Menu Close

Tahun ketiga pandemi COVID-19: mengapa sistem kesehatan kita perlu perubahan besar

Tahun ketiga pandemi COVID-19: mengapa sistem kesehatan kita perlu perubahan besar.

Pandemi COVID-19 di Indonesia pekan ini memasuki tahun ketiga dan belum ada tanda bahwa penyebaran pepenyakit global ini akan segera berakhir. Artinya kita tetap perlu menerapkan protokol kesehatan dan terus meningkatkan cakupan vaksinasi.

Dalam dua tahun terakhir, gelombang penularan lebih banyak dipicu varian delta setelah libur panjang (libur Idul Fitri 2021) dan kini varian omicron sejak pasca libur akhir tahun lalu. Apakah pola seperti ini berulang? Kita belum tahu jawabannya secara pasti karena pola tersebut baru berjalan dua tahun saat cakupan vaksinasi masih rendah.

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo pertama kali mengumumkan ada dua kasus positif COVID di negeri ini. Setelah dua tahun, 5,6 juta orang telah terinfeksi COVID dan 149 ribu di antaranya meninggal. Di level dunia, lebih dari 430 juta orang telah terinfeksi dan 5,9 juta yang meninggal. Jumlah ini terus meningkat.

Di Indonesia, upaya pengendalian melalui vaksinasi menunjukkan angka menggembirakan, walau pada tahap awal banyak yang skeptis. Vaksinasi tahap pertama per hari ini telah mencapai 91 persen (190 juta) dari target 208 juta penduduk yang akan divaksin. Vaksin tahap kedua baru 69 persen (144 juta). Dosis ketiga masih di bawah 5 persen (sekitar 10 juta). Varian omicron telah membuat vaksinasi makin relevan karena vaksinasi mampu mengurangi level keparahan pasien yang terinfeksi.

Lalu, belajar dari kegagalan dan keberhasilan pengendalian pandemi, bagaimana strategi memperkuat sistem kesehatan kita agar tahan terhadap serangan pandemi pada masa depan?

Untuk menjawabnya, pada episode podcast SuarAkademai kali ini, kami berbicara dengan Teguh Haryo Sasongko, peneliti The Cochrane Collaboration dan Associate Professor, Royal College of Surgeons in Ireland (RCSI) School of Medicine, Perdana University Malaysia. Dia banyak menulis artikel COVID-19 selama pandemi.

Teguh menjelaskan dinamika kebijakan selama pandemi antara kesehatan dan ekonomi, implementasi sains dalam kebijakan, dan pentingnya Indonesia bisa segera memproduksi vaksin sendiri, dan desakan untuk memperkuat sistem kesehatan.

Simak lengkapnya di SuarAkademia – ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 148,200 academics and researchers from 4,405 institutions.

Register now