Menu Close
pexels/yan krukov

Serial NFT dalam video games: Bermain gim bisa jadi alternatif mata pencaharian (1)

Industri video games kini mulai merambah non-fungible Token (NFT) dalam upaya monetisasi bisnisnya.

NFT, bukti kepemilikan berbasis bank data blockchain yang dapat digunakan untuk mengamankan transaksi jual beli lewat mata uang kripto, selama ini menjadi pilihan bagi seniman dan konten kreator digital untuk memasarkan karyanya.

Namun, NFT juga membuka peluang besar bagi para pemilik kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) untuk mengakses pasar NFT melalui IP yang mereka miliki. Studio-studio video game merupakan salah satu pemegang IP populer yang tertarik dengan dengan pemanfaatan NFT.

Bagaimana NFT menghasilkan cuan

interface Trading virtual item NFT
Tampilan layar Dmarket.com, salah satu situs untuk trading virtual item NFT. Screen capture, dmarket.com, 31 Maret 2022

Pengembang, misalnya, tidak lagi mengandalkan keuntungan dari penjualan gim semata namun juga melalui penjualan akses berlanggananan bulanan dan konten item (barang virtual) premium dalam permainan mereka.

Virtual item ini adalah obyek digital yang dapat meningkatkan estetika permainan maupun memberikan keunggulan dalam bermain bagi pembelinya. Jika teknologi NFT diterapkan dalam monetisasi gim, maka kemungkinan besar implementasinya masuk dalam kategori penjualan virtual item premium.

Teknologi NFT memungkinkan studio untuk menambahkan sertifikat pada obyek digital dalam permainan. Obyek digital yang dimaksud misalnya adalah tampilan pemain (character skin), binatang peliharaan (pets) atau berbagai aksesoris unik.

Hal ini memberi jalan bagi obyek digital pada satu gim untuk dikenali oleh gim lain, sehingga dapat digunakan oleh pemiliknya pada lebih dari satu gim atau melalui metaverse. Selain itu, obyek digital yang sudah bersertifikat pada satu gim juga dapat diperdagangkan dalam pasar NFT secara umum.

Obyek digital bersertifikat pada gim akan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi pemilik IP untuk menjual produk NFT. Hal ini karena industri gim erat dengan fandom atau basis penggemar yang sangat loyal dengan IP gim tertentu. Anggota fandom ini bahkan bersedia mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli suvenir resmi (merchandise) dari gim yang mereka gemari.

Sebagai contoh, Nintendo memiliki toko resmi yang menjual berbagai suvenir resmi dari berbagai gim yang mereka miliki. Gim simulasi Animal Crossing, salah satu IP milik Nintendo yang memiliki fandom setia, memiliki berbagai suvenir resmi yang diperdagangkan di toko tersebut dengan harga berkisar dari US$9,99 hingga US$110,00 (sekitar Rp14.800 hingga Rp.162.800).

Gamefi dan produktivitas alternatif

Axie Infinity merupakan salah satu gim populer yang mengintegrasikan NFT dalam permainannya. Facebook Axie Infinity

Integrasi NFT dalam gim memungkinkan praktik “gamefi” atau kegiatan menghasilkan uang dari bermain gim.

Konsep gamefi, atau disebut juga play-to-earn, memiliki peluang untuk menciptakan produktivitas serta lapangan pekerjaan alternatif. Di tengah situasi ekonomi yang sulit dan keterbatasan lapangan pekerjaan, gamefi memberikan ruang baru bagi masyarakat untuk bertahan hidup.

Sebagai contoh, gim asal Vietnam, Axie Infinity, mendapatkan pendanaan yang cukup besar dari pemodal ventura Silicon Valley terkenal Andreessen Horowitz karena dianggap memiliki dampak yang cukup besar bagi ekonomi.

Dalam Axie Infinity, pemain dapat mengembangkan, memainkan, dan memperdagangkan karakter NFT yang dimiliki sebagai bentuk investasi. Lewat model ini, angkatan kerja produktif dapat menghasilkan pendapatan tambahan di luar sumber mata pencaharian utamanya. Sebagai contoh, di Filipina, seorang anak muda yang bekerja sebagai petani di kota kecil dapat menghasilkan tambahan US$2.000 (Rp 2,68 juta) setiap bulannya, untuk membantu meringankan beban hidup di tengah sulitnya mencari pekerjaan lain di daerah tersebut.

Industri gamefi juga dapat menjadi pintu gerbang bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses finansial di bank konvensional. Sekitar 40% dari pemain Axie Infinity berasal dari Filipina dengan mayoritas adalah masyarakat berpendapatan rendah. Berdasarkan klaim Sky Mavis, di Filipina, 25% dari pemainnya belum pernah memiliki rekening bank dan dompet digital AxieWallet justru menjadi pintu pertama untuk akses jasa finansial.

Indonesia juga memiliki potensi ini dari gim yang dibangun oleh anak-anak muda lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, SMC Game Guild. SMC dibangun tahun 2021 dan memiliki lebih dari 70 anggota pemain yang dipilih melalui seleksi. Mereka yang terpilih akan memperoleh pinjaman berupa aset NFT dalam gim dan terlibat di banyak gamefi.

Peluang ekonomi dan terciptanya lapangan kerja alternatif ini tentunya berpotensi untuk memberikan sumber pemasukan baru bagi negara. Pemerintah dan pemangku kepentingan lain dapat berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat, berkelanjutan, dan bermanfaat.


Read more: Serial NFT dalam _video games_: Monetisasi agresif pengembang bisa rugikan _gamer_, pemerintah perlu siapkan regulasi (2)


Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 148,500 academics and researchers from 4,413 institutions.

Register now