurunan kejadian berbagai penyakit infeksi lainnya sebagai dampak ikutan dari kebiasaan mencuci tangan pada saat pandemi Covid-19.

Momentum dan kebiasaan yang baik ini perlu terus dipelihara di masyarakat, walau nanti pandemi Covid-19 telah terkendali.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,900 academics and researchers from 3,639 institutions.

Register now