Menu Close
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) karya Wes Cockx yang menggambarkan visualisasi model bahasa yang menghasilkan teks. Pexels/Google Deepmind

Teknologi dan resistensi: kisah anti-mobil hingga AI

Artikel ini adalah bagian dari serial #KenapaTakutAI?#

Teknologi, sebagai kekuatan pengubah sejarah, secara konstan memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan kita. Namun di setiap titik perubahan, sering kali kita dihantui oleh keraguan, rasa takut, dan penolakan.

Kisah resistensi itu bisa kita lacak, misalnya, dari munculnya mobil, internet hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Momen-momen keresahan itu berperan sebagai tonggak-tonggak sejarah manusia. Sebenarnya, resistensi dan kekhawatiran muncul sebagai respons alamiah terhadap perubahan yang tidak dapat dihindari.

Satu riset menunjukkan internet komersial, yang dulu dikhawatirkan pada awal kemunculannya, telah menciptakan 17 juta pekerjaan baru di seluruh dunia antara 2016 dan 2021.

Mari kita lihat beberapa contoh inovasi teknologi lainnya yang selalu diawali dengan rasa takut tapi akhirnya mendorong kemajuan peradaban umat manusia.

Dari mobil hingga komputer

Dengan merujuk pada era penemuan otomotif, saat mobil komersial pertama kali diciptakan pada akhir abad ke-19, negara-negara di seluruh dunia dipenuhi dengan kegelisahan, yang berakibat pada pengetatan regulasi.

Inggris pada akhir abad ke-19, misalnya, membuat Locomotives on Highways Act 1896. Undang-undang ini membatasi kecepatan dan mewajibkan mobil di jalanan didahului oleh pejalan kaki yang membawa bendera merah sebagai tanda peringatan. Hal itu mencerminkan kekhawatiran masyarakat bahwa inovasi baru dapat mengganggu gaya hidup tradisional, memengaruhi pekerjaan lama seperti tukang becak dan kusir kereta kuda.

Lebih lanjut, ketika komputer personal (personal computer) dikomersialisasikan pada akhir 1970-an, banyak publikasi paper pada 1980-an sampai 1990-an yang membahas tentang computerphobia. Beberapa kelompok masyarakat khawatir dan beranggapan bahwa teknologi ini merupakan monster mekanik, berpotensi menciptakan manusia yang malas dan tergantung pada teknologi untuk melakukan perhitungan dasar.

Namun, sebaliknya, teknologi ini justru memfasilitasi kemajuan ilmu pengetahuan. Kemampuan komputer menyelesaikan perhitungan yang kompleks dengan cepat dan akurat membuat ilmuwan bisa menghasilkan penemuan baru ataupun merancang solusi yang lebih inovatif.

Selain itu, teknologi ini membantu meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Ini memungkinkan kita untuk fokus pada tugas-tugas yang lebih memerlukan keterampilan manusia seperti kreativitas dan analisis.

Grace Murray Hopper, seorang ilmuwan komputer Amerika Serikat (AS) yang bekerja di the Office of Naval Reserve (ONR) - organisasi di Departemen Angkatan Laut AS yang bertanggung jawab atas program ilmu pengetahuan dan teknologi dari Angkatan Laut AS - memiliki peran penting dalam perkembangan komputer generasi awal dengan penemuan kompiler. Kompiler adalah alat yang mengubah kode pemrograman, menjadi kode mesin yang dapat dijalankan oleh komputer.

Melalui pengembangan kompiler, Hopper membuka akses pemrograman kepada masyarakat luas dan membuktikan bahwa komputer bukanlah teknologi yang harus ditakuti. Sebaliknya, komputer dapat memberikan nilai besar untuk bisnis, pendidikan, dan bidang lainnya.

Era AI: kekhawatiran versus masa depan

Hari ini, kita menghadapi lonjakan teknologi serupa dalam bentuk AI. Seperti teknologi sebelumnya, AI juga memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia dan meningkatkan pengangguran.

Namun, pandangan ini terlalu sederhana.

AI, dengan kemampuannya untuk mengambil alih tugas-tugas rutin dan berulang, sebenarnya membebaskan manusia untuk lebih fokus pada pekerjaan yang memerlukan keterampilan kreatif, pemecahan masalah, dan interpersonal.

Misalnya, dokter bisa memanfaatkan AI untuk diagnosis penyakit dan merancang rencana perawatan yang lebih personal. Sementara guru bisa memanfaatkan AI untuk personalisasi pembelajaran dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.


Read more: Manfaat AI untuk diagnosis radiologi medis, berapa akurasi dan apa masalah di baliknya?


Sejauh ini, penelitian menunjukkan bahwa AI cenderung mengubah pekerjaan daripada menggantikannya. Artinya, peran AI lebih banyak mengubah cara kita bekerja daripada menggantikan pekerjaan manusia.

Meskipun AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas tertentu di satu pekerjaan, pekerjaan tersebut secara umum tetap memerlukan sentuhan manusia dan pemikiran kreatif yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh AI.

Contohnya, akuntan bisa menggunakan AI untuk memprediksi mengenai adanya potensi kecurangan, tapi pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh AI. Keahlian dan pengetahuan akuntan tetap diperlukan.

Selain itu, seperti teknologi sebelumnya, AI juga berpotensi menciptakan banyak pekerjaan baru yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Namun, untuk menghadapi era AI ini, kita perlu pendekatan yang berbasis pada pendidikan dan pemahaman, bukan rasa takut. Kita perlu melihat AI sebagai alat yang dapat membantu kita, bukan sebagai ancaman.

Melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat, kita dapat mempersiapkan diri dan generasi mendatang untuk era AI. Selain itu, kita juga perlu memastikan bahwa AI dikembangkan dan digunakan dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.

Dengan melibatkan manusia dalam proses pengambilan keputusan, kita dapat memastikan bahwa AI digunakan untuk kebaikan, bukan sebaliknya.


Read more: Penggunaan ChatGPT tak perlu dilarang: layanan AI bisa mendukung riset dan pendidikan


Peluang kerja dan ekonomi baru

Sejarah menunjukkan bahwa mobil bukan hanya memfasilitasi pergerakan penduduk dan meningkatkan akses geografis. Mobil juga membuka peluang kerja baru dalam industri otomotif dan terkait. Bidang pekerjaan ini beragam, mulai dari insinyur otomotif, teknisi perawatan, hingga peran dalam penjualan dan pemasaran mobil.

Oleh karena itu, inovasi ini tidak hanya merombak cara kita bergerak, tapi juga mengubah struktur ekonomi kita.

Industri otomotif merupakan sektor ekonomi terbesar dan paling penting di dunia. Di Eropa, misalnya, data pada 2023 menunjukkan bahwa sektor otomotif menyerap tenaga kerja sebanyak 13 juta orang di Eropa (secara langsung dan tidak langsung). Ini mencakup 7% dari total pekerjaan di Uni Eropa.

Sekitar 11,5% dari total pekerjaan di sektor manufaktur Uni Eropa–sekitar 3,4 juta–berada di sektor otomotif. Lapangan kerja ini mencakup berbagai bidang, mulai dari perakitan dan manufaktur hingga penjualan, pemasaran, dan perawatan.

Komputer dan internet juga telah memengaruhi hampir setiap aspek ekonomi dan menciptakan jutaan pekerjaan baru di teknologi informasi (TI).

Misalnya, sepanjang sepuluh tahun terakhir, jumlah pekerjaan di sektor TI di AS terus meningkat. Meskipun ada penurunan signifikan dalam jumlah tenaga kerja TI pada 2020, angka tersebut melampaui 3 juta mulai April 2022 dan mencapai puncaknya hampir 3,12 juta pekerja pada Januari 2023.

Dalam kurun waktu 1990 hingga 2010, lembaga konsultan bisnis McKinsey menyatakan bahwa internet mengakibatkan punahnya 500 ribu pekerjaan, tapi pada saat yang sama internet juga menciptakan 1,2 juta pekerjaan baru.

Dengan demikian, ketakutan awal terhadap internet, termasuk isu privasi dan isolasi sosial, ternyata tidak sebanding dengan manfaatnya.

Internet juga memfasilitasi pertumbuhan e-commerce, dengan penjualan global mencapai $5.89 triliun (hampir Rp90 ribu triliun) pada 2023. Komunikasi dan kolaborasi juga lebih mudah dan efisien berkat fitur seperti email dan video call.

Komputer dan internet memfasilitasi kerja jarak jauh, memberikan fleksibilitas dan memperluas peluang bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat-pusat pekerjaan. Selain itu, komputer juga telah membuka lapangan kerja baru dalam bidang seperti analisis data, analis keamanan siber, dan arsitek komputasi awan.

Meski ada tantangan dan risiko, dengan pemahaman dan regulasi yang tepat, kita dapat memanfaatkan potensi internet, termasuk AI, sambil memitigasi risikonya.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah kita harus menerima teknologi baru seperti AI atau tidak, tapi bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi ini untuk kebaikan kita.

Dengan pendidikan, pelatihan, dan regulasi yang tepat, kita dapat memastikan bahwa umat manusia tidak hanya bisa bertahan dalam era digital ini, tapi juga berkembang dan maju.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 184,000 academics and researchers from 4,967 institutions.

Register now