Siapa menghindari seks, dan mengapa?

Riset-riset mengungkapkan masalah kesehatan menjadi alasan utama mengapa orang, perempuan atau laki-laki, menghindari seks. Shutterstock

Seks memiliki pengaruh besar pada banyak aspek kesejahteraan manusia: ia adalah salah satu dari kebutuhan psikologis kita yang paling dasar. Seks meneguhkan identitas kita dan elemen inti dari kehidupan sosial kita.

Tetapi jutaan orang menempuh suatu periode di kehidupan dewasa mereka tanpa berhubungan seks. Menghindari seks bisa menyebabkan tekanan emosional, rasa malu, dan rasa rendah diri—baik bagi yang menghindari seks maupun pasangan yang ditolaknya.

Masyarakat kita banyak memusatkan perhatian tentang hubungan seks, tapi kita tidak tahu banyak soal ketiadaan hubungan seks.

Sebagai peneliti perilaku manusia yang tertarik akan bagaimana seks dan gender berinteraksi, saya menemukan bahwa menghindari seks mempengaruhi banyak aspek dari kesejahteraan kita. Saya juga menemukan orang-orang menghindari seks karena berbagai alasan, dan beberapa di antaranya mudah ditangani.

Lebih sering lebih baik?

Orang yang lebih sering berhubungan seks mencatat kepercayaan diri, kepuasan hidup, dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Sebaliknya, jarang berhubungan seks dan menghindari seks dikaitkan dengan tekanan psikologis, kecemasan, depresi, dan masalah hubungan.

Dalam karyanya yang penting, Alfred Kinsey menemukan hingga 19% orang dewasa tidak berhubungan seks. Gender dan status pernikahannya bervariasi, dan angkanya menunjukkan hampir tak ada laki-laki menikah yang tidak berhubungan seks untuk waktu yang lama.

Riset lain juga menunjukkan perempuan lebih lazim menghindari seks daripada laki-laki. Bahkan hingga 40% perempuan pernah menghindari seks dalam hidupnya. Rasa sakit ketika berhubungan seks dan libido rendah adalah masalah terbesar mereka.

Perbedaan angka antargender sudah dimulai sejak dini. Lebih banyak remaja perempuan ketimbang remaja laki-laki yang tidak berhubungan seks.

Perempuan juga lebih mungkin menghindari seks karena kekerasan seksual semasa kecil. Wanita hamil menghindari seks karena khawatir keguguran atau memang tidak ingin dan kelelahan.

Alasan paling umum bagi laki-laki yang menghindari seks adalah disfungsi ereksi, kondisi medis yang kronis, dan kurangnya kesempatan.

Masalah kesehatan alasan utama

Riset kami dan riset lain menunjukkan, masalah kesehatan adalah alasan utama menghindari seks—baik bagi perempuan dan laki-laki.

Misalnya, pasien penyakit jantung kerap menghindari seks karena khawatir terkena serangan jantung. Riset lain mengungkapkan hal yang sama terjadi pada orang dengan cerebrovascular (gangguan aliran darah ke otak), seperti stroke.

Rasa sakit kronis mengurangi kenikmatan hubungan seksual dan secara langsung mengganggu karena membatasi posisi. Depresi dan stres yang diakibatkan rasa sakit juga bisa menghalangi, begitu juga pengobatan rasa sakit kronis.

Kondisi metabolis seperti diabetes dan obesitas juga mengganggu kegiatan seksual. Bahkan, diabetes mempercepat senjakala seksual laki-laki hingga 15 tahun. Massa tubuh yang besar dan ketidakpercayaan diri akan bentuk tubuh bisa merusak keintiman, yang adalah kunci dari seberapa besar peluang berhubungan seks.

Gangguan kepribadian, kecanduan dan penyalahgunaan obat-obatan, dan buruknya kualitas tidur semua berperan besar pada ketertarikan dan kemampuan seksual.

Banyak pengobatan, seperti obat anti-depresi dan anti-kecemasan, mengurangi libido dan kegiatan seksual, dan, hasilnya, meningkatkan kemungkinan seseorang menghindari seks.

Terakhir, rendahnya testosteron pada laki-laki dan rendahnya dopamin dan serotonin pada perempuan dan laki-laki juga bisa berperan.

Faktor sosial dan emosional—dan konsekuensinya

Bagi kedua gender, kesepian bisa memperpendek waktu yang dihabiskan seseorang bersama orang lain dan kemudian kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dan juga berpengaruh pada keintiman. Orang yang kesepian terkadang menggantikan hubungan seksual dengan pornografi. Ini penting karena pornografi bisa secara negatif mempengaruhi kinerja seks secara jangka panjang.

Banyak orang setengah baya tidak lagi berhubungan seks karena malu dan merasa bersalah atau bisa jadi karena merasa “terlalu tua untuk seks”. Tetapi, anggapan orang setengah baya tidak ingin berhubungan seks adalah salah.

Apa solusinya?

Hanya sedikit orang membicarakan masalah seksual mereka pada dokternya. Data di AS mengungkapkan bahwa paling tidak separuh dari kunjungan dokter tidak membahas masalah seks.

Rasa malu, faktor kultural dan agama, dan terbatasnya waktu bisa menghalangi dokter untuk bertanya tentang kehidupan seks pasien mereka. Beberapa dokter merasa menyentuh masalah seks menciptakan kedekatan yang berlebihan dengan pasiennya. Yang lain berpikir membicarakan seks akan membuat konsultasi jadi panjang.

Namun, meski beberapa dokter mungkin ragu bertanya soal seks pada pasiennya, riset menunjukkan bahwa pasien sepertinya mau menjawab jika ditanya. Ini artinya masalah seksual mereka tidak akan ditangani kecuali sang dokter yang bertanya duluan.

Pasien bisa mengambil manfaat dari sedikit bantuan. Misalnya, pasien arthritis dan sakit punggung bagian bawah membutuhkan informasi dan nasihat dari tenaga kesehatan tentang posisi hubungan seksual yang tidak membikin sakit.

Budaya “Tidak usah tanya, tidak usah beri tahu” harusnya diubah menjadi “Silakan tanya, silakan beri tahu”.

Penting untuk berkonsultasi tentang masalah seks Anda pada dokter. Branislav Nenin/www.shutterstock.com

This article was originally published in English