Menu Close

Tak hanya nasionalisme dan religiositas, budaya sekolah kunci sesungguhnya dari pendidikan karakter: begini cara memupuknya

(ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Sejak lama, Indonesia menyerukan pentingnya pendidikan karakter.

Indonesia memiliki Peraturan Presiden tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Aspek ini juga masuk dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang digagas Kementerian Pendidikan (Kemendkbud-Ristek) untuk menggantikan Ujian Nasional (UN).

Namun, saat membicarakan pendidikan karakter, kita sering bertumpu pada dimensi nasionalisme dan religiositas saja.

Prioritas sekolah yang menggebu-gebu pada kedua hal tersebut dapat mengabaikan aspek lain yang mempunyai kaitan lebih erat dengan pendidikan karakter – yakni budaya sekolah sebagai organisasi akademis penentu kinerja pembelajaran – yang di Indonesia kualitasnya masih buruk.

Kemendikbud-Ristek melalui Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter juga mengamanatkan bahwa pendidikan karakter tak boleh lepas dari penguatan lingkungan dan nuansa akademis.

Budaya organisasi, dalam hal ini budaya sekolah, mempunyai pengaruh besar dalam menuntun warga sekolah melalui norma, nilai, dan rutinitas yang membangun perilaku sosial dan perangai intelektual mereka.

Ini dapat berupa sikap disiplin, tanggung jawab dan integritas, kegemaran membaca dan rasa ingin tahu yang kuat, kepedulian lingkungan maupun sosial, hingga semangat toleransi dan demokrasi.

Lalu, bagaimana cara membangun budaya sekolah yang kuat?

Kepala sekolah sebagai nakhoda

Budaya organisasi dapat berkembang berkat adanya orang hebat dan figur pemimpin yang membangun dan merawatnya. Di sekolah, kepala sekolah harus memegang peran kunci tersebut.

Sayangnya, penelitian yang dilakukan SMERU Research Institute pada tahun 2020 menemukan hanya 20% kepala sekolah yang berupaya meningkatkan kualitas akademis murid melalui perbaikan budaya pembelajaran.

Mayoritas kepala sekolah lebih tertarik untuk menetapkan indikator keberhasilan berupa meluluskan murid kelas 6 dengan nilai baik.

Lembaga konsultan manajemen di bidang kepemimpinan, Next Leader, menawarkan panduan bagaimana membangun budaya di suatu organisasi. Ini dimulai dengan merumuskan visi dan misi secara jelas, mengembangkan nilai organisasi sebagai patokan perilaku warganya, menjalin komunikasi yang efektif, dan melakukan penilaian kinerja secara berkala.

Jika strategi ini diterapkan di lingkungan sekolah, maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Pertama, para pemangku kepentingan sekolah perlu duduk bersama untuk menetapkan visi yang ingin dicapai dan misi yang harus dikerjakan.

Budaya sekolah yang kuat tidak terlahir dan berkembang dengan sendirinya. Ia dibangun dengan desain tertentu melalui kepemimpinan kepala sekolah selama bertahun-tahun.

Sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat (AS) yang mengamati sekitar 100 sekolah menemukan bahwa sekolah berkinerja tinggi memiliki visi dan misi organisasi yang fokus pada keberhasilan akademis dengan menyediakan lingkungan belajar yang menantang.

Kedua, sekolah perlu merumuskan patokan sikap dan perilaku yang terukur berdasarkan visi yang sudah ditetapkan.

Ini dapat berupa kewajiban bagi warga sekolah untuk saling menyapa dengan ramah. Karakter ini ditanamkan tidak hanya bagi murid untuk menghormati guru, tapi juga bagi guru terhadap murid dan wali murid.

Dalam aspek pembelajaran, guru juga bisa menanamkan budaya pembelajaran yang selalu terbuka dengan dialog dan perdebatan akademis sehingga memupuk daya kritis murid.

Ketiga, kepala sekolah harus mampu mengomunikasikan standar karakter dan perilaku tersebut secara efektif agar semua warga sekolah benar-benar melaksanakannya dengan konsisten.

Kepala sekolah dan guru tentu harus tampil terdepan sebagai contoh yang menjalankan standar sikap dan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, kepala sekolah perlu mengevaluasi secara berkala berbagai praktik tersebut untuk menjaga kelangsungan budaya sekolah.

Budaya sekolah harus partisipatif dan inklusif

Budaya suatu organisasi tercipta dalam waktu yang panjang dan tidak tumbuh di ruang hampa.

Pembentuk utama budaya organisasi bersumber dari masyarakat sekitar yang dibawa masuk ke tempat tersebut oleh anggotanya – misalnya wali murid yang terlibat di sekolah karena ada anak mereka.

Berbagai regulasi pemerintah, khususnya di bidang pendidikan, juga turut membentuk budaya sekolah.

Menurut penelitian yang sama di Texas, AS, misalnya, misi suatu sekolah hanya akan efektif apabila memasukkan unsur kemitraan dengan orang tua dan masyarakat supaya tidak hanya tinggal di atas kertas.

Dengan kekuatan kemitraan itu, kepala sekolah, guru, dan murid dapat didorong untuk benar-benar melaksanakannya.

Studi lain yang menginvestigasi lebih dari 300 sekolah di Victoria, Australia, menunjukkan perlunya sekolah menelaah visi dan misi secara teratur, agar selalu sesuai dengan kebutuhan murid dan perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Visi dan misi sekolah harus disusun secara kolektif bersama berbagai pihak – orang akan lebih berkomitmen menjalankan suatu pernyataan apabila mereka ikut merumuskannya. Ini juga berarti visi dan misi sekolah tidak boleh diseragamkan secara nasional dan harus disesuaikan dengan konteks lokal.

Tidak hanya bersifat partisipatif, budaya sekolah juga perlu bersifat inklusif.

Bahasa, sebagai representasi budaya masyarakat yang menuntun jalan pikiran penuturnya, misalnya, sangat menentukan keterlibatan guru dan murid dalam menjunjung budaya sekolah.

Mayoritas penduduk Indonesia berbicara menggunakan bahasa Ibu (biasanya bahasa daerah mereka), bukan bahasa Indonesia.

Kajian tahun 2019 yang dilakukan INOVASI, suatu kemitraan Indonesia-Australia, menemukan bahwa banyak murid, terutama di jenjang bawah tidak paham ketika guru berbicara dalam bahasa Indonesia.

Akibatnya, banyak dari mereka tidak hanya tertinggal dalam pembelajaran dan harus mengulang jenjangnya, tapi juga kesulitan mengikuti berbagai program dan gagasan yang dibuat sekolah sebagai bagian dari budaya sekolah.

Ini semakin menekankan bahwa budaya sekolah – termasuk bahasa yang digunakan – harus sensitif terhadap konteks lokal.

Ini juga menunjukkan bagaimana budaya sekolah, pengembangan karakter dan capaian akademik mempunyai pengaruh yang saling terhubung dan berkelindan.

Dengan arahan kepala sekolah, beserta dukungan dari semua pemangku kepentingan pendidikan, sekolah di Indonesia harus mulai membangun dan merawat budaya organisasi dalam institusi mereka masing-masing. Pada gilirannya, budaya sekolah diharapkan mampu berperan sebagai fondasi yang mewarnai karakter dan intelektualitas murid.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 148,200 academics and researchers from 4,405 institutions.

Register now