Menjalani puasa selama bulan Ramadan adalah komponen penting dalam kegiatan ibadah umat muslim di seluruh dunia. www.shutterstock.com

Selama Ramadan berat badan turun, tapi tak lama naik kembali: hati-hati dengan efek yoyo

Menjalani puasa selama Ramadan adalah komponen penting dalam kegiatan ibadah umat Islam di seluruh dunia.

Praktik puasa Ramadan ini bervariasi dari suatu negara ke negara lainnya karena tergantung pada posisi negara tersebut di belahan bumi, bisa jadi 9 jam atau 18 jam.

Tidak makan dan minum selama itu membuat banyak orang mengalami penurunan berat badan pada akhir Ramadan. Meskipun demikian, biasanya berat badan akan kembali ke berat badan awal hanya selang beberapa hari setelah lebaran. Fenomena ini disebut efek yoyo.

Untuk memahami efek yoyo tersebut, kami meneliti dengan sampel 78 orang dewasa yang berpuasa dengan berat badan berlebih selama Ramadan tahun 2015.

Untuk penelitian ini, kami mewawancarai mereka, mengukur berat badan, dan pengambilan sampel darah sebelum puasa, pada akhir puasa, dan 2 minggu setelah Lebaran.

Hasil penelitian

Turunnya berat badan selama Ramadan karena adanya perubahan pola makan.

Selama menjalani puasa, sebagian besar responden penelitian kami hanya makan dua kali makanan utama setiap harinya dari yang biasanya tiga kali. Hal ini berakibat pada penurunan asupan kalori sebanyak 400 kilo kalori per hari. Besarnya penurunan ini serupa dengan yang dialami seseorang ketika menjalani program penurunan berat badan (diet).

Perubahan berat badan yang dialami responden kami selama Ramadan ini dikonfirmasi dengan penurunan persentase lemak dalam tubuh sebesar 1,1% Penurunan ini cukup besar sebagai reaksi sebuah diet yang dilakukan selama empat minggu. Sebagai perbandingan, gabungan diet rendah kalori dan latihan fisik yang dilakukan 2-3 kali seminggu selama 8 minggu pada individu dengan kegemukan juga bisa menurunkan sekitar 1% massa lemak tubuh.

Namun, setelah dua minggu, berat badan kembali normal ke angka sebelum puasa. Dari pengamatan kami, responden kami memang kembali menjalani pola makan yang sama sebelum menjalani puasa. Tapi, mengapa peningkatan berat badannya lebih cepat daripada penurunannya?

Salah satu penyebabnya adalah turunnya kadar leptin, yaitu salah satu protein penting yang mempengaruhi metabolisme.

Kami menganalisis kadar leptin responden sebelum dan pada akhir puasa Ramadan dan menemukan penurunan kadar leptin yang signifikan pada akhir puasa.

Leptin adalah sinyal yang dilepaskan jaringan lemak dan diedarkan ke seluruh tubuh, salah satunya ke otak. Leptin bertugas mengirim sinyal ke otak jika tubuh sudah kelebihan energi (lemak) dengan harapan otak akan menurunkan keinginan kita untuk makan dan meningkatkan penggunaan energi. Dengan demikian, tubuh dapat terhindar dari penumpukan lemak terus-menerus yang bisa mengarah pada kegemukan.

Sebaliknya, ketika cadangan energi berkurang dan lemak mengalami penyusutan ukuran, maka produksi leptin akan berkurang dan hal ini dapat berdampak pada naiknya keinginan untuk makan. Kondisi ini yang sering terjadi pada saat Lebaran ketika kita harus berhadapan dengan nastar dan kue-kue di meja makan.

Pembagian hidangan berbuka puasa oleh para sukarelawan di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Photo by Aslam Iqbal / SOPA Images/Sipa USA

Bagaimana cara mencegah berat badan naik lagi?

Perubahan leptin terjadi secara biologis dan kondisi ini memang terjadi secara normal pada individu sehat.

Dalam penelitian yang lain, kami mempelajari pola perubahan leptin selepas seseorang menjalani program penurunan berat badan dan menemukan bahwa pola makan berpengaruhi terhadap fluktuasi leptin sebagai respon terhadap program penurunan berat badan.

Seperti halnya dalam kondisi puasa Ramadan, paska program penurunan berat badan, kami menemukan bahwa leptin secara signifikan berkurang.

Meskipun demikian, kami melaporkan bahwa banyaknya asupan protein yang dimakan selama diet akan mendorong semakin meningkatnya kadar leptin. Dengan kata lain, semakin banyak protein yang dikonsumsi maka akan semakin meningkat leptin yang dihasilkan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi protein selama berdiet atau selama puasa Ramadan dapat membantu mencegah penurunan leptin.

Peran protein dalam mencegah peningkatan berat badan kembali setelah program penurunan berat badan telah banyak dilaporkan oleh riset-riset di negara Barat. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa konsumsi protein ini diutamakan protein yang tidak banyak membawa lemak jenuh, seperti ikan, kacang-kacangan, dan ayam.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,800 academics and researchers from 3,367 institutions.

Register now